I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Curahan Hati Arkan


__ADS_3

"Dimana yang sakit, Ran? Kita ke rumah sakit ya?" Arkan cemas melihat Rani yang nampak lemah. Pipinya membiru dan darah mengalir di sudut bibirnya yang pecah.


Saat ini mereka sudah dikosan Rani. Abby sudah pamit dari tadi karena ada janji dengan pacarnya, Bella.


"Gak usah, Ar. Aku gak pa-pa. Aku di kos aja." Rani mencoba untuk bangun, tapi tenaganya masih lemah sehingga ia pun terbaring lagi. Arkan membantu Rani duduk.


"Tapi kamu sakit, Ran. Di kos kamu gak ada temennya. Mending di rumah sakit ada yang merawatmu nanti." Arkan tidak tega melihat Rani yang nampak lemah.


"Lukaku gak parah, Ar. Aku masih bisa kok ngerawat aku sendiri." tolak Rani, halus.


"Kamu masih lemah, Ran. Aku gak tega ninggalin kamu sendirian lagi sakit gini." Arkan membelai lembut rambut Rani.


"Gini aja deh, Ar. Ntar gue minta izin ibu nemenin Rani di kos."


Alya yang paham dengan Arkan yang mencemaskan Rani berusaha untuk membantu.


"Kenapa gak Rani aja yang tinggal di rumah kamu, dek?" Sandy tampaknya kurang setuju.


"Kampus kan lebih deket kos Rani daripada rumah, bang. Jadi aku gak susah-susah nunggu angkot kalo mau ke kampus." jelas Alya.


"Ntar gue temenin lo minta izin ibu, Al." Arkan nampak antusias mendengar usul Alya.


"Eh, sejak kapan kamu manggil ibunya Alya ibu? Aku aja yang udah tunangan sama Alya masih manggil tante." Sandy menatap Arkan, cemburu.


"Haishh! Baperan amat sih lo, bang." Arkan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sejak gue temenan ama Alya, ibu udah gue panggil ibu, sama ayah juga. Jangan cemburuanlah. Gue sama Alya sekarang kan kakak adek, gak lebih." jelas Arkan.


"Tauk tuh, Abang. Lagian kan Arkan udah punya Rani. Sensi amat." sahut Alya, jengah dengan kecemburuan tunangannya yang terlalu over.


Sandy nyengir.


"Maaf ya, dek. Abang agak sensitif kalo sama Arkan. Kan dia mantan kamu." Sandy cengengesan, memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi.


Bola mata Alya memutar malas, menatap Sandy jengah.


"Aku jadi pengen liat gimana reaksi kamu kalo nanti kamu tau Kay itu mantan terindahku, bang." batin Alya berteriak, kesal.


"Ar, mending lo di sini dulu nemenin Rani. Biar gue yang minta izin ibu."


"Abang temenin ya, dek?"


"Gak usah kalo gak ikhlas!" Alya masih nampak kesal.


"Jangan ngambek dong, dek. Sedih abang kalo adek ngambek." Sandy menggenggam tangan Alya.


"Gimana kalo sebelum pulang kita jajan baksonya mang Arman dulu. Kita taruhan, siapa yang bisa ngabisin bakso lebih banyak boleh minta sesuatu. Gimana?" bujuk Sandy.


Alya nampak berpikir. Lalu, "Oke! Yang kalah harus bisa jepret cicak sepuluh ya?" tambah Alya.


"Boleh. Siapa takut?!" sahut Sandy.


"Kalo gitu...kita kemon now." Alya memberi isyarat agar Sandy mengikutinya dengan gaya tangan melambai.

__ADS_1


"Kami pulang dulu ya, bro?" pamit Sandy sebelum melangkah cepat menyusul Alya yang telah pergi lebih dulu tanpa pamitan.


Arkan geleng-geleng kepala melihat kejahilan Alya yang sengaja 'ngerjain' tunangannya.


"Gak pake berubah tuh anak, udah punya tunangan masih aja tengil." gumam Arkan, geli.


"Kamu dan Alya emang dulu pernah pacaran ya, Ar?" tanya Rani setelah Alya dan Sandy pulang.


Arkan menghampiri Rani yang masih bersandar di tempat tidurnya.


"Panjang dan lama kalo diceritakan, Ran. Ditambah pahit kalo di ingat." Arkan terduduk lesu di sebelah Rani.


"Aku ada waktu kok kalo kamu mau cerita." Rani menepuk pelan punggung tangan Arkan.


Arkan menghela napas panjang. Dan mulai bercerita.


"Aku dan Alya dulu temen sebangku. Dia satu-satunya teman cewek yang akrab denganku, karna dulu aku suka minder kalo dekat cewek."


"Serius?" tanya Rani gak percaya.


"Seriuslah! Aku juga awalnya heran kenapa aku gak risih kalo di dekat Alya. Mungkin karena Alya tomboy makanya aku nyambung kalo deket dia. Alya juga yang bantu aku jadi pede dan gak grogi lagi kalo deket cewek."


"Terus?"


"Setelah hampir dua taun akrab, aku mulai merasa perasaanku sama Alya berubah. Aku jadi selalu rindu dan memimpikan Alya. Setiap Alya telat masuk kelas atau malah absen, aku jadi uring- uringan. Aku tau aku sudah jatuh cinta sama cewek tomboy itu. Dan sampai akhirnya, aku beranikan diri menyatakan perasaanku sama dia di depan kelas waktu pelajaran kosong.


Semua teman- teman sekelas mendukung kami. Dan Alya pun menerima cintaku. Kami sangat bahagia waktu itu, dan merangkai kisah cinta yang indah sampai..." Arkan terdiam. Sesak didadanya bila mengingat semua ketololannya.


Rani juga diam, menunggu Arkan melanjutkan ceritanya.


Rani masih diam.


flashback on


"Ar, malam ini temenin aku cari buku ya?" Alya menoleh Arkan yang sedang bersandar santai dibangkunya.


"Kemana?" tanya Arkan cuek.


Alya diam menatap Arkan, dalam. Yang di tatap makin cuek aja.


"Kamu kenapa, Ar? Kamu marah sama aku?" tanya Alya sambil menarik tangan Arkan agar menatapnya.


"Gak! Kenapa harus marah? Emang kamu punya salah apa sama aku?" tanya Arkan, masih dengan sikap cueknya.


Alya menarik napas berat.


"Kalo kamu masih marah karena masalah semalam, aku minta maaf. Aku belum siap untuk itu." ujar Alya lirih.


Arkan tersenyum sinis.


"Jangan salahkan aku kalo aku mendapatkan itu dari cewek lain, Al." ancam Arkan.


Alya diam membeku. Bibirnya membisu dan lidahnya pun terasa kelu.

__ADS_1


Malamnya,


"Kamu yakin mau putusin Alya demi aku, Kan?"


"Iyalah. Kamu kan lebih cantik dan perhatian sama aku. Kamu juga bisa kasih sesuatu yang aku mau, yang gak bisa Alya kasih buat aku." ucap Arkan semanis madu sambil mengecup lembut bibir kekasih gelapnya.


Wulan mengalungkan tangannya ke leher Arkan, manja. Ia sangat menikmati perlakuan mesra dari Arkan.


Malam ini malam minggu. Tapi bukannya ngapel ke rumah Alya, Arkan malah bercumbu mesra dengan Wulan di rumah gadis itu.


"Aku senang kamu lebih memilih aku, Kan. Aku udah lama naksir kamu, tapi kamu malah pacaran sama si tomboy itu." Wulan memeluk Arkan manja.


"Apa-apaan ini, Ar!"


Alya yang datang ke rumah Wulan dengan niat ingin curhat masalahnya dan Arkan, malah mendapati sebuah kenyataan pahit.


Alya melihat Arkan sedang bermesraan dengan Wulan, tetangga yang juga sahabatnya.


"Kalian...selingkuh?" Alya menggeleng tak percaya.


Arkan tersenyum kecut, "Kan udah gue bilang ke elo, jangan salahkan gue kalo gue cari kepuasan dari cewek lain."


"Tapi..."


"Makasih ya, Al. Berkat sikap sok suci lo, Arkan jadi milih gue daripada lo." Wulan tersenyum menyeringai.


Alya menatap dua orang yang paling dekat dengannya, yang kini sudah mengkhianati kepercayaannya, dengan hati luka.


"Gue gak nyangka lo berdua tega berbuat ini sama gue. Entah apa dosa gue sampai harus mengalami kesakitan seperti ini..." Alya terus menggeleng-geleng kepalanya, masih tak percaya dengan semua yang dialaminya.


Lalu Alya pun pulang dengan hati luka yang teramat sangat dalam.


Arkan memandang sendu gadis yang telah sengaja ia sakiti hatinya. Ada getir didalam hatinya saat menyadari betapa jahatnya dia sama Alya, hanya gara-gara sebuah 'ciuman' yang belum siap Alya berikan untuknya.


flashback off


"Aku merasa berdosa banget sama Alya, Ran. Aku jahat udah mengkhianati dia." Arkan terisak, mengingat luka yang dulu ia torehkan di hati gadis baik seperti Alya.


Rani mengusap-usap punggung Arkan, mencoba menenangkannya.


"Tapi Alya sekarang udah maafin kamu kan, Ar? Buktinya kalian akrab lagi."


Arkan tersenyum.


"Alya memang gadis baik, Ran. Dia mau maafin aku meskipun aku harus jungkir balik cari muka agar dia mau memaafkan aku. Pengorbananku pun gak sia-sia."


Rani mengangguk setuju.


"Alya memang baik. Aku senang bisa temenan sama dia. Meskipun agak sedikit nyablak sih." ucap Rani jujur.


Arkan tertawa.


"Iya. Tapi nyablaknya itulah yang dulu bikin aku klepek-klepek sama dia."

__ADS_1


"Hahahaa! Kayak lagu dong?!"


Rani tertawa terbahak. Arkan ikutan ngakak.


__ADS_2