
Niat Rasya yang awalnya ingin segera pulang setelah menjemput Chila, akhirnya gagal. Dirinya di tahan agar tidak pulang terlebih dulu oleh orang tua Michele. Terlebih, ternyata semalaman Chila tidur di sana bersama Anna, dan kini Rasya baru tau dan sadar mengapa Chila dengan mudah langsung merengek ingin menginap di rumah Michele kemarin sore. Karena dia di iming imingi akan tidur bersama Anna.
Dan kini, setelah makan siang, semua berkumpul di ruang keluarga. Chila sejak tadi hanya mau duduk di sebelah Anna sambil bermain ponsel. Sementara dirinya dan Aldi hanya berbincang membahas pekerjaan dan kadang di sautin oleh om Farel.
“Ayah, Chila mau bunda deh!” celetuk Chila tiba tiba tanpa menatap ke arah ayah nya. Matanya masih fokus menatap layar ponsel yang berada di tangan Anna, dimana di sana sedang berputar sebuah video youtube seorang anak kecil yang sedang bersama ibu dan adik nya.
“Hey, apa kamu masih kurang punya mama seperti ku hem?” tanya Michele dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Gak mau! Mama Icel suka teriak teriak, bikin Chila pusing.” Saut Chila dnegan memanyunkan bibir nya kesal pada Michele.
“Chila, mama tidak suka teriak, hanya saja orang orang yang selalu memancing dan memaksa mama untuk berteriak,” cetus Michele yang lalu kembali bersandar pada punggung kokoh suaminya.
“Sama saja. Chila gak mau mama, maunya bunda.”
__ADS_1
“Bunda siapa Sayang?” kini pertanyaan itu muncul dari oma Crystal.
“Bunda Anna oma, boleh gak?” tanya Chila dengan polos nya, hingga membuat wajah Anna begitu terkejut dan membola.
Eheemmm
Rasya sebisa mungkin menetralkan degup jantung nya setelah mendengar penuturan dari putri nya. Entah siapa yang mengajarkan nya seperti itu, namun Rasya sangat yakin, pelaku utama ada di ruangan yang sama dnegan nya.
“Sa- sayang, tante mau ke kamar mandi dulu yah?” bisik Anna begitu pelan di telinga Chila. Membuat gadis kecil itu mengangguk lalu menggeser duduknya mendekati Michele.
“Katanya gak mau sama mama!” cetus Michele namun ia juga langsung memeluk Chila dengan gemas.
“Gak mau, tapi terpaksa gapapa.” Jawab Chila dengan santai, “Mama lihat deh, Chila mau beli,” rengek nya menatap Michele dengan wajah memelas nya.
__ADS_1
“Beli apa Sayang?” tanya Rasya penasaran saat Chila menunjukkan sesuatu dari ponsel nya kepada Michele.
“Ini Ayah, Chila mau samaan sama Mama.” Kata Chila begitu antusias, ia segera turun dari sofa dan menghampiri Rasa.
Sebuah gambar iklan yang menjual pakaian keluarga muslim. Meski umur Chila belum genap tuju tahun, namun ia sudah sedikit mengerti tentang agama nya dan ayah nya yang berbeda.Maka dari itu, ia lebih suka membahas soal agama pada Michele atau Aldi, ya walau mereka tidak terlalu paham sekali namun mereka cukup tahu.
“Oh iya, nanti kalau Chila sudah kelas tuju, Chila mau nginep di pondok!” kelakar nya lagi membuat dahi Rasya semakin berkerut, “Nanti Ayah sama tante Forzen, Chila pergi belajar Chila pulang, sudah punya adik deh!”
“Astaga, ini benar benar ajaran kamu Chel!” desis Rasya menghela napas nya panjang sambil melirik ke arah Michele yang tengah menyengir polos.
“Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu lagi yah. Chila cukup sama mama, oma, papa, ayah dan juga opa. Tidak ada bunda, mengerti!” ujar Rasya dengan tegas, membuat Chila langsung menatap ayah nya dengan wajah di tekuk. Tak berbeda jauh dari Chila, seorang gadis yang sudah berdiri di belakang Rasya pun ikut merasakan kesedihan yang Chila rasakan, namun ia juga tidak bisa berbuat banyak selain pasrah.
‘Sepertinya, memang tidak akan ada kesempatan untuk aku. Apakah ini artinya kau harus menyerah?’ gumam gadis itu yang tak lain adalah Anna.
__ADS_1