
"Kamu udah nusuk om dari belakang, dek. Kamu udah merebut Alya dari om. Kamu tega, dek!" Sandy menatap Kay, tajam.
Tapi, Kay sekarang bukan Kay yang dulu.
"Bukannya om yang mengambil Alya dariku?" sindir Kay.
"Loh...bukan salah om dong kalo Alya mau dijodohkan sama om. Salahin aja opamu." elak Sandy, berusaha membela diri.
"Aku gak merebut Alya dari om ya? Aku sekarang hanya sedang berusaha mempertahankan milikku, om. Alya milikku. Dia cinta pertama dan terakhirku. Maaf kalau sekali ini aku gak bisa memberikannya pada om." Kay balas menatap Sandy, lebih tajam.
"Alya adalah tunanganku, dan kami akan segera menikah." sentak Sandy.
"Itu tidak akan pernah terjadi, om. Karna Alya lebih memilihku daripada om." sahut Kay, cepat.
Sandy tersenyum mencibir.
"Apa yang kamu punya sehingga kamu yakin kalau Alya lebih memilihmu?" tanyanya meremehkan Kay.
"Alya tidak akan kenyang kalau hanya makan cinta kamu." sindir Sandy, kejam.
"Om tenang saja. Aku tidak akan pernah membiarkan Alya menderita. Aku yakin aku bisa menjaga dan membahagiakannya."
"Yakin bisa?" ledek Sandy.
"Kebahagiaan itu bukan hanya dilihat dari besar kecilnya materi, om. Tapi juga dilihat dari sikap dan perbuatan kita. Aku yakin aku bisa bertanggung jawab sepenuhnya atas kebahagiaan Alya." sahut Kay, mantap.
"Apa jaminannya?"
"Aku! Aku rela pertaruhkan nyawaku demi Alya."
__ADS_1
Sandy tertawa.
"Ini bukan perang melawan OPM, dek. Apa kamu bisa memilih antara Alya dan tugas negara?" tanya Sandy, telak mengenai jantung Kay, membuat cowok ganteng itu terdiam.
"Bagiku, Alya dan negara sama-sama penting, om. Tanggung jawabku pada keduanya sama besar, dan aku akan melaksanakan kewajibanku sebaik mungkin." ujar Kay kemudian.
Sandy mengangguk.
"Masalahnya...apa Alya siap menerima kamu yang pasti akan selalu meninggalkannya untuk melaksanakan tugas negara?" tanya Sandy lagi, dan berhasil membuat Kay terdiam lagi.
"Om yakin Alya tidak tau apa-apa tentang pentingnya tugas negara bagi seorang tentara, dan kamu berkewajiban menjelaskannya pada Alya. Karena Alya berhak tau semuanya." kata Sandy bijak.
Kay mengangguk.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada Alya." janji Kay.
"Bagus. Setelah yakin Alya akan menerimamu baru om mundur dari kehidupan kalian."
"Terus terang aja dek, om gak yakin Alya mau menerima kalo kamu lebih mendahulukan tugas negara daripada dia." Sandy mencoba membuat Kay 'down'.
"Dan om siap menunggu Alya kembali pada om." Sandy menyeringai, jahat.
"Alya gak akan pernah kembali pada om. Aku yakin Alya akan selalu setia padaku. Aku pastikan itu." Kay menatap tajam omnya.
"Oke! We'll see!"
Sandy tersenyum penuh arti.
"Om suka tekadmu, dek. Om tidak pernah meragukanmu. Om rela melepaskan Alya untuk kamu karna kamu memang berhak atas Alya."
__ADS_1
Setelah pulang dari rumah om Sandy, Kay merenung sendiri di dalam kamarnya. Kata-kata Sandy terus terngiang berputar diotaknya.
"Bisakah Alya menerima tanggung jawabku terhadap negara? Akankah Alya siap jadi yang kedua?"
"Akh! Bisa botak aku kalo kayak gini!"
Kay mengacak-acak rambutnya, kesal.
"Kenapa lagi, bro? Muka lo kusut amat?!" Ryan yang baru masuk ke dalam kamar heran melihat wajah tampan Kay yang mencetut, masam.
"Om gue bikin gue kesel setengah mampus. Kalo gak inget dia itu adiknya papa, pasti udah gue bikin perkedel dia." gemeretak gigi Kay, menahan geram.
"Kenapa? Om lo gak mau lepasin tunangannya buat lo?" tebak Ryan.
"Haishh!" Kay mengacak-acak kesal rambutnya lagi.
"Lebih parah dari itu. Dia suruh gue memilih Alya atau negara."
"Dan lo pilih yang mana?"
"Gue gak bisa milih, bro. Dua-duanya penting buat gue." desah Kay. Wajahnya terlihat kuyu, cemas memikirkan ucapan omnya.
"Kalau begitu, lo harus jelaskan semua tentang tugas dan kewajiban lo terhadap negara, juga perasaan tulus lo buat kekasih lo. Jelaskan semuanya sejelas-jelasnya dan sejujur- jujurnya. Gue yakin kalo cewek lo beneran cinta ama lo pasti dia mau menerima semua tentang lo." hibur Ryan.
Kay tersenyum sumringah.
"Thanks, bro. Lo udah kasih gue solusi terbaik. Makasih!" Kay menjabat tangan Ryan dengan gaya khas cowok.
"Masama, bro! Gue seneng lihat lo hepi. Sepertinya cewek itu benar-benar powerbank lo." Ryan menepuk pelan bahu Kay.
__ADS_1
"Always, bro. She is my power." sahut Kay mantap.