I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Hampir Saja


__ADS_3

"Mau ya beib, please! Mama maksa aku terus buat pergi ke pesta ultahnya Elsa."


"Gue gak suka ke pesta, Ngil. Lo pergi aja bareng abang lo dan Egi. Lagian gue juga gak diundang. Gue gak mau ntar Elsa ngamuk liat gue." tolak Alya.


"Ayolah, beib. Temenin aku ya? Ya?" rengek Kay sambil terus memegang tangan Alya, memohon.


"Gue gak mau..."


"Please, beib! Please!" Kay sampai menyembah-nyembah Alya.


(Apaan nih bocah? Emangnya Alya berhala sampe di sembah segala.)🤦‍♀


Alya menarik napas panjang. "Tapi gue gak punya gaun, gak pake gaun gak pa-pa ya?" Alya bingung. Alya memang tidak membawa gaunnya karena dia pergi kerumah oomnya tanpa pernah berpikir bahwa ia akan pergi ke pesta. Sepupunya, Egi juga cowok, jadi gak mungkin Egi punya gaun kan?


"Kita beli aja, yuk?!" ajak Kay. Alya meringis sambil garuk kepalanya yang tak gatal.


"Gue gak ada duit." Alya nyengir. Giginya yang putih tampak berderet rapi.


Kay tersenyum.


"Aku yang bayarin nanti." katanya kalem.


"Let's go deh kalo gitu."


Kay dan Alya pun pergi ke mall yang cukup terkenal di kota itu. Dengan sabar Kay membantu Alya memilih gaun yang akan dipakainya ke pesta nanti malam.


Setelah cukup lama memilih, "Yang ini bagus gak, Ngil?" Alya keluar dari ruang ganti memakai gaun yang cukup membuat Kay terpana, takjub.


Sebuah mini dress cantik berwarna biru langit menambah anggun penampilan Alya yang biasanya terkesan cuek dengan kaos dan jeansnya.


"Ngil! Kok diem sih? Gue jelek ya?" tanya Alya mengagetkan Kay dari lamunannya.


"Ah...eh...gak beib, kamu cantik banget. Udah kita beli yang ini aja ya? Aku suka yang ini." ujar Kay, jujur.


"Terserah. Kan lo yang bayar." Alya kembali masuk ke dalam ruang ganti.


Setelah membayar belanjaan mereka, Kay pun mengantar Alya pulang ke rumah Egi bersiap-siap untuk acara nanti malam. Kay pulang kerumahnya juga untuk mandi dan berganti pakaian.


Jam tujuh lewat tiga puluh menit, Kay datang menjemput Alya. Kay memakai kemeja berwarna senada dengan gaun yang dibeli Alya tadi, dipadu dengan celana bahan hitam yang membuat penampilannya makin terlihat keren dan tampan.


"Beib, udah siap belum?" Kay mengetuk pintu kamar Alya.

__ADS_1


"Bentar, Ngil."


Tak Lama, Alya keluar dari dalam kamarnya dan menemui Kay yang menunggu di teras depan.


"Yuk Ngil, kita pergi..."


Alya menatap Kay setengah terpesona, dan demikian juga dengan Kay. Mereka sama-sama terpana.


"Ternyata lo ganteng juga ya, Ngil. Jadi keder gue jalan ama lo." puji Alya jujur.


"Bisa aja lo, beib. Aku lah yang harusnya grogi bisa jalan bareng cewek cantik kayak kamu." Kay nyengir malu.


"Lo lihat gue cantik dari lobang pipet ya?" Alya menoel pelan jidat Kay.


"Aku serius, beib. Kamu cantik banget!" ucap Kay jujur.


"Mau pergi atau ngegombal terus nih?" tanya Alya cepat, untuk menutupi kegugupannya yang tiba-tiba muncul.


"Yuk, pergi!"


Sepuluh menit kemudian, Kay dan Alya sampai ditempat tujuan. Bunyi musik menghentak dan suasana yang meriah cukup membuat Alya merasa kurang nyaman. Entah kenapa tiba-tiba saja Alya jadi tak enak hati.


"Kok perasaan gue gak enak ya, Ngil? Mata gue nyut-nyutan dari tadi, kayaknya bakalan liat sesuatu deh." keluh Alya.


"Rileks, beib. Gue di sini jagain lo. Pegang tangan gue." Kay mengulurkan tangannya agar Alya memeluknya. Alya tersenyum manis. Digenggamnya dengan senang hati tangan Kay dan mereka pun masuk ke dalam menemui yang berulang tahun.


****


Elsa tersenyum senang melihat sosok Kay muncul.


"Duh gantengnya honey gue! Jadi pengen cium." Elsa senyum-senyum sendiri membayangkan betapa macho dan kerennya Kay yang datang langsung memeluknya hangat dan menghadiahinya sebuah kecupan dibibirnya. Elsa sudah sering kali membayangkan itu.


Tapi, demi melihat sosok mungil yang berjalan dibelakang Kay, dan digenggam erat oleh tangan Kay, membuat suasana hati Elsa buram seketika.


"Kenapa sih Kay harus mengajak cewek itu? Seberapa spesialnyakah cewek itu di mata seorang Kay Arbitama?"


"Selamat ulang tahun." ucap Kay, dingin. Wajah tampannya datar lempeng aja tanpa senyum saat menyalami Elsa. Sikap dinginnya kembali muncul.


"Makasih ya honey, kamu udah datang..." Elsa hendak memeluk Kay dan menciumnya. Tapi dengan cepat ditahan oleh Kay dengan menarik tangan Alya hingga gadis itu berada dipelukan Kay.


"Ehh...ee...Selamat ulang tahun." ucap Alya kikuk, sambil memberikan sebuah kado pada Elsa yang merengut masam.

__ADS_1


Tanpa menoleh Elsa buang muka, marah. Alya nyengir maklum melihatnya.


"Kita ke sana yuk, beib." Kay mengajak Alya ke tempat dimana Egi dan Abby duduk tanpa menggubris Elsa yang manyun.


"Hai, Al! Lo cantik banget malam ini." puji Abby yang terpesona melihat cewek yang datang bersama adiknya itu.


"Makasih!" jawab Alya, dingin. Egi menatap Alya, heran.


"Lo jangan muji Alya kayak gitu, bang. Cuma gue yang boleh bilang Alya cantik." Kay menatap Abby, tak suka. Digenggamnya erat tangan Alya seolah takut Alya akan diambil orang.


"Ihh, posesif amat lo, dek. Emang kalian udah pacaran?" tanya Abby geli melihat Kay yang tiba-tiba bucin banget.


"Pokoknya gak boleh! Titik!"


Abby dan Egi tertawa ngakak. Kay melengos cuek. Sedangkan Alya masih dengan tatapan dinginnya duduk diam di sebelah Kay.


Tiba-tiba, seorang yang cukup Alya kenal datang menghampiri mereka. Orang itu, adalah orang yang membuat Alya kabur dari semuanya. Membuatnya pergi dari rumah hingga meninggalkan kuliahnya demi menghindari untuk bertemu orang itu. Dan sekarang dia ada di depan Alya.


"Kenapa dia ada di sini? Apa dia mencariku?"


Alya bersembunyi dibalik tubuh kekar Kay tanpa ada satu pun orang yang menyadari tingkahnya.


"By!"


"Eh...Hai, Kan? Lo di sini juga?" Abby memeluk sahabatnya Arkan.


"Dek, kenalin nih sahabat abang di kampus, namanya Arkan. Asdos." Abby mengenalkan Arkan pada Kay.


Kay dan Arkan saling bersalam kenal. Begitu juga dengan Egi.


"Kok lo bisa ada di sini, bro? Lo kenal sama Elsa?" tanya Abby ingin tau kenapa sahabatnya bisa nyasar sampai kekotanya.


"Elsa tuh sepupu gue. Papanya adik mama gue." kata Arkan.


"Gue juga lagi mencari seseorang yang sudah menghilang dari kehidupan gue karena kesilapan gue." Arkan menghela napas berat.


Kay menoleh kebelakang saat menyadari ada seseorang yang sedang berlindung dibelakangnya.


"Beib? Ngapain kamu?" Kay berbalik menghadap Alya yang tertunduk, menyembunyikan wajahnya dari Arkan, mantan pacarnya yang ingin dihindarinya.


Tubuh Alya yang mungil tak begitu terlihat oleh Arkan karena tertutup oleh tubuh tegap Kay. Alya menarik tangan Kay, menjauh dari tempat pesta.

__ADS_1


__ADS_2