
Pagi harinya, Chila terbangun dan tidak menemukan keberadaan ayah nya. Semalam, saat pulang dari mall, memnag Chila meminta untuk tidur bersama sang ayah, karena ia sudah terlalu lama tidak tidur bersama ayah nya lagi, dan entah mengapa ia sangat merindukan itu.
“Ayah ... “ panggil Chila mengucek matanya dan turun dari tempat tidur mencari keberadaan ayah nya.
Chila mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, ia langsung tahu bahwa ayah nya tengah mandi. Ia pun hendak pergi keluar dan kembali ke kamar nya. Namun, sebuah paper bag berwarna nude di atas meja membuat rasa penasaran nya membuncah.
“Ayah sedang mandi?” teriak Chila di depan pintu kamar mandi.
“Iya Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Rasya juga berteriak dari dalam kamar mandi, namun kini ia sudah mematikan suara air shower nya.
“Ayah masih lama gak?” tanya Chila lagi, ia ingin tahu bila ayahnya masih lama, maka ia memiliki kesempatan untuk membuka bungkus itu.
“Iya Sayang, maaf yah. Kamu mandi juga gih, kembali ke kamar kamu nanti kita sarapan bersama.” Ujar Rasya, dan Chila pun menjawab nya dengan iya.
__ADS_1
Setelah ia kembali mendengar suara gemercik air lagi, ia pun segera menghampiri meja dan membuka bingkisan tersebut. Sebuah kotak bludru berwarna biru dengan secarik kertas di dalam nya. Bukan kurang ajar atau tidak sopan, tapi Chila penasaran, dia pun segera membuka nya. Setelah mengetahui isinya, ia segera berlari keluar kamar. Rasa penasaran nya sudah hilang, terganti dengan rasa bahagia, dan ia pun tak henti henti nya berdoa.
Setelah mengantarkan Chila ke sekolah, Rasya pun segera kembali ke rumah nya untuk mengambil barang nya yang tertinggal. Dan setelah mendapatkan nya, ia segera meluncurkan mobilnya menuju kantor.
“Pak Rasya, berkas ini harus segera di tanda tangani, dan kemarin asisten pak Faris sudah menghubungi saya, dan mereka mengajak ketemu siang ini Pak.” Ujar Diandra sambil menyerahkan sebuah berkas kepada Rasya.
“Siang ini? Kenapa mendadak?” dahi Rasya berkerut, di sertai helaan napas panjang.
“Karena besok pak Faris harus segera pergi ke London, dan mungkin akan kembali dua atau tiga bulan lagi.”
“Baik Pak, saya permisi.”
Setelah Diandra keluar dari ruangan nya, Rasya kembali menatap map di depan nya. Sebuah kerjasama yang sudah ia incar sejak dulu, pak Faris sangat lah susah untuk di ajak kerja sama, dan proyek yang akan ia jalani bukanlah proyek kecil. Dia sudah menanti cukup lama untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan itu, namun kini waktunya sangat tidak tepat. Dirinya seharusnya akan bertemu dengan seseorang siang ini, tepatnya jam makan siang.
__ADS_1
Menghela nafas kasar, ia terpaksa membatalkan janji nya kepada seseorang itu yang tak lain adalah Anna. Ia meminta maaf karena harus membatalkan pertemuan mereka, dan berjanji akan menemuinya nanti malam atau besok.
‘Maafin aku Anna,’ gumam Rasya dalam hati dan segera menutup ponsel nya.
Di lain tempat, Anna yang mendapatkan pesan chat dari Rasya di buat senang, namun setelah membaca isinya wajah nya langsung berubah cemberut dan kesal.
“Kenapa?” tanya Farah saat melihat raut wajah sahabat nya berubah.
“Batal deh mau makan siang sama kak Rasya,” keluh Anna sedikit cemberut.
“Alhamdulilah!” saut Farah dan Karin bersamaan hingga membuat wajah Anna semakin memberengut kesal.
“Ann, itu tandanya, kita bisa jalan bareng yeee!” sorak Karin dan di ikuti gelak tawa oleh farah, “Udah sih, bukan nya kemarin kamu habis weekend sama dia dan anak nya juga.”
__ADS_1
“Ya tapi kan beda Rin, kemarin kita pergi sama Chila, dan sekarang Chila gak ikut. Kan jadi lebih emmtt, itu ... “ gumam Anna sedikit kesal namun juga malu.
“Halah alasan aja kamu itu, udah yok ah, kita have fun bertiga!” walau kesal akhirnya Anna terpaksa mengikuti kedua sahabat nya. Kini keduanya akan pergi berbelanja di mall yang berada di dekat kampus nya. Berbeda dengan mall yang ia datangi kemarin bersama Rasya dan Chila.