
“Sayang ... buka dong pintu nya.” Rasya terus mengetuk pintu kamar sejak beberapa menit yang lalu, namun tetap saja, dua perempuan yang ada di dalam kamar itu, sama sekali tak mengizinkan nya masuk. Mereka masih mengunci pintu kamar seraya menonton drama dan memakan cemilan.
Frustasi, akhirnya Rasya menyerah, ia kembali ke ruang kerja nya dan melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda. Sementara itu, Anna yang tadinya fokus pada drama di televisi, kini matanya melirik ke arah Chila yang ternyata Sudah terlelap entah sejak kapan.
“Aduh, princess nya sudah tidur,” gumam Anna terkekeh pelan, ia lalu mengambil guling dan ia letakkan di sisi kiri Chila agar anak itu tidak jatuh, lalu memberikan nya selimut.
Setelah memastikan posisi Chila aman, Anna mengecup kening Chila sebentar lalu meninggalkan nya dan keluar kamar. Tujuan nya saat ini adalah ruang kerja, ia ingin menemui Rasya dan meminta penjelasan.
“Kakak ... “ Anna membuka pintu ruang kerja suaminya, namun ternyata orang nya tidak ada. Anna berusaha mencari ke beberapa tempat, hingga ternyata ia menemukan suaminya sedang bersama seseorang di depan pintu.
Anna tidak mau menguping atau menganggu, makanya Anna memilih pergi ke meja makan untuk mencari makanan. Ya, setelah merajuk dan menonton drama, ternyata ia kelaparan, dan kini, ia bagai melihat surga makanan saat di meja dapur menemukan beberapa bungkus makanan instan.
“Woaahhh, banyak banget!” gumam nya seolah baru melihat makanan tersebut.
__ADS_1
Memang ia, makanan instan sangat arang ia temui di rumah nya, maupun rumah suaminya. Dan kini, ia melihat begitu banyak tumpukan mie instan di sana, tentu saja membuat matanya langsung berbinar binar.
“Non Anna, jangan!” seru bibi saat melihat Anna hendak mengambil mie instan.
“iiihh bibi ngagetin aja sih!” kata Anna dengan kesal.
“Maaf Non i—ini milik Bibi, jangan ya non, tadi bibi mau beresin tapi perut bibi sakit. Jangan di ambil Non.”
“Yahh, bagi satu saja bi,” rengek Anna.
“Ya sudah kalau begitu, bibi masakin buat Anna. Anna tunggu di bangku deket kolam, kak Rasya gak akan tahu dan sisa nya cepet bibi masukin kamar bibi.” Kata Anna memberikan ide, namun malah membuat bibi semakin di liputi rasa takut.
“Ayolah bi ... “ rengek Anna yang memang sangat menginginkan makanan itu, bahkan membayangkan nya saja sudah mampu membuat nya menelan saliva.
__ADS_1
“Ayo apa?” tanya Rasya yang tiba tiba datang hingga membuat Anna dan bibi terkejut.
“Tu—tuan, maaf ... “
“Kakak ... satu,” pinta Anna menatap suaminya dengan mata berbinar.
“Apaan satu? Semalam masih kurang?” tanya Rasya dengan raut wajah datar nya.
“Ihhh, bukan itu!” seru Anna langsung memukul bahu suaminya, ia juga sempat melirik ke arah bibi yang terlihat menundukkan kepala nya.
“Lalu apa? Ayo kalau mau lagi,” kata Rasya lagi yang semakin membuat Anna kesal, lalu tanpa berkata lagi, ia memilih pergi begitu saja meninggalkan Rasya dan bibi di dapur.
“Jauhkan makanan itu Bi, sudah berapa kali saya bilang, jangan beli makanan seperti itu. Bibi bisa membeli jadi di luar kan bisa, jangan bawa makanan itu ke sini, bibi tau bagaimana Chila kan. Dan sekarang, istri saya ikut ikutan seperti Chila,” tegur Rasya sambil menghela nafas nya berat.
__ADS_1
“Ma—maaf Tuan, saya tadi—“
“Buang bi, atau kasih ke siapapun, jangan membeli nya lagi.” Kata Rasya lalu pergi.