I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Janji


__ADS_3

Kay pov


Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa juga jatuh cinta. Alya, gadis pertama yang mampu menarik hatiku dengan pesonanya yang apa adanya. Alya tidak seperti gadis- gadis yang sering mencari perhatianku dengan sikap mereka yang dibuat-buat. Alya selalu bersikap apa adanya. Dia tidak pernah sok jaim. Sikap cuek dan dinginnya membuatku menyukainya sejak awal jumpa dengannya. Tanpa malu apalagi sok lugu, Alya makan bakso kesukaannya porsi double, bahkan sampai dua kali didepanku yang baru dikenalnya. Aku kadang geli sendiri bila mengingat tingkah konyol Alya. Tanpa ragu dan jijik malah Alya menghabiskan bakso yang baru satu pentol ku makan. Alya benar-benar lucu, menurutku. Dan itulah yang bikin aku jatuh cinta padanya. Benar-benar jatuh cinta. Kuharap Alya juga merasakan hal yang sama sepertiku. Dan malam ini kucoba peruntunganku dengan mengungkapkan perasaan cintaku padanya. Sepertj sudah ku tebak sebelumnya, Alya menolakku dengan alasan perbedaan umur kami yang hanya beda tiga tahun. Tapi aku tetap optimis dan akan terus meyakinkan Alya bahwa umur bukan sebuah masalah besar dalam menjalin hubungan. Aku yakin, aku bisa bersikap lebih dewasa dari Alya dan akan selalu mengerti dia. Aku janji!


Alya pov


Bagaimana ini? Kay benar-benar mengungkapkan perasaannya. Haruskah aku menolaknya dengan alasan perbedaan umur kami? Aku tau Kay tidak mempermasalahkan itu. Aku tau Kay benar-benar menyukaiku. Dan ku akui, aku juga menyukainya. Tapi, trauma itu masih ada. Trauma untuk memiliki hubungan seperti dulu, saat aku masih bersama Arkan. Aku tak mau kejadian perselingkuhan terjadi lagi. Aku tak siap merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya. Maafkan aku, Ngil. Aku mencintaimu. Tapi aku takut untuk bercinta lagi.


author pov


Kay menatap sendu gadis didepannya. Harus bagaimana lagi dia bisa meyakinkan Alya bahwa dia benar-benar mencintainya.


"Beib..."


"Tolong antar gue pulang, Ngil. Gue..."


"Beib, aku akan terus menunggumu. Menunggu cintamu untuk aku. Sampai kapanpun." bisik Kay, lembut ditelinga Alya. Membuat gadis itu merinding geli saat napas Kay berhembus hangat ditelinganya.


"Besok aku antar kamu ya?" pinta Kay setelah mereka tiba dirumah Egi.


"Gue gak mau ngerepotin lo lagi, Ngil."


"Please, beib!"


Alya menarik napas panjang. "Lihat besok ya?" katanya. Kay menatapnya penuh harap.


"Udah...pulang dulu sana. Bobo yang nyenyak biar besok bangun badannya segar." Alya mendorong tubuh Kay pelan, seolah mengusirnya.


"Tapi besok...aku antar kamu ya?" Kay mengerjap-ngerjapkan matanya lucu, seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.

__ADS_1


Alya tersenyum dan mengangguk. Kay tersenyum sumringah. Dikecupnya cepat bibir Alya.


"Makasih, beib. Aku pulang dulu. Ba bay!" Kay pun pamit pulang sambil melambaikan tangannya. Alya menatap kepergian cowok itu dengan bibir terus mengulum senyum.


Keesokan paginya,


"Kamu mau kemana, dek?" tanya mama heran melihat Kay sudah siap pergi.


"Ma, Kay hari ini mau nganterin temen Kay pulang ke kota S. Boleh ya?" Kay memeluk mamanya, mencoba merayu agar mendapat izin dari mamanya.


"Kamu perginya sama siapa, dek?"


"Sama Egi, ma. Soalnya kami mau mengantar sepupunya Egi."


"Kalian perginya naik motor?" tanya mama lagi. Kay mengangguk.


"Kalo gitu, gue ikut lo dek. Sekalian gue balik kekosan gue."


Mama dan Kay menoleh kearah Abby yang juga sudah bersiap-siap untuk balik kekosannya di kota P, perbatasan antara kota T dan kota S.


"Boleh, bang. Ntar lo boncengan sama Egi. Jadi pulangnya Egi bisa sama gue." sahut Kay. Abby mengangguk setuju.


"Kalo ada abang, mama izinin adek pergi. Ingat, jangan ngebut. pulangnya juga hati-hati." pesan mama.


"Makasih, Ma!" Kay memeluk erat mamanya, lalu mencium pipi dan tangan mama. Begitu pun Abby.


"Kami berangkat ya, ma. Assalamualaikum!" pamit Kay dan Abby.


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati ya, sayang!"

__ADS_1


Kay dan Abby pun berangkat ke rumah Egi dengan membawa motornya masing-masing.


Lima menit kemudian, Kay memasuki halaman rumah Egi dengan penuh tanya saat melihat sebuah mobil terparkir dihalaman rumah Egi. Kay tau itu bukan mobil milik keluarga Egi.


'Tapi itu mobil siapa?'' Kay bertanya-tanya dalam hati.


"Arkan! Lo disini, bro?" Abby menyapa orang yang duduk didalam mobil.


"Iya, bro. Gue mau mengajak Alya pulang bareng gue." ujar Arkan tanpa sadar kalo Kay tengah menatapnya tajam.


"Alya pulang bareng gue. Kami yang akan mengantarnya pulang ke rumah dengan selamat." sahut Kay, cepat.


Arkan menatap Kay, heran. "Ini adek lo kan By?" tanya Arkan kemudian. Abby mengangguk. Arkan tersenyum ramah pada Kay yang malah merengut masam pada Arkan.


"Gi! Gue udah..." Alya tak jadi melanjutkan ucapannya ketika melihat di teras rumah Egi sudah ada Kay, Abby dan Arkan. Tak Lama, Egi keluar dari dalam rumah. Dan ikut heran melihat orang-orang yang ada di sana.


"Al, kamu pulang sama aku ya?" Arkan menghampiri Alya dan hendak mengambil ransel Alya yang berisi baju.


Alya memandang Kay yang masih merengut masam.


"Yuk Ngil kita pergi. Bawa nih ransel gue." Alya melemparkan ranselnya pada Kay. Dengan tangkas Kay menangkap ransel yang dilemparkan Alya padanya.


Kay memakaikan helm Alya dan helmnya, Kay memakaikan ransel Alya didadanya agar Alya tidak merasa sesak duduk diboncengannya. Alya pun memeluk erat tubuh Kay.


Setelah siap semuanya, mereka pun berangkat ke kota S. Alya dan Kay, serta Egi dan Abby. Sedangkan Arkan sendiri naik mobilnya, mengikuti mereka dari belakang.


Arkan pov


Alya. Aku sudah lama mencarimu. Sejak kamu pergi dan menghindariku, aku benar-benar terpuruk. Aku merasa sangat berdosa padamu karna telah mengkhianati kepercayaanmu, dan mengkhianati cinta kita. Maafkan aku, Al! Maafkan aku! Kesalahanku sangat besar padamu. Ternyata Wulan tak sebaik yang kupikirkan. Kecantikan wajahnya tak sebanding dengan hatinya yang busuk. Dia sengaja membuatku jatuh kepelukannya karena dia ingin melukai hatimu. Dendamnya yang tak beralasan padamu, membuatku tanpa sadar ikut dalam permainannya untuk menyakitimu. Wajar kalau kau benci aku, Al. Dan aku terima marahmu. Karena aku memang pantas menerimanya. Sekarang aku ingin kembali bersamamu, Al. Aku ingin meminta maaf dan merajut kembali cinta kita yang sempat terputus karena kebodohanku. Tapi, Kay...anak itu tampak sangat melindungi Alya dariku. Apa dia tau tentang kami? Apakah Alya telah menceritakan semuanya pada Kay? Pasti. Pasti Alya sudah menceritakannya pada Kay. Itu terlihat dari sikap dan tatapan tajam Kay padaku. Kay nampak begitu membenciku. Apakah mereka sudah berpacaran? Tapi itu tidak mungkin. Aku tau Alya tidak pernah mau didekati cowok muda. Tapi, Kay masih muda dan dia begitu akrab dengan Alya. Kenapa bisa begitu? Apa Alya sudah bisa menerima cinta seorang bocah?

__ADS_1


__ADS_2