I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Sah


__ADS_3

"Beib, bangun dong. Kamu gak kangen sama aku ya?"


Sudah satu minggu Alya masih belum sadarkan diri. Dan selama itu pula Kay selalu setia menemani Alya di rumah sakit.


Meskipun harus bolak-balik dari Kompi ke rumah sakit yang lumayan jauh, demi sang pujaan hati Kay ikhlas dan rela melakukannya.


Lagipula, Kay ingin bila Alya sadar nanti Alya tau kalo Kay selalu ada didekatnya dan setia menunggunya sembuh.


"Kamu kapan bangunnya, beib? Aku udah kangen tau gak sama kamu. Aku kangen senyum kamu, kangen cemberut kamu, kangen manja kamu, juga...kangen bibir kamu." gumam Kay lirih, setelah terlebih dulu melirik ke arah ibu Alya yang tengah berbaring tidur di sofa ruang tempat Alya di rawat.


Kay mencium tangan Alya yang digenggamnya dan mengecup lembut kening gadisnya.


Haru, sedih dan sesak di dada dirasakannya ketika mengingat kabar yang di dapat dari Komandannya kemarin.


*f**lashback on*


"Kucel banget muka lo, Bro. Masih kepikiran tadi?" Ryan duduk di sebelah Kay yang terpaku lesu sambil menatap ponselnya.


"Gue bingung, Bro. Ini pertama kalinya gue harus menghadapi situasi sulit seperti ini." Kay mendesah.


Dadanya terasa sesak saat tadi mendengar ada namanya disebut untuk melakukan satgas di desa yang tengah mengalami bencana.


"Kan masih di daerah kita juga, Bro. Gak lama juga kan waktunya, paling dua-tiga bulan lo di desa itu."


"Masalahnya Alya sedang dalam kondisi yang gak bisa gue tinggal, Bro. Gue gak tega dan pasti kepikiran Alya terus." keluh Kay.


"Ingat janji kita sebagai prajurit, Bro. Harus selalu siap sedia menjalankan tugas negara."


Kay diam.


"Kalo pun nanti lo gak ada di saat Alya sadar nanti, gue yakin Alya pasti akan mengerti alasan lo pergi. Kan Alya udah pernah bilang kalo dia akan selalu mendukung lo di saat tugas negara memanggil lo. Ingat?" Ryan mengingatkan Kay.


Kay mengangguk.


"Lo jalani aja tugas lo dengan baik. Di sini banyak yang menjaga Alya. Lo tenang-tenang aja di sana nanti." Ryan menepuk pelan bahu sahabatnya yang masih saja diam membisu.


flashback off


Kay benar-benar bingung menghadapi situasi sulit ini. Di sisi lain, dia ingin ada di dekat Alya kalau gadis itu sadar nanti. Tapi, tugas yang diembannya juga penting.


"Akhh! Kenapa tugas harus datang di saat seperti ini?!"


Kay meremas rambutnya kasar.


"Ada apa, nak Kay?" tanya Alma yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.


Kay meringis.


"Ah...gak pa-pa, Makcik." Kay berusaha menutupi kegugupannya dihadapan calon ibu mertuanya.

__ADS_1


Alma tersenyum. Dia tau Kay sedang memendam suatu masalah.


"Kay ngomong sama Makcik, apa yang bikin Kay kacau dari tadi?"


Kay menatap sendu Alma. Berat rasanya ia menceritakan kegundahannya pada ibu kekasihnya itu.


Kay takut Alma akan memarahinya karena lebih memilih pergi melaksanakan tugasnya daripada menemani Alya yang tengah terbaring sakit.


"Anu Makcik...aku..."


"Ngomong aja, Kay. Makcik akan dengarkan."


Kay mendesah ragu.


"Besok aku harus tugas di kampung S, Makcik. Kemarin dapet kabar dari Komandan, besok langsung berangkat." akhirnya bisa juga Kay bicara setelah berhasil meredam keraguannya.


"Lama ya?"


"Gak tau, Makcik." Kay menunduk lesu. "Aku bingung, Makcik..."


"Gak usah bingung. Tugas kamu lebih penting. Alya biar Makcik yang urus. Kamu yang tenang bertugasnya, jangan banyak pikiran." kata Alma, menenangkan Kay.


Kay menghela napas lega.


"Terima kasih..."


"Pakcik..." tenggorokan Kay seakan tercekat.


Ayah Alya berdiri di pintu dengan wajah dingin. Kay hanya tertunduk, sendu.


"Saya tanya sekali lagi, Kay. Kamu... lebih memilih tugasmu atau Alya?" Ramdani menatap Kay, tajam, seakan menghujam tepat di jantung pria ganteng itu.


Kay menarik napas, dalam, dan menghembuskannya perlahan.


"Bismillahirrohmanirrahiim."


"Saya akan berangkat untuk menjalankan kewajiban saya terhadap negara, Pakcik." Kay berkata tenang, memantapkan hatinya.


Ramdani mendengus sinis.


"Dan hari ini...izinkan saya melamar Alya untuk menjadi istri saya."


"Hahh?!"


Ramdani dan Alma saling pandang.


"Si ganteng yang bertanggung jawab." Alma tersenyum senang.


"Benar-benar bocah nekad." Ramdani geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Kamu..."


"Assalamualaikum. Dani, kami sudah datang."


"Wa'alaikummussalam. Bian? Karin? Kalian..."


Ramdani menatap Kay dengan wajah kesal.


Orangtua Kay datang bersama Sandy, Ryan dan Komandan Kay, juga seorang penghulu.


"Dan...aku tau anakku Kay sudah lancang meminta anakmu dalam situasi Alya masih kayak gini. Tapi kami tidak mau Kay bertugas dengan keadaan tidak tenang. Jadi izinkan kami melamar Alya dan akan menikahkan mereka hari ini juga." Bian langsung bicara ke intinya.


"Kenalkan ini komandan dan teman Kay. Mereka yang akan menjadi saksi nikah nanti. Dan ini pak penghulunya." Bian memperkenalkan orang-orang yang datang bersamanya pada sang calon besan. Ramdani pun menyalami mereka.


"Kamu tanpa bilang-bilang dulu sudah merencanakan semua ini, Bi. Lancang sekali kamu." Ramdani masih terlihat kesal.


"Bang, semua ini tanpa rencana. Kemarin Kay menelponku dan meminta kami untuk melamar Alya hari ini sebelum dia berangkat besok. Jadi, aku dan bang Bian berencana langsung menikahkan mereka walau harus nikah secara agama dulu. Setelah Kay pulang tugas baru mereka akan nikah batalyon." jelas Karin.


Ramdani diam, nampak sedang berpikir. Disebelahnya, Alma, sang istri terus menyikut-nyikut lengannya.


"Apaan sih, bu?" tanya Ramdani risih dengan ulah istrinya.


"Terima aja, Yah. Ibu udah gak sabar pengen nimang cucu." gumam sang istri, pelan.


"Astaghfirullahaladziim!" Ramdani berucap sambil menepuk jidatnya.


"Gimana mau nimang cucu, Bu, Alya aja masih belum sadar gitu." Ramdani mendengus pelan, malu mendengar ucapan istrinya yang asal nyeplos.


Apalagi waktu melihat Bian dan yang lainnya mesem-mesem, menahan tawa.


"Gak pa-pa, Yah. Yang penting Alya udah punya suami, kan nanti mereka akan punya anak juga. Ayolah, Yah. Terima Kay jadi mantu kita. Ibu udah sayang sama dia sejak pertama kali dia datang ke rumah bareng Egi dulu." Alma masih terus gencar merayu suaminya.


Ramdani menghela napas, berat. Kay dan lainnya menanti jawaban Ramdani dengan harap-harap cemas.


"Baiklah." akhirnya Ramdani menjawab. "Lamaran kalian saya terima."


"Alhamdulillah!" semuanya mengucap syukur dan bernapas lega.


Dan akhirnya terjadilah pernikahan yang jauh dari kesan mewah dan tidak pernah mereka bayangkan sama sekali sebelumnya.


Kay menikahi Alya di kamar rumah sakit, di saat gadis itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah operasi yang dijalankannya.


Kay memasangkan cincin di jari manis Alya dan juga dijarinya.


Semua tersenyum bahagia dan terharu sekaligus sedih melihat pasangan pengantin baru itu.


Namun lega pun mereka rasakan ketika melihat senyum penuh cinta dari Kay untuk Alya.


"Selamat ya, beib. Sekarang kita sudah resmi jadi suami-istri." Kay mengecup lembut kening gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2