HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )

HOT DADDY ( Bukan Duda, Bukan Perjaka )
Pergilah


__ADS_3

“Kak Rasya,” panggil nya lagi saat melihat Rasya hanya diam dan tak menoleh ke arah nya.


“Pergilah, jangan bertemu dengan ku. Pergilah,” usir Rasya begitu lirih tanpa membalikkan tubuh nya.


“Gak! Aku gak akan pergi lagi, a—aku ... “


“Aku mohon pergilah, bahagia lah dengan keluarga baru kamu. Aku mohon, sangat memohon sama kamu, pergilah Renata.”


“Kak, a—aku ingin ketemu a—“


“Jangan pernah menyebut dia anak kamu! Sampai kapan pun, dia hanya anakku, dia anakku, anak aku sama Anna. Jadi kamu lupakan kami, aku mohon.” Pinta Rasya lagi dengan sekuat tenaga, sejak tadi tangan nya sudah mengepal dengan sangat kuat dan berusaha menahan amarah nya.


“Hiks hiks hiks, aku mohon kak, biarkan aku bertemu dengan nya. Aku mohon, sekali saja,” pinta nya sekali lagi namun Rasya mengabaikan nya.

__ADS_1


“Kak Rasya!”


Ooeekkk


Oeeekkk


Renata menghentikan langkahnya, ia mengurungkan niat untuk mengejar Rasya karena bayi yang di gendongan nya menangis kembali. Ya, Renata datang bersama Vino ke rumah sakit karena bayi nya sedang demam. Dan saat ini, Vino sedang menebus obat, sementara dirinya berjalan jalan di sekitar sambil menenangkan baby nya yang terus menangis.


“Vita nangis terus,” kata Renata lirih, namun pandangan nya kembali kosong menatap ruang kamar dimana Rasya masuk tadi. Ia penasaran siapa yang di dalam kamar perawatan itu, apakah putri nya, atau istri Rasya.


“Sayang, mau sampai kapan kamu memanggil nya begitu?” tanya Vino yang suah frustasi dengan sikap istrinya.


Begitu besar cinta yang ia berikan pada Renata, ia sudah mengorbankan segalanya hanya untuk istrinya. Namun hingga kini, ia merasa usaha nya belum maximal karena istrinya masih terus terbayang akan masa lalu.

__ADS_1


Bila boleh jujur, ia sangat marah. Tentu saja marah, ia sangat marah terhadap mertua nya. Dan bila boleh memilih, ia lebih baik di kekang oleh keluarga nya sendiri karena tahu Renata memiliki anak dari laki laki lain daripada dirinya harus hidup seperti sekarang, dimana psikis Renata terganggu. Dan itu semua karena kesalahan mertuanya yang tak lain adalah ibu kandung Renata.


“Vita sudah diem nih, ayo pulang. Aku juga lapar,” kata Renata kembali memberikan senyuman nya pada Vino dan menggandeng sebelah tangan suaminya dengan manja.


“Kamu mau makan apa hem?” tanya Vino begitu lembut sambil mengusap kepala Renata.


“Kamu mau makan apa emang? Aku ikut aja, asal jangan pedes, kasihan Vita nantinya,” jawab Renata dengan tenang.


Vino tahu, di balik senyum dan ketenangan Renata, tersimpan begitu banyak duri yang masih menancap di dalam hatinya, namun ia berusaha agar tidak terlalu sakit di depan dirinya. Dan Vino selalu menghargai itu, ia sangat menyayangi istrinya, dan sebisa mungkin ia akan menjaga nya, menerima apapun keadaan nya. Dia juga sudah berjanji akan selalu melakukan yang terbaik, Vino tahu, Rasya bukanlah orang jahat, hanya saja duri permasalahan ada pada mama Susy, dan Vino tidak tahu harus melakukan apa lagi.


Bila itu orang lain, mungkin Vino tidak akan segan untuk menabrak nya hingga tewas, mengingat dirinya sering beradu balap bersama Michele dulu, bisa saja dirinya menyuruh orang untuk membawa mama Susy ke tengah jalan dan ia bisa menabrak nya. Namun kembali lagi, ia tidak bisa melakukan itu,mama Susy adalah mertua nya, dan biar bagaimana pun, Renata masih sangat membutuhkan sosok orang tua nya.


‘Aku yakin, kamu pasti akan segera sembuh,’ gumam Vino saat mengecup kepala Renata dengan sayang.

__ADS_1


__ADS_2