I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Wira Arbitama


__ADS_3

"Emak, dedek sama ayah ada di sini. Kapan emak bangun? Emak udah kelamaan bobonya. Gak capek apa tiduran mulu?" celoteh Kay sambil menepuk-nepuk tangan anaknya ke pipi Alya yang masih tertidur pulas.


Masih teringat jelas di ingatan Kay kejadian sama persis dengan yang istrinya alami sekarang.


"Aku gak nyangka semuanya akan terjadi begini, beib. Kamu mengidap tumor otak akibat kecelakaan kita dulu. Maafkan aku, beib. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Bangunlah beib, agar aku bisa menebus kesalahanku dan aku janji tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Bangunlah, beib. Demi aku dan dedek."


Kay menangis terisak sambil membelai-belai wajah istrinya.


Ditaruhya bayinya berbaring di sebelah Alya, dan ia pun ikut menaruh kepalanya di samping istrinya.


"Aku kangen kamu, beib. Buka dong matanya, biar aku bisa memandang mata cantik kamu. Bukankah kamu juga merindukan aku, beib."


Kay mengecup lembut kening Alya dan menciumi seluruh wajah istrinya. Kemudian ia merebahkan kembali kepalanya di sebelah Alya.


"Kamu tau, beib, aku selalu menunggu saat-saat pertemuan kita. Aku membayangkan kamu dan dedek menyambut kedatanganku dengan gembira. Walaupun kenyataannya tidak demikian, tapi aku tau kamu pasti senang aku sudah pulang dan kita bisa bersama lagi. Ya kan, beib?"


Tangan Kay menggenggam tangan Alya. Kay mau Alya merasakan kehadirannya.


Tiba-tiba jari Alya bergerak. Kay pun langsung duduk tegak.


"Beib? Kamu bangun, beib? Kamu sudah sadar? Beib?!!" Kay terus berusaha memanggil dan mengajak istrinya berbicara.


Cepat Kay memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.


Tak lama dokter datang.


Perawat menyuruh Kay tunggu diluar.


Kay mengambil bayinya yang ia tidurkan di sebelah Alya, dan keluar sambil menggendong bayinya.


Kay menunggu dokter yang memeriksa Alya dengan gelisah. Bayinya sudah berada digendongan neneknya.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Kay begitu dokter itu keluar.


"Bu Alya ingin bertemu dengan suaminya."


Kay pun langsung masuk setelah mengambil kembali anaknya dari gendongan mamanya.


"Beib?" panggil Kay pelan.


Senyum manis, meskipun seperti menahan sakit, Alya tunjukkan di depan suaminya. Wajah pucatnya nampak sedikit cerah.


"Habib...udah...pulang?" tanya Alya dengan suara nyaris tak terdengar oleh Kay.


Kay tersenyum mengangguk.


Bahagianya memuncak, melihat istrinya bangun dari komanya.


"Lihat anak kita, beib! Gantengkan?" Kay memperlihatkan bayi yang digendongnya pada Alya.


"Ganteng. Kayak kamu!"


Kay mengangguk, dan tersenyum penuh haru.


"Tapi senyumnya mirip kamu, beib."


Alya mengangguk lemah dan tersenyum.


"Makasih ya beib, udah kasih aku seorang bayi yang ganteng. Mudah-mudahan nanti dia menjadi anak yang soleh, pinter, penyayang, sopan dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama."


"Aamiin."


Kay mengecup lembut kening istrinya. Airmata haru pun menetes di pipi Alya. Dadanya pun sesak seketika, hingga napasnya pun tersengal.


"Beib? Beib? Kamu kenapa?" Kay langsung panik.


"Dokter! Dokter! Istri saya...dok...dokter!!!"


"Bib...tolong...jaga...ded...dek...dedek...Wira." Alya membelai lemah pipi Kay yang terus menangis.


"Beib, kita akan jaga dedek sama-sama, beib. Kamu pasti sembuh." Kay mencium lembut tangan Alya.


Napas Alya makin tersengal.


"Jangan tinggalin aku, beib. Aku mohon!"


"Aku...cinta...kamu...Habib!"


"Aku juga cinta kamu, beib!"


Kay membimbing istrinya mengucapkan dua kalimat syahadat.


"Asyhadu an laa ilaaha illallahu, wa asyhaduanna muhammadar rasulullah!"


Dengan lemah dan napas yang tersengal, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Alya pun menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang.


Tangis pun pecah diruangan itu.


Kay mengusap airmatanya yang terus mengalir. Diciumnya lama untuk terakhir kalinya wajah istrinya yang mulai dingin.


"Innalillahi wa innailaihi raaji'uun. Selamat jalan beib, tunggu kami di surga Allah."


Pelukan erat ayah mertuanya membuat sesak di dada Kay. Apalagi saat melihat anak semata wayangnya yang sudah menjadi piatu disaat umur yang baru beberapa hari itu.


Dilihatnya juga ibu mertuanya yang pingsan, tak sanggup menerima kenyataan anak kesayangan satu-satunya sudah tidak bersama mereka lagi.


Kay mengambil anaknya digendongan mamanya yang juga sedang menangis.

__ADS_1


"Adek yang kuat, ya? Masih ada dedek yang butuh adek." Karin memeluk Kay yang hanya diam sambil menggendong anaknya yang menangis karena terbangun.


"Biar abang yang gendong dedek, dek." Abby mencoba mengambil dedek.


"Gak usah, bang. Aku gak pa-pa, kok."


"Yang sabar ya, dek?"


Kay mengangguk pelan.


"Gantengnya ayah, mulai sekarang kita harus bisa menjalani hidup berdua. Kita do'akan semoga emak tenang disisi-Nya. Dan semoga amal ibadah emak diterima Allah SWT. Aamiin."


"Aamiin."


Mereka masing-masing mengucapkan do'a di dalam hati.


Do'a tulus untuk anak, menantu, istri, ibu, sahabat mereka yang sangat mereka sayangi.


"Semoga kamu juga kuat menjalani hidup kamu kedepannya, Kay. Do'a kami semua yang terbaik untuk kamu dan dedek."😓😓


Keesokan harinya disaat para pengantar sudah kembali ke rumah masing-masing, Kay masih setia duduk di samping pusara istrinya.


Abby, Egi dan Arkan berdiri tak jauh dari Kay.


Airmata Kay terus mengalir deras meski tak terdengar suara Kay menangis. Diusapnya nisan kayu yang tertancap di atas kuburan istrinya.


"Aku pulang untuk kamu, beib. Tapi kenapa kamu malah ninggalin aku? Apa kamu marah aku ninggalin kamu, beib, hingga kamu mau balas dendam sama aku? Kamu tega, udah ninggalin aku dan dedek. Kami butuh kamu, beib. Kami mau kamu terus bersama kami. Tolong datang ke dalam mimpi kami, beib. Jangan biarkan kami merana. Tolong, beib!" keluh Kay, tanpa terisak. Dadanya semakin sesak.


Kay pun jatuh tertelungkup di atas pusara Alya.


"Dek?" panggil Abby, setelah agak lama Kay diam dengan posisinya seolah memeluk pusara istrinya.


"Dek?!" panggil Abby lagi.


Kali ini dengan nada cemas karena Kay masih diam tak bergerak.


Egi berinisiatif menengok wajah Kay. Dilihatnya Kay seperti tertidur. Lalu Egi memeriksa denyut nadi Kay. Lemah. Egi menoleh ke arah Abby dan Arkan.


"Kenapa, Gi?" tanya Abby.


"Denyut nadi Kay lemah, bang..."


"Ayo kita bawa pulang ke rumah."


Arkan langsung mengangkat tubuh Kay yang ternyata pingsan, dibantu oleh Abby.


Egi membuka pintu mobil dan kemudian masuk kedalamnya. Tubuh Kay dibaringkan dipangkuan Egi.


"Kan, lo bawa mobil. Badan gue gemetar."


Suasana rumah yang masih ramai dengan para pelayat, makin tegang saat melihat tubuh Kay dibopong masuk oleh Egi, Abby dan Arkan.


"Adek!!" teriak Karin histeris melihat Kay yang tak sadarkan diri.


Alma hanya bisa menangis sesenggukan sambil memeluk cucunya yang ia gendong.


"Dedek yang kuat, ya. Jangan bikin ayah semakin sedih. Dedek jadi anak yang baik, yang soleh, dan bisa membanggakan ayah, nenek dan abok ya?" Alma terus menciumi cucu satu-satunya yang ditinggalkan Alya untuk mereka.


Elsa dan Rani yang dari tadi bersama Alma ikut menangis melihat anak Alya.


Rasa iba timbul saat menyadari bahwa bayi mungil itu kini sudah tidak memiliki ibu lagi.


Bella memapah Karin menemui Kay dikamarnya.


"Dek. Bangun, dek. Ini mama, sayang." Karin menepuk-nepuk pelan pipi Kay.


"Coba di kasih minyak angin, ma." Bella mengeluarkan minyak angin dari dalam tasnya dan memberikannya pada ibu mertuanya.


Karin pun mengoleskan minyak angin itu ditengkuk, dada dan pelipis Kay.


"Dek?!"


Kay terlihat mulai sadar. Pelan ia membuka matanya, lemah.


"Akh!"


Kay merasakan sakit dikepalanya.


"Dek?!"


Kay melihat sekelilingnya. Ternyata dia sudah dikamarnya dengan Alya.


"Pasti abang, Egi dan Arkan yang membawaku pulang. Mereka tadi kan menungguku dikuburan?!" pikir Kay.


"Kamu gak pa-pa kan, dek?" tanya Karin cemas.


"Gak pa-pa, ma. Aku tadi cuma agak pusing sedikit." jawab Kay, pelan.


"Dedek mana, ma?" tanyanya kemudian.


"Tadi digendong ibu mertuamu."


Kay beranjak bangun dari tempat tidurnya.


"Kamu mau kemana, dek?" tanya Karin sambil membantu Kay berdiri.


"Mau ambil dedek. Kasihan ibu, belum sempat istirahat. Pasti ibu capek." kata Kay.

__ADS_1


Dengan langkah masih terlihat lemas, Kay berjalan menghampiri ibu mertuanya, dan duduk disebelahnya. Kay menaruh kepalanya di bahu ibu mertuanya dengan lemah.


"Bu, maafin aku yang gak bisa jaga anak ibu. Karena aku, Alya pergi meninggalkan kita." ucap Kay, sedih.


"Jangan bicara seperti itu. Semua sudah takdir, kita tidak bisa menolaknya. Alya pergi memang sudah jalan dari-Nya. Kita do'akan semoga istrimu tenang disisi-Nya." Alma membelai lembut rambut menantunya.


"Kalau saja aku tidak pergi tugas dan selalu mendampingi Alya pasti..."


"Sst. Sudah, jangan diteruskan. Ikhlaskan saja. Alya tidak pergi. Dia selalu ada di dalam hati kita."


Kay diam. Tangannya membelai pipi anaknya.


"Ingat, Kay. Kamu harus tegar, demi dedek!" kata Alma.


Kay masih diam.


"Kay! Kamu harus janji sama ibu. Kamu harus tetap kuat dan bersikap seperti prajurit sejati. Ibu mau Kay yang dulu. Kamu janji?"


Mata Alma menatap tepat manik mata menantunya yang terlihat tampak putus asa.


"Kay!!" Alma mencengkram bahu Kay, kuat.


"Iya." Kay menjawab pelan.


"Lettu Kay Arbitama!!"


"Siap, bu. Aku janji!!" jawab Kay tegas.


Alma tersenyum. Semua yang ada di sana ikut tersenyum mendengarnya.


"Bagus. Jadilah ayah yang baik dan tegas untuk anakmu. Jadikan dia seorang yang berakhlak dan bermartabat. Sama seperti kamu, menantu kesayangan ibu." Alma memeluk Kay, penuh haru. Airmatanya pun jatuh tanpa bisa ia tahan.


Kay mengangguk dan balas memeluk Alma, erat.


*****


Enam tahun kemudian.


"Wira Arbitama! Kamu sudah siap?!"


"Siap, ayah!"


"Bagus. Ayo kita sarapan dulu."


Kay menggenggam tangan anaknya yang sudah siap dengan seragam sekolah lengkap dengan tas dipundaknya dan sudah memakai sepatunya.


Saat ini bocah tampan itu sudah duduk dibangku sekolah dasar kelas I.


"Aduh, cucu nenek sudah ganteng. Mandinya bersih gak?"


"Bersih dong, nek. Wira kan pinter, bisa mandi sendiri." Wira, menepuk dadanya pelan.


"Cucu siapa dulu?"


"Cucu abok, dong!" Wira berlari memeluk kakeknya yang ia panggil abok.


Sang abok pun memeluk cucunya erat dan menciumnya, gemas.


"Wanginya cucu abok. Udah ganteng, wangi, pinter...pasti ibu guru sayang ya sama Wira?" tanya abok.


"Iya dong, bok. Bukan hanya bu guru, cewek-cewek disekolah Wira juga suka sama Wira, bahkan ada yang mengajak Wira menikah."


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Kay tersedak mendengar celotehan anak bujangnya.


Alma menyodorkan air minum pada Kay sambil menahan tawa. Sedangkan Ramdani terkekeh geli.


"Sudah ngobrolnya. Cepat makan, Ayah akan mengantar kamu." kata Kay.


"Iya, ayah." tanpa banyak bicara Wira pun cepat menghabiskan sarapannya.


Sejak kecil Wira di didik Kay untuk mandiri. Mandi, makan, tidur, bangun tidur dan berpakaian, semua diajarkan Kay ala militer. Semua harus tepat waktu.


Meskipun Kay tidak memaksa Wira untuk harus menuruti keinginannya, tapi Wira mampu melakukan dengan baik apa yang ayahnya ajarkan.


Wira tumbuh menjadi anak yang mandiri dan tidak manja, meskipun dua neneknya, dua aboknya, opa Sandy, juga om-omnya selalu memanjakannya.


Sejak bayi pun Wira jarang rewel. Dia seolah mengerti dengan keadaan ayahnya yang single parent.


Tapi Wira pun tidak kekurangan kasih sayang ibu karena para tante-tantenya, Elsa, Rani dan Bella selalu menyayanginya dan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.


Kay turun mengantarkan Wira sampai masuk gerbang sekolah.


"Wira belajar yang giat, jangan bikin ibu guru marah. Ingat?!" petuah Kay sebelum anaknya masuk ke dalam kelas.


"Ingat, yah!"


"Pinter." Kay mengucek rambut anaknya, pelan. "Ayah berangkat kerja dulu, ya?"


"Siap, komandan!" ucap Wira lantang membuat Kay tersenyum geli. Wira lalu mencium punggung tangan ayahnya.


Kay masuk ke dalam mobilnya setelah Wira masuk ke kelasnya.


"Anak kita sudah besar, beib. Semoga dia menjadi anak yang seperti kita harapkan. Aamiin."


__ADS_1


__ADS_2