I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Jelmaan Barbie Curut Atau Fulgoso?


__ADS_3

๐ŸŽตMengapa mawar merah


belum tentu indah


Mengapa bunga itu belum tentu harum


Dirimu yang ku puja


sungguh engkau cantik jelita


namun semua sikapmu itu


memadamkan cinta ini


Harusnya sejak dari dulu


ku tinggalkan saja engkau di situ


agar kau tak lagi mengganggu


menyakiti hatiku


Harusnya sejak saat itu


kucari saja pengganti dirimu


yang lebih baik darimu


lebih baik darimu pasti


Mengapa malam ini kau tak kunjung tiba


kau bilang kau 'kan datang


bicarakan cinta


Seribu satu janji kata-kata tak kau tepati


sering coba 'tuk pahami


ku tak sanggup lagi


Harusnya sejak dari dulu


ku tinggalkan saja engkau di situ


agar kau tak lagi mengganggu


menyakiti hatiku


Harusnya sejak saat itu


ku cari saja pengganti dirimu


yang lebih baik darimu


lebih baik darimu pasti


Aku akui memang


perpisahan sungguh menyakitkan


kenangan indah itu...telah berlalu๐ŸŽถ


*Seribu Satu Janji_ Pixel band*


"Eh, Ar...kita ini mau berantem loh, napa lo malah melamun sih?" Alya menjitak keras kepala Arkan membuat cowok itu meringis kesakitan.


"Apaan sih, Al. Gue udah siap berantem dari kemaren tau gak, nih curut gila yang bikin gue selalu siaga satu." sungut Arkan sambil mengusap jidatnya yang benjol.


"Lo jangan sadis gitu napa, Al. Kasian kan jidat Arkan benjol." Rani menatap sedih jidat Arkan yang membiru.


Abby ikut melihat jidat Arkan dan meraba kening cowok itu.


"Wahh, parah lo Al, sampe biru gini keningnya Arkan. Sakit gak, Kan?" dengan jahil Abby sengaja menyentil kuat jidat Arkan.


"Wuadaooo!!! Sakit bego!" jerit Arkan.


Spontan Rani meniup lembut jidat Arkan, sedangkan Alya dan Abby ngakak tanpa tertahan.


"Aku teraniaya, Ran!" Arkan mengeluh sedih.


"Sabar ya, Kan. Aku tiup nih biar gak sakit lagi." kata Rani penuh perhatian.


"Ciee...ciee...barbie curut ke laut aje!"

__ADS_1


Alya sengaja menyindir Wulan yang dari tadi menggeram kesal melihat kemesraan Arkan dan Rani.


"Diem lo, kurcaci ceking. Udah mau mati juga masih bisa ya lo ngelawak. Tambah jelek lo tau gak?!" Wulan menatap Alya kesal.


"Biar gue jelek juga lo iri ama gue. Berartikan cantikan gue dari elo, jubaedah." dengan gaya tengil plus nyebelin Alya nyengir jahil. 'udah kayak chucky ya si Alya.'๐Ÿคญ


"Eh Al, jadi gak nih kita berantemnya. Gue ada janji kencan sama Bella tau?!" Abby sudah gak sabar dengan ketengilan Alya yang terus mengulur waktu mengurungkan niat Wulan untuk menyerang mereka.


"Lo kalo mau pulang duluan silahkan, By. Gue gak butuh bantuan lo kalo cuma ngadepin preman-preman cemen ini."


"Lo makin ke sini makin nyebelin ya, Al. Bener- bener nantangin lo ya?!" emosi Wulan memuncak.


"Guys! Habisi mereka. Jangan kasih ampun!" komando Wulan pada para anak buahnya.


"Siapa takut?! Maju lo semua!" dengan gagah berani, si mungil Alya siap-siap dengan kuda-kudanya.


"Serius lo, Al?" Abby terkekeh, menertawakan Alya yang sok gagah dengan gaya imutnya. 'Hahaha! Belum tau dia siapa Alya.'๐Ÿ˜‰


"Berisik lo, ponakan durjana. Siap-siap lo benjol. Hiattt!!!" seraya mencaci calon ponakan yang kurang ajar, Alya teriak marah menerjang anak buah Wulan yang sudah menyerang mereka.


Perkelahian pun berlangsung seru. Lawan yang cukup terlatih membuat pertempuran sedikit lama. Lawan yang tinggi besar dan cukup kuat membuat Alya keteteran. Wulan yang duduk anteng melihat perkelahian itu tersenyum sumringah melihat Alya yang mulai kewalahan.


"Alya!!!" jerit Rani melihat Alya yang terjerengkang, jatuh ketika kaki panjang sang lawan menendang keras tepat ulu hatinya.


Uhukk!


Alya terbatuk. Darah segar mengalir dari mulutnya.


Sebuah tendangan hampir mampir lagi ditubuh mungil Alya kalau saja Arkan tidak cepat menendang lebih dulu lawan Alya hingga terpelanting dan menghempas aspal cukup keras.


"Masih kuat gak, Al?" tanya Arkan. Matanya melihat Abby dan Rani yang juga tengah sibuk menghajar lawan masing-masing.


"Lo bantu Rani, Ar, sepertinya dia sudah gak kuat." tunjuk Alya. Dan,


"Akhh!" Rani menjerit keras ketika sebuah pukulan keras meluncur deras diwajah cantiknya.


"Rani!!!"


"Kurang ajar!!!"


Arkan menerjang keras lawan Rani dan langsung memukulnya dengan membabi buta tanpa memberi jeda untuk preman bayaran itu membalasnya.


Alya memeluk Rani yang tidak sadarkan diri. "Ran, bangun. Bangun." Alya menepuk-nepuk pelan pipi Rani, berusaha membangunkannya.


Alya juga melihat Wulan yang menyeringai jahat kearahnya dengan angkuh.


'Jadi ngeri ngebayangin barbie curut menyeringai, udah kayak Suzanna lagi nyengirin Bokir.'๐Ÿ˜–๐Ÿ˜ฑ


Alya pun melepaskan pelukannya ditubuh Rani dengan perlahan. Lalu kembali kepertempuran, membantu Arkan dan Abby melawan budaknya si curut.


Alya, Abby dan Arkan, saling memunggung ketika empat budak bayaran Wulan mengepung mereka. Seringai sinis nan meremehkan, menertawakan Alya cs yang mulai terjepit.


"Sudahlah, sebaiknya kalian menyerah saja. Kali ini anak buahku bukan kaleng-kaleng kayak yang kemaren. Dan kamu Kan, sebaiknya kamu balikan aja sama aku kalo gak mau kejadian ini akan terulang lagi kedepannya." Dengan sombong dan senyum congkaknya Wulan tertawa mengejek Arkan dan kawan-kawan.


"Cuihh. Mending gue berantem ama budak- budak lo daripada harus balikan ama curut kayak lo." caci Arkan.


"Kamu gak takut muka gantengmu hancur, Arkan sayang?" tanya Wulan dengan nada menggoda.


"Sori ya Lan, kegantengan gue gak bakal luntur meski di cium tronton sekalipun. Gak kayak muka lo yang dari ember ama centong." ejek Arkan. 'Narsis Arkan kumat.'๐Ÿคฆโ€โ™€


"Hah!" Wulan melongo tak mengerti sambil meraba-raba wajahnya. Setelah melihat Alya dan Abby yang cekikikan geli, Wulan pun mulai 'ngeh '.


"Sialan, lo! Muka cantik gue ini asli bukan hasil oplas, Kan." sentak Wulan kesal.


"Untung ganteng lo Kan. Kalo gak, ogah gue bucin ama lo." Wulan ngedumel kesal.


Hahahaaa!


Tawa menggema lagi dari mulut Alya, Arkan dan Abby, menambah geram hati Wulan.


"Dasar gak tau di untung. Udah mau mampus juga kalian masih aja ngeselin. Habisi mereka semua!" perintah Wulan, ganas.


"Tidak semudah itu, Fulgoso." sahut Alya dengan memasang wajah sadeeesss, bikin nyali Wulan ciut seketika.


Arkan dan Abby juga para budak Wulan menatap Alya bingung.


"Bang Sandy!!! Muka cantik Alya bonyok nih ditonjok si jelek noh!!!" suara cempreng Alya melengking nyaring membuat yang lainnya segera tutup kuping masing-masing, takut budek akibat suara supersonic Alya.


"Apaan sih lo, Al? Mana om Sandy?" Abby menoel kepala Alya.


"Tuh om ganteng lo." tunjuk Alya dengan memutar wajah Abby ke arah dimana Sandy berdiri gagah dengan senyum tampannya.


Sandy pun melangkah mendekat. Wulan ternganga, takjub, saat melihat pria tampan itu melangkah gagah, melewatinya.


"Siapa yang nonjokin kamu tadi, dek? Tunjukin sama abang muka jeleknya, mau abang bikin tambah jelek tuh muka."

__ADS_1


"Noh, yang dekil, item, kribo." tunjuk Alya pada pria yang tadi memukulnya.


Yang ditunjuk menatap kesal kearahnya.


"Sialan nih cewek, ngatain gue kok jujur banget." sungut pria itu, keki.


"Heh, barbie curut. Belom pernah liat cowok ganteng ya? Ampe ngences gitu liat tunangan gue...Aduh! Apaan sih, Ar?!" belum selesai Alya ngomong, Arkan menyentil jidatnya, cepat.


"Lo kira gue gak ganteng ya?" protes Arkan, karna bagaimana pun juga Arkan mantan pacar Wulan. Berarti wajar Arkan merasa ganteng juga ya?


'Au' ah. Emang gue pikirin.'๐Ÿ˜‘


"Cih! Sok ganteng lo." Alya menoel kepala Arkan, kesal.


"Bener cowok ganteng ini tunangan lo, Al? Kok bisa? Dukun mana yang bantuin lo melet nih cowok?" ejek Wulan.


Alya mencibir.


"Sirik lagi lo kan ama gue. Inilah buktinya kalo gue lebih cantik dari elo, Fulgoso."


"Sori ya, gue gak level sirik sama cewek jadi-jadian kayak lo." sinis kata-kata Wulan mengejek Alya. Wulan lalu mendekati Sandy.


"Eh, abang ganteng. Kenalin aku Wulan..."


"Aku tau, kamu temen Alya yang dulu merebut Arkan dari Alya kan?!" Sandy berkata tenang.


Wulan terkesiap, kaget.


"Aku gak nyangka gadis secantik kamu tega nikung teman sendiri, apalagi temannya sebaik Alya. Rugi banyak kamu, tau gak?"


Wajah Wulan memerah menahan malu. Harga dirinya seakan diinjak-injak oleh seorang pria yang sama sekali belum ia kenal.


'Lah, selama ini harga diri lo kemana, Lan? Lo tarok di pegadaian ya?'๐Ÿ˜‹


"Om, nih cewek sakit gagal move on akut,, musti cepet-cepet di isolasi sebelum makan orang." sergah Abby.


Wulan geram melihat Alya nyengir seolah mengejeknya.


"Sudahlah! Kalian buang-buang waktuku saja. Cepat habisi mereka semua, aku sudah muak!" teriak Wulan keras.


"Siap nona!"


Para budak bayaran pun kembali menyerang. Alya dan kawan-kawan pun siap siaga menghadapinya.


"Enak aja situ yang muak liat kita. Di kira kita suka liat situ? Dasar muka ember!" sungut Alya kesal sambil menepis pukulan bogem gede yang nyaris mampir diwajah mungilnya.


Dengan cepat Alya memukul balik rusuk lawannya hingga tubuh besar itu mundur beberapa langkah sambil memegang rusuknya, lalu berlutut jatuh.


Begitu juga dengan Sandy, Arkan dan Abby. Lawan-lawan mereka pun masing-masing terpental jatuh. Bahkan lawan Abby pingsan setelah dengan kerasnya tendangan memutar Abby tepat mengenai ulu hatinya.


"Lo mau kemana, barbie curut? Kali ini lo harus bertanggungjawab atas semua tingkah konyol yang lo buat." Arkan menarik kerah baju Wulan saat gadis itu berniat lari meninggalkan tempat itu.


"Maafkan aku, Kan! Aku lakukan ini untuk kamu. Aku ingin kamu kembali sama aku." Wulan memohon dengan wajah memelas, berharap Arkan luluh dan melepaskannya.


"Tidak semudah itu, fulgoso. Kali ini lo harus menghadapi hukuman lo, biar lo jera." semprot Alya, cepat.


"Aduh Marimarnya Abang, bikin gemas aja." Sandy mencubit pelan pipi Alya yang spontan menggembungkan pipinya, pura-pura manyun.


"Haishh! Nih anak pasti waktu masih jadi embrio maknya ngidam nonton telenovela, makanya besarnya jadi alay gini." Abby menepuk jidat, geli dengan ketengilan Alya.


Abby lalu mengambil alih memegang Wulan dari Arkan. "Kan, lo sadarin Rani biar Fulgoso gue yang pegang." kata Abby.


Arkan menatap Abby, bingung.


"Fulgoso tuh siapa sih, By? Musuhnya Marimar ya?"


"Bukan! Guguknya Marimar." jawab Abby santai, bikin Wulan melotot kesal


"Sialan lo! Gue lo sama'in ama anjing? Buta lo?!" teriak Wulan kesal. Dirinya tak rela kecantikannya dilecehkan.


Keempat teletubbies eh anak muda itu terbahak menertawakan Wulan yang menggeram kesal.


Tak lama, polisi pun datang dan membawa Wulan n genks.


"Heh, Lan!" panggil Alya.


Wulan menoleh. Alya pun nyengir.


"Kayaknya lo lebih pantes dipanggil barbie curut deh. Soalnya wajah cantik lo yang mirip barbie itu punya hati busuk kayak bau curut. Beda sama Fulgoso yang baik dan setia kawan sama Marimar. Jadi panggilan sayang dari gue buat lo adalah barbie curut. Cantikkan?" ledek Alya disertai lidahnya yang memelet jahil, meledek Wulan.


"Brengsek lo! Tunggu aja pembalasan gue." ancam Wulan dengan mata melotot kesal. Dendamnya makin menggunung.


"Gue tunggu!" tantang Alya.


"Bawa mereka, pak!" kata Sandy pada para anggota polisi yang menangkap Wulan cs yang segera membawa mereka ke kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2