I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Waduhh!!!


__ADS_3

Kay masuk ke kamar dengan wajah lesu. Dihempaskan tubuhnya di atas kasur. Tak dipedulikannya Ryan yang menatapnya bingung.


"Sekarang apalagi, bro?" tanya Ryan penasaran. Ryan tau ini pasti masalah percintaan Kay yang memang terbilang rumit.


Kay membuang napas kesal.


"Kapan gue bisa tenang menjalani kisah cinta yang indah kayak orang-orang, bro? Ada aja halangan gue untuk meraih kebahagiaan gue." Kay mengeluh, lesu.


"Itu ujian cinta lo, bro. Kalo lo nyerah berarti lo kalah." kata Ryan.


"Gue belum menyerah, bro. Gue cuma heran aja, kenapa ujian cinta gue ini gak abis-abis?" sergah Kay, kesal.


Ryan tersenyum.


"Itulah namanya cinta sejati, bro. Bukan hal yang gampang untuk diraih."


Kay mengangguk, membenarkan perkataan Ryan,


"Eh, bro. Kemaren gue kenalan sama cewek kampus sebelah." Ryan mengalihkan pembicaraan.


"Hm." Kay menimpali dengan malas.


"Ceweknya cantik, bro. Putih, tinggi dan... seksi."


"Hm."


"Ramah dan gak sombong."


"Hm."


"Bro?" panggil Ryan.


"Hm."


"Hadeeehh!" Ryan menepuk jidatnya, lemas.


"Aduh!" Kay mengaduh kesakitan ketika Ryan menyentil keningnya, keras. Kay merengut masam.


"Paan sih, Yan?! Sakit tau!" sungutnya keki sambil mengusap jidatnya yang memerah.


"Lo tadi denger gue ngomong gak?" sergah Ryan, kesal.


"Denger kok."


"Kalo denger kenapa komen lo cuma ham hem ham hem?" protes Ryan.


"Jadi...gue harus bilang woooww, gitu?" sanggah Kay, lebay.


Ryan meringis, geli.


"Gak gitu juga, kali. Setidaknya beri gue respon yang baik lah. Gue kan mau curhat ama lo." kata Ryan, meminta perhatian Kay.


"Ooo. Baiklah."


Bola mata Ryan memutar, jengah, melihat Kay yang masih terlihat malas-malasan.


"Bro, nanti kalo lo ke sana ajak gue ya?" pinta Ryan.


"Hm."


"Kay? Gue timpuk ya?!" ancam Ryan, kesal, dengan ponsel ditangannya.


Kay nyengir.


"Iya. Iya. Sensi amat sih! Lagi PMS ya?" godanya.


"Sialan, lo." Ryan melempar kaos yang dipakainya joging tadi pagi.


"Ishh, bau banget. Jorok lo, Yan." umpat Kay sambil melempar balik kaos itu ke yang punya.


Ryan terkekeh menangkap kaos yang Kay lempar.


"Gak gue ajak lo besok." gantian Kay yang mengancam Ryan.


"Jangan gitulah, bro. Kita kan brother." bujuk Ryan.

__ADS_1


"Ogah!"


"Bro?"


"Emoh!"


"Bro?" Ryan memelas dengan wajah innocentnya.


Kay mengusap wajahnya seraya menghela napas.


Keesokan harinya, seperti biasa selesai tugas Kay langsung menemui Alya dikampusnya. Tapi kali ini Ryan 'ngintilin' Kay ke kampus Alya.


Ryan melihat beberapa mahasiswi yang berpapasan dengan mereka rata-rata melirik, mencuri pandang, bahkan terang- terangan mencari perhatian Kay. Sedangkan sang idola dengan wajah dingin plus cueknya tetap melangkah santai tanpa menoleh kiri dan kanan.


"Sstt, bro. Lo gak merasa rugi ya?" tegur Ryan ketika mereka sudah melewati para mahasiswi-mahasiswi cantik itu.


"Hah?" Kay mengernyit tak mengerti.


"Cewek-cewek cantik tadi ngeliat lo penuh kekaguman, tapi lo cuek aja. Apa gak rugi itu namanya?" Ryan menggeleng, heran.


"Masak sih? Kok gue gak tau ya?" Kay garuk kepala, blo'on.


Ryan melengos, sebal.


"Sok ganteng lo." sungutnya.


"Loh...gue emang gak tau. Gue kemari kan buat ketemu bebeib gue, bukan cuci mata kayak lo." Kay membela diri.


"Gak bersyukur tuh namanya. Mubazir tuh muka ganteng lo." olok Ryan.


Kay mengendikkan bahunya, cuek.


"Beib!" panggil Kay dan melangkah cepat menghampiri Alya yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya. Ryan mengikutinya di belakang.


"Eh, Ngil." Alya tersenyum manis.


Kay merangkul bahu Alya dan mengecup hangat pucuk kepala gadis itu. Bikin iri siapa saja yang melihat kemesraan mereka, termasuk Ryan dan tiga teman Alya, Egi, Arkan dan Abby.


"Dek, ini di kampus. Kalo mau mesra-mesraan cari tempat lain deh." tegur Abby, mengingatkan.


"Iya nih, mentang-mentang gak pake modal tiap hari ngapel terus." timpal Egi, sirik.


"Iri...bilang boss." ejek Alya, disenyumin yang lain.


"Eh, gue gak iri ya. Gue cuma gak enak aja liat Kay maen sosor wae, seenak udelnya."


"Sama aja iri namanya, boss." sahut mereka, kompak.


Egi melengos.


"Hai, bro. Tumben ikut Kay kemari?" Arkan menegur Ryan yang memang dikenalnya waktu mereka ketemu di Bogor.


Ryan tersenyum ramah.


"Lagi pengen ganti suasana aja, suntuk di kamar terus." jawab Ryan.


"Refresing dong, bro. Masak dari pindah kemaren lo gak kemana-mana. Kalo lagi kosong ke sini aja, cuci mata. Di sini banyak cewek cakep." sambung Egi.


Ryan tersenyum mengangguk.


"Kenalan dulu deh, nama gue Egi." Egi mengulurkan tangannya dan di sambut Ryan dengan hangat.


"Ryan!"


"Gue Abby!" Abby ikutan salaman.


"Ryan!"


"Gi, bang, Ar...Ryan kemari mau cari cewek yang kenalan sama dia kemaren." Kay memberi tau niat Ryan ikut dengannya ke kampus.


Ryan menyikut Kay.


"Gak usah diumumin juga kali, bro." sungutnya pelan.


"Jangan malu-malu. Cowok naksir cewek wajar aja kok. Yang gak wajar kayak dia noh..." Egi menunjuk Kay dengan dagunya.

__ADS_1


"Kenapa?" Kay protes.


"Gue ngerasa normal- normal aja." sanggahnya, santai.


"Lo tuh bucin tingkat dewa. Inget gak kenekatan lo ngerebut tunangan orang." sergah Egi.


"Jangan di bahas deh. Ini juga gue masih backstreet ama bebeib gue. Ya kan, beib." Kay kembali merangkul Alya yang dari tadi diam, dan mengecup lembut rambut gadis itu.


"Haissh. Dek, udah gue bilang tadi...jangan pamer." Abby mengusap wajahnya kesal melihat tingkah konyol adiknya.


Kay cuma nyengir.


"Jijik gue liat adek lo, bro. Berasa liat anak SMU lagi pacaran." Arkan yang ikutan sebal dengan tingkah Kay akhirnya protes juga.


"Idiih...pada sirik semua. Yuk beib, kita pergi aja, di sini banyak nyamuknya." Kay pun melangkah pergi sambil menggandeng Alya, mesra.


"Deeeuhh...dia yang ngambek." olok Egi, menertawakan Kay. Tiga cowok lainnya ikutan tertawa geli.


"Yan, gue tinggal lo ama mereka ya. Cari sepuasnya gebetan lo di sini." kata Kay setengah berteriak.


Ryan mengangguk sambil mengangkat tangannya.


"Seumur idup gue, baru sekarang gue temenan sama cowok ganteng yang dingin banget sama cewek-cewek, dan bisa bucin banget sama satu cewek. Itu dia orangnya." Ryan menunjuk Kay yang sudah menjauh pergi, membawa Alya entah mau kemana.


"Kay emang gitu, bro. Sejak kecil dia gak pernah dekat dengan cewek mana pun, kecuali emak gue. Dan sekalinya suka cewek...jadi bucin gitu deh." sahut Abby, geli sendiri bila mengingat adiknya yang kaku dan sedingin es itu bisa bucin tingkat dewa.


"Iya, bang. Di SMK dulu, cewek-cewek di sekolah rata-rata naksir sama dia, caper, bahkan ada yang nyatain cinta langsung sama Kay. Tapi dasar freezer, tanpa liat siapa ceweknya langsung aja ditolaknya. Padahal dulu yang naksir itu anaknya pejabat daerah yang cakepnya gak diragukan lagi loh." Egi geleng-geleng kepala mengingat sosok sahabatnya, Kay.


"Yang gue heran lagi...waktu pertama kali ketemu Alya di rumah gue..." Egi melirik Arkan.


"Kay yang biasa cuek eh bisa-bisanya ngerjain sepupu gue itu dan rela juga dikerjain Alya. Aneh kan?" kata Egi.


Dan dengan kompak tiga cowok ganteng itu mengangguk, mengiyakan.


"Iya. Bahkan Elsa yang udah temenan dari orok dan bahkan sempat mau emak gue jodohin ama Kay, sama sekali gak pernah dia gubris. Adek gue benar-benar manusia kutub, dingin banget." timpal Abby.


"Pantes." ujar Ryan tanpa sadar.


"Apanya yang pantes, bro? Gue lihat sikap Kay gak ada pantes-pantesnya. Dia kayak gak sadar bahwa para makhluk cantik bernama cewek itu harus dinikmati kecantikannya, bukannya dianggurin apalagi di tolak. Mubazir." sahut Egi, cepat.


"Itu sih elo, Mi'un! Dasar playboy buntung. Sendirinya juga bucin sama si Elsa." Abby menoel kepala Egi.


"Kalo Elsa tetep belahan jiwa gue, bang. Tapi memandang sesuatu yang indah itu rugi kalo dilewatkan." Egi beralasan.


"Dua tahun lebih gue temenan sama Kay, tapi gue gak pernah lihat Kay dekat dengan cewek. Waktu di Magelang, juga di Bogor, gak sedikit cewek cantik yang berusaha deketin Kay, dan...lo tau sendirilah gimana sikap Kay. Dia cowok limited edition di dunia."


"Hahahahahahaaaa!!!" tawa menggema menertawakan sikap bucin si Freezer, Kay Arbitama.


Taklama, Elsa datang bersama Rani.


"Halo, Yank. Udah selesai?" Egi meraih tangan Elsa, memeluknya dan mencium kening gadisnya, hangat.


"Tadi ngatain Kay bucin, padahal dia sendiri lebih bucin." 😂


Begitu juga dengan Arkan. Tanpa memperdulikan perasaan Abby yang saat ini tengah menikmati kesendiriannya karna ditinggal Bella study banding ke luar kota, mereka asik aja bermesraan di depan Abby dan Ryan.


"Untung aja ada Ryan. Jadi gue gak sendirian menghadapi kesendirian gue. Meski hati kecil gue tetep meronta-ronta sih." Abby menggumam dalam hati.


"Eh Yan, ngomong-ngomong siapa nama cewek yang lo cari?" tanya Abby mengalihkan bete dihatinya yang iri melihat kemesraan temen-temannya. Semuanya menoleh, menatap Ryan.


"Ini siapa?" tanya Elsa yang baru pertama bertemu Ryan.


"Ryan. Teman Kay di kompi sebelah."


Elsa dan Rani mengangguk ramah pada Ryan dan di balas ramah juga oleh cowok hitam manis itu.


"Balik lagi ke tadi, Yan. Siapa nama cewek itu?" tanya Abby lagi karna tadi ada iklan yang dibuat Elsa kenalan dengan Ryan.😋


"Namanya...Wulan. Ya, namanya Wulan Santary kalo gak salah."


Tettewww!!!


Ryan melongo melihat teman-teman barunya tiba-tiba mingkem berjama'ah.


Wakwaawww!!!😜

__ADS_1


__ADS_2