HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Koma


__ADS_3

“Bagaimana keadaan putri saya dok?”


“Bagaimana keadaan istri saya dok?”


“Bagaimana keadaan bunda Chila dokter?”


Tanya ketiganya bersamaan, saat seorang dokter keluar dari ruang persalinan. Wajah dokter itu sedikit tersenyum, namun entah mengapa malah membuat hati papa Tian gelisah dan takut tak menentu.


“Ibu Anna sudah melahirkan, putra nya laki-laki dengan berat 2,9kg dan panjang 54cm. Kondisi bayinya baik dan sehat—“ ucap Dokter membuat hati Rasya dan Chila sedikit lega, namun tidak dengan papa Tian, ia masih menunggu lanjutan ucapan dokter, hatinya masih tidak tenang.


“Untuk ibu Anna, maafkan saya—“

__ADS_1


“Jangan minta maaf!” sentak papa Tian seolah tidak menyukai kata kata yang di ucapkan oleh dokter. Kata kata itu seolah mengingatkan nya saat setelah Cristy melahirkan Anna.


‘Tidak, Anna tidak boleh kenapa-kenapa. Jangan Cristy, jangan bawa anakku, aku mohon, jangan bawa Anna. Cristy aku mohon,’ jerit Tian menangis dalam hatinya.


“Tenang dulu Pak, setelah bayi keluar, ternyata plasenta nya tidak mau keluar. Ibu Anna mengalami retensio plasenta. Hingga membuatnya pendarahan. Kami sudah melakukan suntikan Oxitosin dua kali, untuk mengeluarkan plasenta nya. Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi—“


“Tapi apa Dok? Cepat katakan bagaimana keadaan putri saya!” teriak papa Tian seolah seperti orang kerasukan, dimana membuat Chila semakin merasa takut karena ini untuk pertama kalinya ia melihat sosok opa Tian yang begitu lembut terlihat begitu marah.


****


Sudah terhitung sepekan setelah Anna di nyatakan koma, papa Tian dan juga Rasya masih saling diam. Berada di ruangan yang sama, namun tidak ada yang saling berucap. Keduanya masih sama sama di liputi rasa bersalah.

__ADS_1


“Papa, maafin Rasya.” Untuk pertama kalinya setelah sepekan, Rasya baru membuka mulut dan menghampiri papa mertuanya.


“Papa sangat ingin menghajar mu Ras, kamu sudah membuat putriku seperti ini.” desis papa Tian memejamkan matanya erat, tangan nya sudah mengepal dengan kuat, namun ia tidak bisa melakukan itu.


“Bila itu memang bisa membuat papa lega, lakukan Pa, ini memang kesalahan Rasya, maafin Rasya.”


“Sudahlah, ini memang sudah jalan nya. Mau aku membunuh mu sekalipun, putriku belum tentu akan bangun.” Kata papa Tian tak acuh, ia kembali meninggalkan Rasya dan menghampiri putrinya yang masih tertidur pulas dengan beberapa selang yang terpasang di tubuh nya.


Selama sepekan ini, Rasya dan Tian yang selalu bergantian menjaga Anna. Sementara Chila, ia berada di rumah bersama Michele dan adik adiknya. Ya, bayi Anna sudah di perbolehkan pulang karena memang sehat dan tanpa kurang apapun, meski ia lahir di usia tiga puluh minggu namun bayi itu sangat sehat. Maka dari itu, akhirnya Michele yang merawat anaknya bersama Chila, terlebih Michele juga masih menyusui jadi ia sekalian memberikan asi untuk bayi Anna dan Rasya.


Rasya tidak keberatan, karena memang ia percaya dengan Aldi dan juga Michele. Dulu saat Chila bayi, ia juga banyak menghabiskan waktu bersama Michele, bila dulu Michele yang masih anak anak bisa merawat Chila. Bagaimana sekarang yang dimana ia juga sudah memiliki seorang putra, tentu saja wanita itu akan lebih hati hati dan bertanggung jawab.

__ADS_1


Terkadang, sepulang sekolah, Chila juga akan datang mengunjungi rumah sakit untuk mengunjungi bunda Anna, mendoakan dan bercerita sedikit baru ia akan pulang dan bermain dengan dua adik bayinya.


__ADS_2