HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Pelukan om Mike


__ADS_3

Selesai mandi dan sholat, masih mengenakan mukena nya, Chila memilih untuk menunggu Isya’ dengan duduk di balkon sebelah kamar nya. Kamar itu dulunya milik mama Michele, namun bila ia menginap di sana, dialah yang meniduri nya karena mama Michele lebih memilih tidur di kamar bekas oma Crystal dan opa Farel yang lebih besar. Sementara kedua orang tua Michele karena sudah tua mereka memilih pindah ke kamar yang berada di lantai satu.


“Huuffttt!” Berulang kali Chila menghela nafas nya dengan berat. Matanya menatap sayu pada langit yang sudah mulai terlihat gelap. Namun belum ada bintang atau bulan yang terlihat.


Acara ulang tahun adik Faaz sudah usai, hanya tinggal beberapa kerabat saja yang ada di sana untuk mengobrol dan temu kangen. Ternyata begitu banyak tamu yang datang dari pihak keluarga opa Farel.


Bila sudah berkumpul seluruh keluarga besar, Chila merasa sangat asing karena memang ia tidak mengenal banyak orang.


“Sholat, bukan melamun!” cetus Mike yang melihat Chila malah termenung dengan menyandarkan dagu nya pada tralis balkon.


“Om duluan aja, Chila bentar lagi.” Gumam nya tanpa menatap ke arah Mike. Ia masih asik dengan lamunan nya, hingga tiba tiba ia merasa bahwa mukena nya di tarik oleh seseorang.

__ADS_1


“Wudhu lagi sana, aku tunggu!” ucap Mike tiba tiba dan langsung pergi begitu saja.


“Nyebelin!” Chila menghentakkan kaki nya ke lantai, memanyunkan bibir dengan kesal, menggerutu namun tetap berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu kembali.


Sholat kali ini, Chila tidak sendiri atau di imam in oleh papa Aldi atau oma farel. Tapi kini ia di imam’in oleh om Mike. Andai perasaan Chila sedang seperti biasa, tentu ia akan merasa sangat bahagia, namun kini suasana hatinya sedang tak baik baik saja, sejak dirinya mendengar kabar duka dari mami Renata tentang oma Susy membuat mood nya berubah menjadi sangat buruk.


Cukup lama Chila berdoa bahkan, Mike sampai mendengar isak tangis di belakang nya. Namun lelaki remaja itu hanya diam tanpa menoleh ke belakang. Ia memberikan waktu kepada Chila agar menuntaskan keluh kesah nya.


“Udah selesai nangis nya?” ucap Mike malah balik bertanya sambil melepaskan sarung nya.


“Ihh, Chila kan gak nangis Om. Cuma—“

__ADS_1


“Cuma apa? Sedih?” tebak Mike yang mampu membuat Chila langsung terdiam, “Chila, setiap manusia yang hidup, pasti akan pergi. Apa kamu yakin sudah memaafkan oma kamu?” tanya Mike seolah tahu tentang apa yang di pikirkan Chila sejak tadi.


“Chila gak tau Om, Chila hiks hiks hiks.” Seketika tangis Chila tumpah. Mike yang awalnya hendak pergi, mengurungkan niat dan kembali duduk lagi di depan Chila.


“Chila mau jadi anak baik dan penurut. Tapi hiks hiks, Chila berusaha tidak sakit hati tapi hiks hiks tapi dada Chila sedikit sesek Om, Chila gak berani bilang sama Ayah, Chila gak mau buat ayah sedih. Chila gak mau buat mami juga sedih, Chila gak mau buat Mami sakit lagi, Chila hiks hiks.”


“SSshhhtttt!” dengan cepat, Mike segera menarik tubuh mungil Chila dan membawa nya ke pelukan nya. Mengusap pelan punggung kecil itu dengan sangat lembut dan hati-hati, “Tadi doa apa sama Allah? kan tadi udah nangis, udah dong."


“Chila, wajar manusia itu merasa sakit dan kecewa. Kamu sudah berusaha menjadi yang terbaik, tapi jangan di paksakan. Saat kamu merasa sakit katakan, saat sedih luapkan dan saat marah keluarkan. Jangan kamu pendam sendiri, itu hanya akan membuatmu semakin terluka.” Kata Mike berusaha menenangkan Chila, bukan tenang malah membuat anak yang baru menginjak usia hampir sembilan tahun itu semakin terisak.


“Astagfirullah Mike!” seru seorang gadis yang tiba tiba datang dan mengganggu kedekatan antara Mike dan Chila. Dengan cepat,Chila segera menjauhkan diri dari Mike dan menghapus air matanya, ia masih enggan menoleh ke belakang namun ia melihat wajah Mike yang tampak kini datar dan dingin.

__ADS_1


__ADS_2