I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Hanya Cinta Yang Bisa


__ADS_3

Kay terus memeluk istrinya, erat, seakan tak mau lepas lagi. Saat ini mereka sedang duduk berdua di rumah tempat Kay menginap.


Sandy ikut Aisyah dan Ryan melihat acara perpisahan di balai desa.


"Lepasin aku, Ngil!" Alya meronta dipelukan Kay.


"Gak mau." tolak Kay sambil terus memeluk istrinya, manja.


"Aku masih marah loh, Ngil."


Kay menatap lekat wajah istrinya. Seketika ia tertunduk ketika mata Alya juga tengah menatapnya, tajam.


"Maaf!" ucap Kay pelan. Kepalanya terus menunduk.


Alya tersenyum melihat suaminya menunduk, takut.


"Kenapa kamu gak bilang dari awal kalo kamu udah punya istri? Biar bisa tebar pesona sama cewek-cewek disini?"


"Gak, beib. Kan mereka gak nanya."


Alya mengangguk.


"Iya, ya. Jadi, mending kamu jadi bujangan aja, Ngil. Kan enak tuh banyak yang naksir." celutuk Alya.


"Kamu tau aku bukan pria yang gampang berpindah hati, beib. Hanya kamu satu-satunya yang ada di sini." Kay menunjuk dada sebelah kirinya.


"Ngil!"


Kay memandang penuh rindu wajah manis istrinya. Senyum Alya seakan menyiram dingin hati Kay yang kering karena rasa rindu pada kekasih hatinya itu.


"Maaf!" Kepala Alya tertunduk, sedih.


Rasa bersalahnya pada Kay membuat Alya tidak berani menentang mata tajam milik Kay.


Kay meraih tangan Alya dan mengecupnya lembut.


"Kamu gak salah..."


"Aku salah...mmfh!"


Kay meraih tengkuk Alya dan mencium bibirnya, menghentikan obrolan yang bagi Kay sangat tidak penting.


"Aku senang kamu ingat lagi sama aku, beib. Aku senang kita bisa bersama lagi. Mari kita fokus aja sama masa depan kita. Buang masa lalu yang gak penting, ingat yang baiknya aja." kata Kay, bijak, sambil mendekap mesra istri tersayangnya.


Alya tersenyum. Bahagia rasanya mendengar ucapan manis dari suaminya.


"Makasih ya, Ngil.Kamu selalu mengerti aku." Alya mencium pipi Kay dengan lembut.


Kay tersenyum senang.


"Apapun akan ku lakukan untuk kamu, beib. Karna aku mencintaimu." Kay mengecup lama kening Alya.


"Aku juga mencintaimu, Habibku."


Alya memeluk Kay erat.


🎵Ku pikir...


ku tak pernah pantas untuk bahagia

__ADS_1


sejak kau pergi


dalam ketidaktahuanku


kini kau kembali


membawa bingkisan kebahagiaan


yang aku ingat


pernah kau curi dariku dulu


kau tawarkan lagi untukku


Jangan lagi kau pergi dari hidupku


takkan mudah untukku bila sendiri


biar kita miliki rasa bahagia


ingin s'lalu bersama


di dalam ruang dan waktu


Kusadari...


bukan hanya kau kembalikan mimpiku


hadirmu kini...


membuatku percaya lagi


Hanya cinta yang bisa


menaklukkan dendam


hanya kasih sayang tulus


yang mampu menyentuh


hanya cinta yang bisa


mendamaikan benci


hanya kasih sayang tulus


yang mampu menembus ruang dan waktu


Jangan lagi kau pergi dari hidupku


takkan mudah untukku bila sendiri


biar kita miliki rasa bahagia


ingin s'lalu bersama


di dalam ruang dan waktu🎶


Kay dan Alya saling berpelukan mesra dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


Akhirnya, setelah melewati berbagai aral yang menghadang cinta mereka pun kembali bersatu.


"Beib...sekarangkan kita sudah menikah. Jadi... boleh dong aku icip-icip?" Kay mengerling genit pada sang istri.


"Icip-icip apaan?" tanya Alya pura-pura bego.


"Itu beib...eee..."


"Kita ini hanya nikah siri, Ngil. Aku maunya sah secara agama dan negara."


"Besok kita langsung menikah, beib. Kemarin waktu kita nikah di rumah sakit, komandanku tau kok. Dia juga jadi saksi nikah kita. Setelah kamu sembuh kita bisa langsung nikah secara hukum, karena aku sudah mengurus semuanya atas izin komandan."


"Berarti aku gak perlu ikut tes kesehatan lagi dong."


"Kata siapa?" tanya Kay.


Alya melongo.


"Loh...katanya sudah izin..."


"Itu syarat wajib untuk para calon persit, beib. Udah, rileks. Gak ribet kok, kamu tinggal ikut tes Rikes aja." ujar Kay, mencoba menenangkan Alya.


Alya mengangguk-angguk, mengerti.


"Jadi...kamu juga belum boleh icip-icip, Ngil, kan belum ikut tes." Alya senyam senyum, sengaja menggoda Kay.


"Haishh! Batal deh malam pertamanya." keluh Kay, lesu.


Hahahahaaaa.


Alya ngakak, menertawakan Kay yang tampak kecewa berat.


"Sabar ya, Ngil. Kalo kamu sabar, aku jadi makin sayang deh." goda Alya lagi.


Sengaja ia mencium pipi Kay lama, membuat suaminya itu menghentak-hentakkan kakinya, kesal.


"Lanjut puasa lagi deh kalo kayak gini." gerutu Kay, kesal.


Alya terbahak lagi.


Kay yang kesal langsung menarik tengkuk Alya dan ******* bibir gadis itu dengan penuh gairah.


"Kalo ciuman gak berpengaruh di tes kamu nanti, beib. Dan aku akan menikmati sepuasnya sekarang." kata Kay, sebelum kemudian ******* kembali bibir istrinya.


"Ngil, aku...mmfh."


"Panggil aku Habib. Kamu sudah janji akan memanggilku seperti itu kalo aku sudah sah jadi suamimu. Dan sekarang, aku suamimu dan kamu istriku." Kay menyatukan dahinya dengan dahi Alya.


Gadis itu tersipu.


"Beib?"


"Iya...Habib!" malu-malu Alya menyebutnya, membuat Kay gemas melihatnya.


"I love you, beib."


"I love you too, Habib."


Kedunya pun saling berpelukan erat, berlanjut dengan ciuman hangat, menyalurkan rasa rindu yang sudah lama terpendam di hati masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2