HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Luka Chila


__ADS_3

Begitu sampai di rumah, Chila langsung turun dari mobil dan berlari pergi ke kamarnya dengan tangis sesegukan. Sementara Rasya, ia langsung menghubungi Diandra agar mengurus janji nya dengan klien tadi, ia lupa untuk memberitahu Sekretaris nya saat masih di sana. Karena fokus nya hanya pada Chila tadi. Tentu saja hal itu membuat Diandra sedikit kesal, lantaran bos nya bertindak sesuka hati. Bagaimana bisa, mereka datang berdua, tapi malah dirinya di tinggal dan harus mengurus pembatalan pertemuan itu.


Rasya berjalan menghampiri Chila, namun naas, pintu kamar itu sudah terkunci. Rasya hana mampu menghela nafas nya dengan dalam. Ia salah, harusnya ia tidak membentak Chila, walau sebenarnya memang itu bukan bentakan. Ia hanya khawatir dan panik melihat putri nya jatuh, bahkan lutut Chila juga belum di obati.


Tok, tok, tok ...


“Sayang, buka pintu nya dong?” panggil Rasya mengetuk pintu kamar Chila. Sudah hampir satu jam Chila mengurung diri di kamar nya, dan bisa Rasya lihat, naka nya itu sudah menyelesaikan sholat nya.


Cklek!


Chila membuka pintu kamar nya dengan wajah yang tertunduk. Begitulah Chila, saat dia menangis atau marah, maka ia akan mengunci diri di kamar, sholat dan berdoa. Baru setelah itu ia berani bertemu lagi dengan ayah nya.


“Sudah sholat nya?” tanya Rasya dan Chila membalasnya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


“Sudah berdoa nya?” tanya nya lagi dan lagi lagi membalas engan anggukan kepala.


“Lalu, apa masih marah sama Ayah, hem?” tanya Rasya begitu lembut, kini ia sudah duduk berjongkok dan mengusap rambut Chila.


“Chila minta maaf,” tutur Chila pelan, dengan mata yang kembali berkaca kaca.


Rasya yang melihat mimik wajah putrinya kembali bersedih, ia langsung menggendong tubuh Chila dan membawa nya ke kamar. Ia mendudukkan Chila di atas tempat tidur, lalu ia duduk berlutut di depan nya sambil tangan nya menggenggam tangan Chila.


“Sayang, tahu apa salah Chila?” tanya Rasya menatap wajah putri nya.


'Michele.' gumam Rasya dalam hati, namun ia tak mau terlihat marah lagi di depan putri nya, jadi ia berusaha menepis amarah nya lagi. Urusan Michele akan ia urus belakangan.


“Lalu?” tanya Rasya lagi.

__ADS_1


“Chila buat kotor baju Ayah,” cicit nya semakin pelan, Chila begitu merasa bersalah karena sudah mengotori pakaian sang ayah.


“Iya, Chila memang sudah mengotori Jas Ayah, tapi Chila tahu kenapa Ayah kaya tadi ke Chila tadi?” tanya Rasya, dan Chila hanya menggelengkan kepala nya.


“Chila tahu kan, ayah tidak bermaksud membentak Chila. Ayah sayang sama Chila, ayah tidak mungkin marah kalau hanya sebuah baju yang kotor,” jelas Rasya dengan menghela napas nya berat, “Tapi kamu lihat ini.” imbuhnya sambil menunjuk bekas luka nya yang sudah bersih, mungkin saat Chila mengambil air wudhu, ia sekaligus membersihkan nya.


Rasya bangkit dari tempat duduk nya, berjalan sedikit menuju meja yang tak jauh dari sana, mengambil kotak P3K untuk mengobati lutut Chila.


“Ayah tadi panik, ayah tidak marah dengan Chila. Hanya panik, ayah tidak mau putri ayah kenapa kenapa. Ini yang Ayah takutkan kalau Chila pergi tanpa ayah. Chila sangat mudah jatuh, ayah tidak mau anak Ayah terluka, mengerti kan?” jelas Rasya sambil mengoleskan obat merah pada lutut Chila.


“Hiks hiks, maaf Ayah hiks hiks.” Tutur Chila kembali terisak.


“Apakah sakit?”

__ADS_1


“Enggak, tapi cuma perih. Tapi Chila gak mau nangis, tapi kenapa Chila nangis? Hiks hiks,” tanya Chila sendiri membuat Rasya sedikit terkekeh mendengar begitu banyak kata Tapi, yang Chila ucapkan.


__ADS_2