
Kay membelai lembut rambut istrinya yang masih saja terus menangis.
"Sudah, beib. Ingat dedek di perut. Nanti dia ikutan nangis." Kay terus membujuk Alya agar tidak menangis lagi. Tangannya mengusap- usap lembut perut istrinya.
"Kamu jahat, bib. Kamu mau ninggalin aku sendirian. Nanti aku tidur sama siapa kalo kamu gak ada." Alya terus terisak.
"Kamu kan istri tentara, beib. Kamu harus siap dengan konsekuensinya. Aku gak bisa melepaskan kewajibanku terhadap negara. Kamu tau itu kan?"
"Tapi kali ini kamu perginya lama, bib. Satu setengah tahun, bahkan dedek sudah besar kalo kamu pulang nanti." isak Alya makin keras.
Ia tak mampu menahan kesedihannya akan ditinggal Kay bertugas dalam waktu yang lama.
"Aku tau kamu ibu persit yang kuat, beib. Kamu pasti bisa mengasuh dan membesarkan dedek sampai aku pulang nanti. Ajarkan dia untuk jadi seorang yang kuat seperti kamu, ya?" Kay terus mengusap-usap bahu istrinya, mencoba membantu menguatkannya.
"Kalo kamu pulang nanti dedek gak ngenalin kamu gimana, bib?" pertanyaan Alya membuat Kay terdiam.
Bagaimana tidak? Satu setengah tahun waktu yang cukup lama bagi seorang bayi untuk mengenal orang-orang disekelilingnya.
Kay jongkok di depan istrinya. Tangannya mengusap lembut perut Alya yang mulai membuncit, lalu menciumnya.
"Dedek, ayah mau berangkat tugas dulu. Dedek jangan nakal ya, jaga emak. Jangan sampai emak dideketin om Arkan sama opa Sandy selama ayah gak ada. Dedek tunggu ayah pulang sama emak ya?"
Kay berbicara di depan perut Alya seolah sedang berbicara dengan anaknya, membuat Alya tersenyum geli dengan tingkah lucu suaminya. Kay mencium lembut perut istrinya.
Terdengar aba-aba bahwa rombongan prajurit akan segera berangkat, Kay pun pamit pada mertuanya yang menemani Alya.
"Ayah, ibu, aku titip Alya dan kandungannya, ya? Maaf kalo aku sudah merepotkan kalian." ucap Kay sambil mencium punggung tangan ayah dan ibu mertuanya.
"Kamu baik-baik di sana, Kay. Soal Alya, kamu jangan khawatir. Dia tanggung jawab kami." Ramdani menepuk pelan bahu menantunya setelah melepaskan pelukannya.
"Sholat jangan lupa, Kay. Jaga kesehatanmu, dan makan jangan sampai telat. Ingat, istri dan anakmu menunggu di sini." ujar Alma dengan suara serak.
Alma memeluk erat menantu kesayangannya. Airmata terus menetes di pipi yang mulai keriput itu.
__ADS_1
"Iya, bu. Aku akan ingat itu setiap saat!" janji Kay sambil balas memeluk ibu mertuanya.
Kay beralih memeluk istrinya erat dan mengecup kening, pipi, hidung dan seluruh wajah istri kesayangannya. Diusapnya lembut airmata yang menetes di pipi Alya.
"Aku pergi, beib. Biarkan aku melihatmu tersenyum sebelum aku pergi." Kay membelai lembut pipi Alya.
Alya pun melepas kepergian Kay dengan senyum terindahnya. Tangan yang melambai dan senyum manis ia perlihatkan di depan suaminya yang akan menjalankan tugas negara.
"Yang tegar, nak. Tunjukkan pada suamimu bahwa kamu ibu persit yang kuat dan sejati." kata Ramdani sambil memeluk bahu anaknya.
Alya mengangguk sambil menghapus airmata yang terus mengalir tanpa bisa ia tahan.
Alma memeluk Alya, seolah memberi kekuatan pada anak perempuannya.
"Ya Allah, lindungilah suamiku dalam menjalankan tugasnya. Beri ia kekuatan iman serta jiwa raganya agar ia bisa menghadapi semuanya dengan tegar. Kembalikan ia utuh untuk kami yang menantikannya di sini. Aamiin Ya Rabbal'alamiin."
*****
Kay bersandar lemas disandaran tempatnya duduk. Wajah sendu Alya terbayang terus dipelupuk matanya.
flashback on
"Serius, dek?" Abby menatap Kay lekat. Dan ia pun menghempaskan napas berat saat melihat anggukan Kay.
"Alya lagi hamil, dek. Kamu tega ninggalin dia selama itu? Jangankan lo datang ke pernikahan gue, anak lo lahir juga lo masih di sana." rasa kecewa tersirat di wajah Abby.
"Maaf ya, bang, kalo gue gak bisa hadir di acara nikahan lo. Gue gak bisa menolak tanggung jawab yang sudah gue emban. Gue minta lo bantu gue menjaga Alya dan calon anak gue." ucap Kay, sendu.
"Pasti, dek. Gue paham maksud lo. Gue akan menjaga adik ipar gue dan calon keponakan gue."
"Lama juga lo di sana, Kay. Kalo lo pulang nanti pasti anak lo udah gede. Apa lo yakin dia bakal ngenalin lo sebagai bapaknya?" tanya Egi.
"Ya lo bilanglah nanti ke anak gue kalo gue ini bapaknya, Gi. Awas lo! Jangan lo ajarin anak gue yang gak bener ya, kalo lo gak mau gue sunat abis 'serindit' lo." ancam Kay.
__ADS_1
"Gak lah, Kay. Ponakan gue harus jadi anak yang baik dan ramah, gak jadi freezer kayak bapaknya." sahut Egi, cepat sembari menghindari Kay yang hendak menjitaknya.
"Jangan lupa, lo awasin juga Arkan. Jangan sampai dia ngaku-ngaku jadi bapaknya anak gue." titah Kay, asal.
Matanya melirik kearah Arkan yang sedari tadi hanya diam saja. Abby dan Egi tertawa mendengarnya.
"Haish. Gue masih waras kali, bro! Gue juga bisa punya anak nanti kalo gue udah nikah sama Rani." sungut Arkan kesal.
Masih saja Kay cemburuan di saat dia sudah memiliki Alya seutuhnya.
Kay terkekeh.
"Kali aja lo mepet-mepetin bini gue selama gue gak ada." celutuk Kay, seenak jidatnya.
"Mending gue mepetin Rani, masih ori, gak lagi tekdung lagi." seloroh Arkan.
Egi dan Abby tergelak.
Kay mencibir.
"Kalo gue denger lo modusin bini gue, awas lo!" ancam Kay. Bogem mentah sengaja diacungkannya ke arah Arkan.
"Gue gak bakal modusin bini lo, bro. Alya bukan hanya sahabat gue, dia sudah seperti adik buat gue. Gue akan jaga Alya dan calon ponakan gue sama seperti Abby dan Egi. Gue janji!" Arkan mengacungkan dua jarinya, tanda janji yang pasti akan ia tepati.
Kay tersenyum dan mengangguk.
"Makasih, bro. Gue pegang janji lo!"
"Berangkatlah dengan tenang, dek. Percayalah kami semua di sini akan menjaga Alya dengan baik. Lakukan tugas lo dengan baik." Abby memeluk erat adik kesayangannya.
"Makasih, bang. Makasih Egi, juga Arkan. Gue titip Alya!" Kay balas memeluk Abby.
Kemudian bergantian memeluk Egi dan juga Arkan.
__ADS_1
"Aku tenang melepaskanmu ditangan orang-orang yang kupercaya, beib. Semoga kamu kuat tanpa aku."
flashback off