I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Kenangan Cinta


__ADS_3

🎵Saat ku sendiri


ku lihat foto dan vidio


bersamamu


yang t'lah lama ku simpan


Hancur hati ini


melihat semua gambar diri


yang tak bisa ku ulang kembali


Kuingin saat ini


engkau ada di sini


tertawa bersama ku seperti dulu lagi


Walau hanya sebentar


Tuhan, tolong kabulkanlah


bukannya diri ini


tak terima kenyataan


hati ini hanya rindu


Segala cara telah kucoba


agar aku bisa tanpa dirimu


namun semua berbeda


sulit ku menghapus


kenangan bersamamu


Kuingin saat ini


engkau ada di sini


tertawa bersamaku seperti dulu lagi


walau hanya sebentar


Tuhan, tolong kabulkanlah


bukannya diri ini tak terima kenyataan


Hati ini hanya rindu!🎶


... ***Hanya Rindu - Andmesh***...


 


Mata terpejam, hati bergetar.


Kay rasakan rindu yang teramat sangat pada almarhumah istrinya yang tercinta.


"Beib, minggu depan Dedek akan menikah. Kita akan punya menantu, beib. Andai kamu di sini, pasti kamu lebih bahagia dari kami, beib."


Kay membelai lembut foto Alya yang tengah tersenyum manis. Alya memang sangat cantik, terutama dimata Kay Arbitama.


Bagi Kay tidak ada seorang wanita pun yang secantik dan seenergik Alya.


"Kamu tau beib, menantu kita sangat cantik. Tapi tetap cantikkan kamu."


Kay senyum-senyum sendiri. Tangannya masih terus mengusap foto Alya.


"Melihat Rara, aku seperti melihatmu, Alya. Dia baik, ramah dan penuh semangat. Dan itu juga yang bikin Dedek jatuh cinta sama Rara. Aku tau itu setelah mengancam Dedek untuk bercerita. Hee!"


Kay tertawa, geli sendiri.


"Mungkin saat ini Rara terpaksa menerima Dedek karna aku dan Hadi yang mau mereka bersatu. Tapi aku yakin, beib. Suatu hari nanti Rara pasti bisa menerima Dedek sepenuh hati dan akan mencintai Dedek setulus hati."


Kay menengadah, menyandarkan kepalanya disandaran sofa yang didudukinya.


"Kamu juga dulu gitu kan, beib. Kamu dulu nolak aku terus. Tapi aku gak mau menyerah, beib. Aku yakin kamu akan jadi milik aku. Dan terbuktikan, beib. Aku beruntung bisa memiliki kamu dan Dedek. I love you forever, beib. Nobody else but you! I miss you!"


Kay mengecup lama bingkai foto yang dipegangnya. Airmata pun bergulir pelan dipipinya.


"Yah!"


Entah sejak kapan Wira datang dan berdiri dibelakang Kay. Seragam polisinya masih melekat ditubuhnya yang tegap.


Kay mengusap pipinya sebelum menoleh ke arah Wira.


"Sudah selesai, Dek?" tanyanya kemudian.


"Hm!"


"Lancarkah?"


"Alhamdulillah!"


Wira mengambil bingkai foto ditangan ayahnya, mengusap gambar dibingkai itu, lalu menciumnya lama.

__ADS_1


"Mak, aku tadi udah selesai nikah kantor. Minggu depan baru akad nikahnya. Mak restui aku ya? Doakan agar aku bahagia bersama istriku ya, Mak. Doakan cinta kami awet seperti cinta ayah buat emak." kata Wira.


Kay tersenyum sambil merangkul bahu Wira.


"Udah lega sekarang?" tanyanya.


"Belum, Yah." jawab Wira jujur.


"Udah hapal belum ijab kabulnya?"


"Udah sih!"


Kay menepuk pelan bahu putra tunggalnya.


"Rileks, Dek. Jangan tegang. Biarkan keteganganmu buat malam pertama aja." ujar Kay, kalem.


Wira melotot.


Kay menaik-turunkan alisnya, menggoda sang anak.


"Apa-apaan nih, Ayah. Tadi nangis-nangis, sekarang malah ledekin gue."


Wira menatap ayahnya, jengah.


"Biasa aja Dek, liatin ayah segitunya. Pasti lagi ngebayangin malam pertama ya?" goda Kay, lagi.


"Apaan sih, Yah? Malu-maluin aja!" sungut Wira.


"Malu sama siapa? Kita cuma berdua di rumah."


"Kata siapa?" tanya Wira.


"Eh?"


Kay menatap Wira, bingung.


"Emang kamu pulang gak sendirian?"


"Gak!"


"Kamu ajak Rara ke sini, Dek?"


Wira mengangguk.


"Assalamualaikum, Om!"


Aura mengucap salam, lalu mencium punggung tangan Kay.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa gak bilang dari tadi, Dek? Kalo tau Rara mau ke sini ayah pasti siap-siap."


"Siap-siap buat apaan?" tanya Wira tak mengerti.


"Ya...paling gak ayah bisa tampil keren di depan Rara, Dek." ujar Kay, genit.


"Ingat umur, Yah. Ini calon mantu ayah, bukan calon ibu aku." Wira ngedumel, malu dengan kelakuan ayahnya di depan Aura.


"Loh...itu karna ayah ngalah aja sama kamu, Dek. Kalo bukan demi kamu dapat istri biar gak jadi bujang lapuk, gak bakalan ayah ngalah."


"Aku masih dua puluh empat, Yah. Gak mungkinlah jadi bujang lapuk." sergah Wira, keki disebut ayahnya bujang lapuk.


"Kejem banget si ayah, ngatain gue bujang lapuk. Nyeri...nyeri...nyeri..." batin Wira menjerit, protes.


"Masalahnya, gak ada yang mau sama kamu, Dek. Jadi cowok kok kaku banget. Untung aja Rara yang cantik mau nerima kamu."


"Deuh, gak nyadar diri! Emangnya aku kaku gini turunan siapa coba?!" dengus Wira.


Ayahnya memang suka menjahilinya, karna Wira mirip emaknya, suka ngambekan.


Kay terkekeh, seraya nyengir lucu.


Aura hanya tersenyum geli mendengar dua pria tampan beda genre itu debat kusir.


"Lucu juga mereka ini. Pasti hepi aku nanti kalo jadi bagian dari keluarga mereka." Aura membatin senang.


"Rara makan siang di sini aja, ya? Kebetulan tadi ayah masaknya banyak." kata Kay.


"Om bisa masak?" tanya Aura, takjub.


"Bisa dong. Gak kayak suami kamu ini, bisanya cuma makan doang." masih saja Kay meledek Wira.


"Udah deh, Yah. Aku bisa masak juga kok!" sahut Wira cepat.


"Oh ya?"


Aura menatap Wira, tak yakin.


"Masak apa?" tanya Kay.


"Masak aer aja gosong pancinya." ledek Kay.


"Ishh! Bukannya baik-baikin aku, malah bongkar yang jelek-jelek. Gak usah dibilangin juga Rara udah tau, Yah. Orang dia yang suka ngejelekin aku kalo di kantor."


"Kok aku?"


Aura mendelik sewot.


"Iyalah, kamu. Kan kamu emang sering jutekin aku." sahut Wira, cepat.


"Tapi kan kamu yang mulai!" sanggah Aura.

__ADS_1


"Gak tuh! Emang kamunya aja yang rese!" tuduh Wira.


"Kamu nyebelin!" sungut Aura, kesal.


"Siapa?" tanya Wira seolah budek.


"Bukannya kamu yang nyebelin?!" sahutnya lagi.


"Kamu!"


"Kamu!"


"Kamu!"


Ekhem!


Deheman Kay membuat pasangan calon pengantin itu langsung terdiam. Keduanya pun sama-sama menunduk, takut.


"Udah berantemnya?" tanya Kay.


Wira dan Aura masih diam, tak berani bersuara.


"Ntar ayah buatin ring plus papan rekor dibelakang buat kalian tarung. Tapi habis makan ya, ayah udah laper ini. Makan dulu yuk?"


Kay mengajak anak dan menantunya makan. Mereka pun pergi keruang makan dan menikmati makanan yang di masak Kay.


"Enak, Om!" puji Aura setelah mencicipi masakan Kay.


"Panggil ayah ya, cantik. Kan kamu sudah jadi anak ayah." kata Kay.


Aura mengangguk, malu-malu.


"Nanti ajarin Rara masak ya, Yah. Rara belum bisa masak." pinta Aura.


Kay tertawa.


"Gak pa-pa, cantik. Emaknya Wira juga dulu gak bisa masak, tapi ayah tetap memakan apa pun yang dia masak sekalipun rasanya jauh dari ekspektasi."


Kay tersenyum geli ketika teringat waktu Alya memasakkannya cumi goreng yang asiiiinnn banget.


Tapi demi rasa cintanya yang membara pada Alya, Kay memakan cumi goreng asin itu sampai habis dipiringnya.


Kay ingat waktu itu Alya merajuk karena Kay menghabiskan semua cumi goreng itu tanpa menyisakannya untuk Alya.


Intinya, Alya tidak tau bagaimana rasa dari hasil masakannya.


"Ayah so sweet banget!"


Aura menatap Kay, takjub.


"Biasa aja." sahut Wira, cuek.


Aura memutar bola matanya, malas.


"Aku jadi pengen liat gimana reaksi kamu nanti kalo nyicipin masakan aku." ujar Aura, seolah sedang berpikir.


"Apa kamu bisa bersikap romantis seperti ayah ke emak?" tantang Aura, lelah dengan sikap cuek Wira.


Kay terkekeh.


"Ditantangin kamu, Dek. Bisa gak?" goda Kay.


Wira garuk-garuk kepalanya, Bingung.


"Liat aja ntar." jawabnya tak yakin.


Aura mencibir.


"Awas ya kalo kamu nanti bilang gak enak. Nih!" Aura mengancam dengan mengacungkan bogemnya.


"Enggak, Yank! Peace!!!" sahut Wira cepat, dan mengacungkan dua jarinya.


Aura mengerucutkan bibirnya.


"Akhh! Ngegemesin deh kamu!" Wira mencubit pipi Aura, gemas.


"Sakit, Habib!!!" jerit Aura, tertahan.


Sambil memegang pipinya yang memerah, mata Aura menoleh ke arah Kay yang duduk diantaranya dan Wira.


Kay lalu berdiri dari duduknya.


"Mau kemana, Yah?" tanya Wira.


"Mau ke kamar. Kalian makan aja dulu, ayah nanti nyusul."


Wira dan Aura saling berpandangan.


Setelah Kay pergi,


"Bib, ayah marah ya sama kita?" tanya Aura, takut.


"Gak tau."


"Aku takut ayah marah, Bib."


"Ayah gak mungkin marah sama kamu, Yank. Ayah sayang banget sama kamu."


Wira menggenggam tangan Aura, mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan ayah gak lagi marah."


Lanjutkah???


__ADS_2