
Kay menghempaskan tubuhnya di kasur yang sudah lama tidak ia tiduri. Dengan tangan yang menopang kepalanya, pikiran Kay berkelana.
flashback on
"Aku bingung, Ngil. Gimana ngomongnya sama abang tentang kita?"
"Biar aku yang bicara sama om. Kamu tenang aja ya, selesaikan saja tugas kuliahmu. Udah mulai susun skripsi kan?" Kay mengusap lembut pipi Alya yang berbaring dipahanya.
Saat itu mereka tengah menikmati keindahan kebun raya bogor, tempat favorit mereka menghabiskan waktu bersama selama Alya liburan dan Kay juga libur tugas.
"Apa kita tidak menyakiti mereka, Ngil?" tanya Alya yang merasa tidak enak hati mengingat kebaikan dan perhatian Sandy padanya.
"Apa kamu mau kita terus menyiksa diri seperti ini?" tanya Kay balik. Ada nada kecewa dari kata yang keluar dari mulut Kay.
Alya duduk, memunggungi Kay.
"Bang Sandy selama ini sudah baik sama aku, Ngil. Gak tega aku ngecewain dia. Sekarang saja aku sudah merasa berdosa sudah selingkuh dibelakangnya." ujar Alya, jujur.
Kay menatap punggung Alya, sendu.
"Kamu nyesel balikan sama aku, beib?" tanyanya, lirih.
Alya menunduk. Kay memeluknya dari belakang. Kepalanya bersandar di bahu Alya.
"Kamu setuju atau gak, aku akan bicarakan tentang kita pada om Sandy." sahut Kay membuat Alya diam tak membantah.
flashback off
"Aku harus perjuangkan cintaku. Harus!"
Tekad Kay sudah bulat. Bagaimana pun juga Alya adalah cinta sejatinya yang harus ia perjuangkan. Dan Kay akan berusaha sampai di akhir untuk mendapatkan kembali cintanya.
Di taman kampus,
"Serius, Al?" tanya Egi penasaran.
"Menurut lo Kay cuma iseng?" Alya menoleh pada Egi yang duduk disebelahnya.
Egi menggeleng.
"Gue gak nyangka aja lo berdua nekad kayak gitu." ucapnya jujur.
Alya meringis.
"Gue awalnya juga gak mau, Gi. Tapi...lo taulah Kay orangnya gimana?" Alya menggaruk-garuk kepalanya.
"Gue harus ngomong lebih dulu sama bang Sandy sebelum Kay." sahut Alya, mantap.
"Gak berdua bareng Kay?"
Alya menggeleng cepat. "Gue gak mau mereka bertengkar gara-gara gue."
"Apa lo udah pikirin hal terburuk yang bakal terjadi nanti?" tanya Egi sekali lagi.
Alya mengangguk, seraya menarik napas berat.
"Resiko apapun bakal gue hadapi, Gi. Setidaknya dengan berkata jujur hati gue lebih plong. Gue gak mau menyimpan kebohongan ini selamanya."
Egi menepuk bahu Alya pelan.
"Good luck! Gue dukung lo, Al."
"Makasih, Gi."
Egi menatap miris Alya yang menunduk lesu. Ia kasihan dengan sepupunya itu, yang harus terpaksa menerima perjodohan yang tak diharapkannya. Meskipun Sandy pria yang baik tapi kalau Alya tidak bisa mencintainya... mau gimana lagi?
"Beib!"
Egi dan Alya menoleh.
"Hai, bro! Pa kabar lo?"
Egi memeluk erat sahabatnya yang sangat dirindukannya. Kay balas memeluknya dengan senyum tulus.
"Alhamdulillah sehat, bro. Lo juga baik-baik aja kan?" tanya Kay balik.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Masih idup juga." keduanya tertawa gembira.
Alya tersenyum haru melihat pertemuan dua sahabat itu.
"Gue denger...lo sekarang pindah tugas di sini ya?" tanya Egi.
Kay mengangguk.
"Iya. Tadi baru selesai mengurus semuanya, dan minggu depan mulai tugas."
"Dimana?"
"Tuh di sebelah kampus lo. Makanya gue langsung kemari ketemu lo." Kay merangkul hangat bahu sahabatnya.
Egi mengernyit, menatap Kay.
"Yakin mau ketemu gue?" ledeknya.
Kay terkekeh.
"Sambilan sih!" katanya sambil menarik tubuh mungil Alya dan memeluknya, lalu mencium kening gadis itu.
"Ishh! Bongil!" Alya menyentil keras jidat Kay dengan cepat.
"Aduh!"
Egi terbahak.
"Sukurin lo! Kayak soang sih!" ledeknya lagi.
Kay nyengir.
"Habis...gue gak bisa nahan kalo deket Alya, Gi. Pengennya nyosor terus. Hehee!" Kay terkekeh dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang putih.
Egi ikutan tertawa. Sedangkan Alya hanya meringis, malu.
"Wah...wah...wah! Reunian gak ngajak-ngajak gue ya?!"
Abby datang dan langsung memeluk adik kesayangannya. Diciumnya kening, pipi, mata dan hidung adiknya sepuasnya, meluapkan kerinduannya pada bocah kesayangannya.
Kay mendorong tubuh Abby, pelan.
Abby terkekeh.
"Gue kangen lo, dek. Biarinlah gue meluk lo..." pinta Abby.
"Iya, bang. Tapi jangan diciumnya kayak gitu juga, kali. Emang gue bocah?!" Kay berusaha mengelak ciuman dan melepaskan diri dari abangnya.
"Bagi gue, lo bocah selamanya, dek. Lo adek kesayangan gue." Abby makin mempererat pelukannya.
"Lebay lo, bang."
Mereka semua tertawa. Adik, sahabat, dan kekasih yang mereka nanti telah kembali. Bahagia pun terpancar dihati semuanya.
****
🎵Pandanglah aku hembuskan nafasmu
karena aku amat rindukanmu
janganlah jangan kau jauh dariku
tanpa wajahmu kelam duniaku
Bisikkan aku katakan cintamu
karna suaramu bersyair laguku
dendangkan lagu dengarkan padaku
dekaplah aku wahai kekasihku
Bila bermimpi kamu jaga dari tidurku
aku sebut namamu aku seru cintamu
__ADS_1
engkaulah kekasihku hanya engkau nyawaku
akulah perindumu akulah pencintamu
Bawaku bersamamu agar hilang resahku
eratkan dekapanmu dekatlah padaku
cinta berpadu🎶
Kay memainkan gitarnya dengan begitu indahnya. Ditambah suara merdunya yang mengalun syahdu, Kay menyanyikan lagunya dengan mata memandang Alya penuh cinta.
Namun, senyum tampannya berubah kecut ketika Sandy datang dan langsung merangkul mesra Alya dan mengecup pucuk kepala gadis itu.
Sandy pun melambaikan tangannya ke arah Kay yang langsung menghampirinya.
"Pulang juga akhirnya ponakan kesayangan om." Sandy memeluk Kay erat.
"Om sehat- sehat aja, kan?" Kay balas memeluk omnya.
"Alhamdulillah, dek. Kan ada calon tantemu yang selalu memperhatikan om." ujar Sandy sambil melirik Alya yang meringis, kecut.
Kay melepaskan pelukannya dan melihat ke arah Alya.
"Belum di ganti ya calon tanteku, om?" tanya Kay ngaco.
"Hah?!" Sandy melongo, bingung.
Alya tersedak mendengar pertanyaan gak mutu dari Kay.
Sementara, Egi dan Abby yang tadi tegang melihat kedatangan Sandy, tak bisa menahan tawa. Mereka pun ngakak tanpa aba-aba. Akhirnya Sandy pun ikutan tertawa.
"Kamu bisa aja, dek. Nyari yang kayak gini susah loh, langka soalnya." seloroh Sandy.
"Emang aku barang antik ya?!" sergah Alya, tersinggung.
"Wah, parah. Lo disamain sama guci dari dinasti joesoen, Al." ejek Abby, sengaja memanasi Alya.
"Haishh! Ini nih korban drakor, apal bener nama dinastinya." Alya menoel kepala Abby.
"Bukan gitu, dek. Maksud abang, kamu makhluk tercantik yang gak tergantikan dengan apapun. Kamu wanita limited edition di dunia ini tau gak?"
"Hadehhhh! Paijo mulai gombal, guys!" seloroh Alya, jengah dengan gombalan Sandy.
Mereka tergelak lagi.
Kecuali Kay, dia hanya diam melihat keakraban Sandy dan Alya.
"Dek, kamu tau gak, sampai detik ini om belum bisa mengambil hati calon tantemu ini." kata Sandy.
"Maksudnya?" Kay mengernyit heran.
"Alya ini susah ditaklukin, dek. Baru kali ini aku ketemu cewek dingin kayak dia, mana keras kepala lagi."
"Huh! Belum tau dia." dengus Alya, congkak, membuat Egi dan Abby terkikik geli. Dan Kay juga.
Sandy nyengir kuda.
"Sayangnya...itu yang bikin aku makin cinta sama calon tante kamu, dek. She is special. Semakin dia nolak om makin kuat dia om genggam."
Deg!
Alya, Kay, Abby dan Egi saling berpandangan.
"Gak usah ribet, om. Kan udah diiket." celutuk Abby sambil menunjukkan cincin di jari manis Alya. Sandy mengangguk tersenyum.
"Iya sih, bang. Tapi om mau mengikat hati Alya juga biar bisa utuh jadi milik om."
"Apaan sih? Pake diiket-iket? Emangnya aku chihuahua?" sungut Alya membuat yang lain tertawa.
"Bukan, beib. Kamu pudel. Kecil, imut, lucu. Hahaaa!" celutuk Kay spontan sambil mengacak rambut Alya gemas.
"Ishh! Masih kaum anjing juga itu mah." Alya merengut.
"Jangan gitu dong, dek. Kalo Alya pudel, berarti om Herder dong." seloroh Sandy.
__ADS_1
"Bukan. Abang buldognya." sambar Alya cepat.
Tawa pun kembali bergema di taman belakang kampus. Kecanggungan yang sempat terjadi ketika kedatangan Sandy perlahan mencair dan suasana pun berganti ceria karena sikap spontan dan cuek Alya.