
Kay menjelaskan semua hasil investigasinya pada Abby, Egi dan Arkan.
"Baru itu sih yang gue dapet. Tapi kayaknya fix, Wulan biang kerok dari semua ini."
Brakkk!!!
Tiba-tiba Egi menggebrak meja, keras, membuat ketiga sobatnya terlonjak kaget.
"Biasa aja kali, Gi. Bikin jantungan aja." Kay mengusap-usap dadanya, kaget.
"Tauk! Kemasukan iprit lo ya?" sahut Arkan.
"Kok lo yang napsuan, Gi?" celutuk Abby.
Egi menghempas napas, kesal. Wajahnya memerah, menahan emosi yang sudah diubun-ubun.
"Gara-gara dia Alya pergi ninggalin kita, sampai Alya gak sempat bertemu Wira. Gue dendam banget ama cewek gila itu."
Kay tercekat. Kata-kata Egi cukup menohok, pas dihatinya.
"Iya. Gara-gara dia gue kehilangan separuh jiwa gue." Kay menunduk sedih.
Abby mengusap pelan punggung adiknya.
"Gimana caranya bikin tuh cewek gila sadar? Bapaknya selalu ada dibelakangnya untuk membelanya."
Arkan mengusap wajah kasar.
Dia tak menyangka tindakan gila Wulan masih berlanjut. Setelah mencelakai Alya hingga meninggal, sekarang calon bundanya Wira yang diganggunya.
"Gila! Gila! Gila!"
"Kenapa, Ar?" tanya Kay melihat Arkan yang tampak kesal.
"Nyesel gue kenal sama cewek gila kayak Wulan, Kay. Nyeselll banget!" keluh Arkan.
"Udah sifatnya kayak gitu, Ar. Gak bakalan berubah kalo dia gak ngerubah dirinya sendiri." Abby menenangkan Arkan.
"Sekarang apa rencana lo sekarang, Kay?" Egi menatap lekat wajah sahabatnya.
Kay menggeleng.
"Belum ada ide."
"Terus...gimana sama calon lo?" tanya Egi lagi.
Kay mendelik sebal.
"Gue sengaja menggunakan masalah Luna untuk menunda perjodohan ini, Gi. Sukur-sukur kalo dibatalkan, dengan senang hati gue menerimanya." sergah Kay, kesal.
"Gak boleh gitu, bro. Sudah seharusnya memang lo buka hati lo." kata Egi sambil menepuk bahu Kay, berusaha memberi semangat.
"Bener, bro. Udah waktunya lo move on." sambung Arkan.
"Gak bisa, bro. Cinta gue udah dibawa Alya semuanya, jadi gak ada lagi cinta buat wanita lain." ungkap Kay, jujur.
"Cuih! Cinta dibawa mati nih judulnya?" ledek Egi.
"Yes! Alya cinta pertama dan terakhir gue. Gak akan ada yang bisa ganti'in dia di hati gue."
"Wah, ini artinya Wira gak bakalan dapet bunda nih."
"Wira cukup punya satu emak saja, yaitu Alya. Gue adalah ayah, sekaligus emak buat Wira. Gue yakin, Wira mendukung semua keputusan gue dan bisa menerimanya."
"Tapi dek, gimana sama Luna, mama dan yang lain?" tanya Abby.
"Saat ini Luna dekat dengan Ryan, bang. Biar Ryan nanti yang akan melindungi Luna. Soal mama, papa, ibu dan ayah, itu akan gue jelaskan sendiri ke mereka."
Abby mengangguk paham.
__ADS_1
"Gue tau dek, pasti udah lama lo ngerencain semuanya, kan?"
Kay terkekeh.
"Sejak tau masalah Luna, gue langsung minta bantuan Ryan untuk mengantar dan menjemput Luna, sekalian juga Wira. Lumayanlah bang, dapet ojek gratis." ungkapnya jujur.
"Pinter lo, bro. Ngambil kesempatan dalam kesempitan." sahut Arkan geli.
Abby dan Egi ikutan tertawa geli.
"Gaklah. Ryan juga untung bisa jadian sama Luna berkat gue kan?"
"Bener. Bener. Bener. Gue suka gaya lo, bro. Aseeekk!" Egi menepuk bahu Kay sambil terkekeh.
"Beneran lo udah sepakat soal ini sama Luna, dek? Lo gak maksain Luna biar jadian sama Ryan kan?" tanya Abby penasaran.
"Gue jujur ngomong ke Luna tentang perasaan gue, bang. Luna paham dan menerima keputusan gue. Awalnya, Luna menolak untuk dikenalkan sama Ryan tapi setelah gue jelasin rencana gue barulah dia mau dikenalkan dengan Ryan."
"Dan akhirnya mereka saling suka, lalu jadian."
"Maybe?"
"Ckckck! Miris idup lo, bro. Lo bikin Ryan bahagia padahal lo sendiri merana."
Arkan menatap Kay, sedih.
"Pilihan hidup gak bisa dipaksa, bro. Gue bahagia dengan hidup gue yang sekarang." ujar Kay, bijak.
"Semoga lo bahagia terus, bro!"
"Thanks, guys!"
*
*
*
*
Ponsel milik Kay bergetar.
"Ya, Yan. Kenapa?" Kay mengangkat panggilan. Ternyata Ryan yang menelpon.
"Bro, Luna diculik!"
"Apa?!!"
"Tadi gue mau jemput Luna. Kata Bu Ani Luna barusan pergi, dijemput sama perempuan cantik."
"Temannya kali itu, Yan." ujar Kay tenang.
"Gue menemukan ponsel Luna di depan rumahnya, bro. Mungkin gak ponselnya jatuh ketika Luna dipaksa ikut?"
Kay diam sejenak.
"Lo udah kasih Luna belum kalung yang gue suruh lo beli kemarin?" tanya Kay kemudian.
"Udah, semalam. Emangnya kenapa, Kay?"
"Sekarang lo cepat balik ke sini!"
"Siap, Komandan!"
Setelah memutuskan pembicaraannya dengan Ryan, Kay menghubungi temannya yang di Polsek P.
"Gimana, Kay? Apa hubungan kalung yang gue kasih ke Luna dengan penculikan ini?" tanya Ryan tak sabar. Baru saja sampai, Ryan langsung masuk keruangan Kay.
"Apa Luna sudah memakai kalungnya, Yan?"
__ADS_1
"Sudah. Gue sendiri yang memakaikannya di leher Luna. Romantis banget, Kay. Gue gak nyangka ternyata gue bisa romantis juga...aduh!" Ryan yang awalnya tampak excited, manyun seketika karna Kay menggetok kepalanya dengan keras.
"Ceritanya ntar aja, fokus cari pacar lo dulu." tukas Kay.
Ryan pun kembali fokus.
"Hubungannya Luna dengan kalung yang dipakainya apa, bro?"
"Dikalung itu sudah terpasang GPS yang terhubung dengan ponsel lo. Coba lo periksa hp lo."
Ryan pun segera membuka aplikasi yang dimaksud Kay. Ryan menoleh ke arah Kay.
"Gimana?"
"Titik koordinat menunjukkan letaknya di luar kota, Kay. Kayaknya di pinggiran kota, deh."
"Coba gue liat." Kay mengambil ponsel Ryan dan mengamatinya.
"Kalo gak salah, di sana ada bekas pabrik yang sudah lama tutup. Mungkin gak..."
"Buruan kita ke sana, bro. Gue gak mau cewek gue lecet, diapa-apain sama mereka!" Ryan menarik Kay masuk kemobilnya.
Kay pun menghubungi lagi temannya yang di Polsek untuk meminta bantuan.
_-_
"Baiklah. Kami akan menunggu di sana."
_-_
"Siap!"
Kay memutuskan percakapan.
"Gimana, bro?" tanya Ryan ingin tau.
"Kita disuruh tunggu mereka."
"O. Oke!"
Sejam kemudian, Kay dan Ryan tiba di lokasi. Mereka sengaja berhenti ditempat yang agak jauh dari tempat yang dicurigai.
Mereka sepakat mengintai lebih dulu sebelum melakukan penyergapan, sambil menunggu bantuan datang.
"Mana sih temen lo yang polisi itu, bro? Kok belum nyampe juga?" Ryan sudah tak sabar lagi menunggu. Hatinya gelisah memikirkan keselamatan gadis kesayangannya.
"Sabar. Bentar lagi juga mereka sampai." Kay mencoba menenangkan Ryan.
"Awas aja kalo ayang gue lecet dikit. Gue bikin peyek mereka." Ryan ngedumel plus ngancam.
Kay terkekeh geli.
"Sekarang lo rasain enaknya jadi bucin, bro. Dulu lo ngatain gue, nah...sekarang lo yang bucin." olok Kay.
Ryan nyengir, malu.
"Ternyata jadi bucin kayak gini ya, bro?"
"Kayak gimana maksud lo?"
"Ya...nano-nano. Kadang manis, kadang asem, kadang malah sepet. Tapi gue syukaaa!" ujar Ryan dengan gaya bak girlband K-pop.ðŸ¤
Kay cekikikan geli sambil menutup mulutnya, menahan tawa.
"Lebay lo!"
Ditoyornya kepala Ryan yang cengengesan, sok imut.
Welcome to bucin!!!💘💘💘
__ADS_1