I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Pernyataan Cinta


__ADS_3

"Kita ke pantai aja ya, Ngil? Gue belum mau pulang." pinta Alya saat keduanya sudah melaju di atas motor milik Kay.


Kay mengangguk mengiyakan. Tak sampai sepuluh menit, mereka pun tiba disebuah pantai yang lumayan ramai karna malam ini memang malam minggu. Banyak muda-mudi yang sedang memadu kasih di pantai itu.


Alya duduk di batu besar. Kay berbaring santai di sebelah Alya. Cukup lama Alya diam sambil menatap laut yang tampak indah dihiasi gemerlap bintang di langit kelam.


*Mungkinkah kau tau


rasa cinta yang kini membara


yang masih tersimpan


dalam lubuk jiwa


Ingin ku nyatakan


lewat kata yang mesra untukmu


namun ku tak kuasa


untuk melakukannya


Mungkin hanya lewat lagu ini


akan ku nyatakan rasa


cintaku padamu rinduku padamu


tak bertepi...


Mungkin hanya sebuah lagu ini


yang selalu akan kunyanyikan


sebagai tanda betapa aku inginkan kamu*

__ADS_1


Alya menoleh Kay yang berbaring disebelahnya sambil mendendangkan 'Laguku' dari Ungu. Mata Kay terpejam, seolah menghayati lagu yang dinyanyikannya. Yang bikin Alya bingung dan tidak menyadarinya sama sekali, entah sejak kapan Kay mendekap tangan Alya didadanya.


Cukup lama Alya memperhatikan wajah tampan yang tengah menutup matanya sambil bersenandung merdu. Entah apa yang dikhayalkannya.


Alya pov


Kay, bocah tengil yang baru ku kenal. Sikap kekanakan dan juga jahilnya yang sejak awal jumpa sering membuatku kesal setengah mati, kadang itu yang sering juga bikin aku rindu akan sosoknya. Diusianya yang baru delapan belas tahun, ternyata Kay juga bisa bersikap dewasa. Dia sering membantu dan menghiburku disaat suasana hatiku sedang kacau. Aku tidak tau apakah Kay punya seseorang yang disukainya? Yang aku tau Kay selalu bersikap dingin pada gadis-gadis yang mengejar cintanya. Ya, Kay memang tampan. Tubuhnya yang tinggi, tegap, dipadu wajah ganteng dan sikap angkuhnya membuat para cewek terpacu adrenalinnya untuk merebut hati si gunung es itu. Elsa, kurasa dia sangat cantik. Semua cowok pasti menyukainya. Tapi kenapa Kay malah menolaknya? Apa Kay tidak normal?


Entahlah, aku tidak mau memikirkannya. Yang aku tau, Kay begitu baik padaku. Kay tidak pernah membuatku sedih. Bersamanya, aku menemukan kembali warna hidup. Dengannya aku bebas curhat, tertawa, bercanda, bahkan berantem layaknya anak kecil yang berebut permen.


Apakah aku menyukai Kay? Jawabnya tentu, iya. Aku menyukai Kay. Aku menyukai kejahilan dan kedewasaannya. Bagiku Kay sosok bocah tengil yang luar biasa. Yang mampu membuatku melupakan kisah sedihku. Tapi, aku tak mau berharap lebih. Kay masih kecil, itu menurutku. Walaupun kuakui, kadang aku yang dewasa ini yang malah bersikap sangat manja padanya. Dan tak kusangka sama sekali kalau Kay mampu bersikap lebih dewasa menghadapi sifat kekanakkanku. Tapi sekali lagi, aku tak pernah berniat untuk berpacaran dengan bocah.


"Ah Kay! Andai kau bukan bocah..."


author pov*


Kay membuka matanya saat merasakan Alya menarik tangannya yang ada didekap Kay didadanya.


"Udah mau pulang ya, beib?" tanya Kay seraya bangkit dan duduk menghadap Alya.


"Ngil, besok gue mau pulang ke rumah gue. Maaf ya kalo gue sering nyusahin lo selama gue disini. Gue juga makasih banget atas pertemanan kita. Gue seneng bisa kenalan dan temenan ama lo. Makasih ya, Ngil?!" Alya memeluk Kay yang terpaku sedih.


"Nyokap gue tadi sore telfon, nyuruh gue pulang. Gue juga harus kuliah, Ngil. Gue udah kelamaan liburnya." Alya menepuk pelan punggung Kay, lalu melepaskan pelukannya.


Tapi Kay kembali memeluk Alya, erat. "Boleh aku peluk kamu lebih lama, beib. Aku pasti akan sangat kehilangan kamu." pinta Kay.


Alya tersenyum getir. "Gue juga pasti merasa kehilangan lo banget, Ngil. Lo satu-satunya temen gue selama gue di sini selain Egi." Alya membalas pelukan Kay.


"Aku sayang kamu, beib. Aku menyukaimu."


"Gue juga sayang ama lo, Ngil."


"Aku ingin jadi kekasihmu. Maukah kamu jadi kekasihku, beib?"


Alya mendorong tubuh Kay, berusaha melepaskan pelukannya. Namun Kay lebih mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku mohon dengarkan aku, beib. Aku tak bisa merubah umurku agar bisa lebih tua darimu. Tapi aku tulus mencintaimu, beib!" ucap Kay jujur.


Alya diam membisu. Kay melepaskan pelukannya. Alya mengambil kesempatan itu untuk mundur, menjauh dari Kay. Tapi dengan cepat Kay menarik tengkuk Alya, dan


Mmfph! Alya seolah berhenti bernapas saat Kay tiba-tiba mencium bibirnya. Matanya pun melotot, kaget. Alya berusaha mendorong tubuh Kay lagi. Dan lagi-lagi Kay malah menekan tengkuk Alya lebih kuat hingga ciumannya pun semakin dalam.


Perlahan, namun pasti. Ciuman Kay yang awalnya sangat memaksa, perlahan berubah lembut. Alya terkesiap merasakan ciuman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Ya! Bibir Alya belum pernah dicium oleh


Arkan walaupun mereka sudah berpacaran hampir dua tahun lebih. Bukannya Arkan sangat sopan, tapi memang Alya yang tidak mau dicium oleh Arkan. Selama mereka pacaran, Arkan hanya boleh mencium Pipi dan kening Alya. Setiap Arkan mencoba mencium bibirnya, pasti Alya dengan tegas menolaknya. Dan mungkin karna itulah Arkan meninggalkannya dan mencari gadis lain yang mau dicium bibirnya oleh Arkan. Dan sayangnya, gadis lain itu sahabat Alya sendiri, Wulandari Santary.


Kembali ke Kay. Merasa Alya diam dan tak berusaha menolaknya, bibir Kay menyusuri tiap sudut bibir Alya. Kay menggigit kecil bibir bawah Alya, hingga gadis itu membuka mulutnya dan dengan cepat lidah Kay masuk kedalam rongga mulut Alya dan bermain disana.


Alya pun terbuai.


"Mmfh! Hmm!" Alya menggumam, merasakan sensasi luar biasa dari permainan lidah Kay.


Kay kembali ******* lembut bibir Alya, dan melepaskan ciumannya karena hampir kehabisan napas.


Napas keduanya pun tersengal. Kay menyatukan dahinya dan dahi Alya.


Belum sepenuhnya Alya menarik napas lega, Kay sudah kembali ******* bibirnya.


"Cium aku, beib!" bisik Kay disela ciumannya.


"Mmfh...aku...gak...tau...mmfh!"


Kay memperdalam ciumannya sebelum Alya menyelesaikan ucapannya. Satu menit kemudian, Kay melepaskan ciumannya. Matanya menatap lekat wajah cantik didepannya.


"Kamu belum pernah ciuman, beib? Apa pacarmu belum pernah menciummu?" tanya Kay pelan. Alya mengangguk lalu tertunduk malu mengingat yang dilakukan Kay tadi padanya.


"Berarti...ini ciuman pertamamu, beib?" tanya Kay lagi, setengah tak percaya.


Kay tersenyum senang melihat Alya mengangguk, mengiyakan pertanyaannya.

__ADS_1


Dilumatnya lagi bibir Alya tanpa permisi seperti tadi.


"Dasar bocah tengil! Seenak udelnya ngecup bibir anak gadis orang. Mana tanpa permisi lagi. Hadeeeehhh!🤦‍♀


__ADS_2