I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Rebutan Rara


__ADS_3

Wira menatap kesal gadis sok cantik yang kini sedang tertawa bersama ayahnya.


"Bisa-bisanya ayah tertawa sama cewek jutek itu. Apa segitu lucunya tuh cewek?" Wira ngedumel dalam hati yang gondok melihat keakraban ayahnya dengan Aura.


"Yah, pulang yuk!" ajak Wira.


Kay menoleh.


Putra semata wayangnya itu terlihat kusut.


"Udah selesai, Dek?" tanya Kay heran.


Ia melihat teman-teman Wira yang lain masih asik bercengkrama bersama keluarga atau pun teman sesama anggota polisi.


Wira mengangguk, pelan.


"Di, gue pulang dulu ya. Anak gadis gue kayaknya lagi dapet nih!" sambil pamit Kay nyelutuk, meledek bocah gantengnya.


Hadi tertawa mendengarnya.


Aura terkekeh geli.


"Om lucu banget. Ati-ati om, ntar anak gadisnya dicolong orang." ledek Aura yang ditujukan pada Wira yang spontan melotot seram kearahnya.


Aura melengos, buang muka, pura-pura tidak melihatnya.


"Heh, neng. Jangan judes gitu sama Wira. Ntar bucin loh!" Hadi menggoda putrinya yang terlihat tidak menyukai Wira.


Kay tersenyum simpul.


Sedangkan Wira nyengir, kikuk.


Hadi dan Kay tau kalau kedua anak muda itu tidak pernah akur karena sejak tadi mereka saling menyindir kalo sedang berbicara.


"Maaf ya papa Rara yang ganteng, baik dan gak pelit. Rara udah punya pacar yang paling ganteng, paling baik, dan yang pasti gak sok cool. Dan Rara emang udah bucin sama pacar Rara."


"Siapa? Denny?" tanya Hadi.


Aura mengangguk mantap.


"Denny...menurut papa dia itu sok ganteng, padahal mukanya pas-pasan. Sok baik, padahal pura-pura baik, dan papa gak gak suka sama dia. Ada kandidat lain?" Hadi nyerocos, akut.


"Bapak sama anaknya, sama-sama lemes mulutnya."


Wira mengulum senyum.


Wira pura-pura membuang muka ke sembarang arah ketika Aura menatapnya sinis.


"Baiklah. Rara akan perkenalkan papa dengan pacar Rara yang lain."


"Eh, buset nih bocah! Sok cantik banget, kayak banyak aja yang mau. Jutek gitu, gue dikasih juga ogah." mencibir Wira dalam hati.


"Wah, cantik! Om percaya kalo kamu banyak yang suka, habis kamu cantik banget. Apa Om masuk kriteria cowok idaman kamu, cantik." kelakar Kay membuat mata Wira membulat, tak percaya melihat ayahnya yang terkenal dingin dan cuek pada wanita ternyata bisa alay juga.


Aura cuma nyengir, ngilu.


"Om bisa aja. Rara jadi malu." pipi Aura merah merona, malu.


"Ayah! Genit banget sih! Yuk ah, pulang!"


Wira menoleh pada Hadi.


"Om, kami permisi ya." pamit Wira pada Hadi.


"Oh iya, Wira. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya?" kata Hadi.


"Iya, om!"


"Tapi melihat ayah tiba-tiba centil gini sama Aura kayaknya... gak janji deh, om." kata Wira dalam hati.


Wira mencium punggung tangan Hadi.


Kay tersenyum sambil menjabat erat tangan Hadi.


"Gue pulang dulu ya, bro. Gue suka sama anak lo." ungkap Kay, blak-blakan.


Hadi tersenyum dan mengangguk.


Wira menepuk jidatnya.


Hufh!


"Rara, om pulang dulu ya. Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi." Kay mengusap rambut Aura, dan menatapnya lembut.

__ADS_1


"Iya, om!" Aura mencium punggung tangan Kay, sopan.


Di dalam mobil,


"Yah, bisa gak sih gak usah kecentilan kayak tadi. Ayah tuh bukan abg lagi, gak pantes alay kayak gitu." protes Wira tanpa menoleh ke ayahnya yang duduk disampingnya. Matanya fokus menatap jalan didepannya.


"Emang kenapa? Rara emang cantik kok." sahut Kay, santai.


"Aku heran sama ayah, sampai aku segede gini baru sekarang aku lihat ayah akrab dengan cewek. Apa ayah beneran suka sama Aura?" tanya Wira penasaran.


Seumur hidup Wira, belum pernah dia melihat ayahnya sedekat itu dengan seorang wanita.


Ayahnya selalu cuek bila ada wanita yang coba mendekatinya dan juga selalu menolak perjodohan yang dibuat Nek Yin, mamanya Kay.


"Gak boleh ya kalo ayah suka sama Rara?" tanya Kay.


"Aku gak pernah melarang ayah deket sama cewek. Aku malah senang karna sudah lama aku mau ayah memiliki pasangan. Ayah sudah terlalu lama sendiri."


"Terus?"


"Aku gak suka ayah dekat sama Aura!"


"Kenapa?"


Wira menatap kesal ayahnya.


"Yah, ingat umur dong. Kalo cari istri yang seumuran. Aura tuh pantesnya jadi anak ayah." protesnya.


Kay menoleh.


"Siapa bilang? Ada kok pasangan yang beda usia sampai puluhan tahun..."


"Maksud ayah...ayah naksir sama mak lampir itu?!" sontak Wira tiba-tiba menghentikan mobilnya.


Alhasil, nyaris membuat kepala Kay nyaris kepentok dashboard.


"Kamu mau bunuh ayah, Dek? Ayah masih pengen nimang cucu, Dek." sungut Kay, kesal.


"Pengen cucu apa masih pengen buat anak, makanya ngincer daun muda." semprot Wira.


"Kenapa emangnya kalo ayah suka daun muda? Ayah masih kuat kok, jangan sirik!" sahut Kay, cepat.


"Aku gak sirik. Aku cuma gak suka kalo ayah sukanya sama Aura."


"Iya, tapi Aura terlalu muda untuk ayah."


"Masak sih?"


Wira menghempas napas, kesal.


"Ayah nih pura-pura o'on apa emang o'on beneran sih? Udah tua ganjen banget!" dengus Wira, sebal.


"Terus Rara cocoknya sama siapa, Dek?"


"Ya sama aku lah...eh, maksudku pokoknya dia gak cocok sama ayah!" Wira keceplosan dan itu membuatnya salah tingkah.


Kay mesam-mesem.


"Kamu suka sama Rara, Dek?" goda Kay pada putranya.


Wira mendelik, sebal.


"Gak! Mana mungkin aku suka sama cewek jutek kayak mak lampir gitu."


Kay tergelak.


"Ya udah. Kalo kamu gak suka, Rara buat ayah aja." ujar Kay, santai.


"Eh!"


Wira melotot.


"Dasar gak ingat umur!" sungutnya, sebal.


"Biarin. Yang penting Rara juga suka sama ayah." ejek Kay.


Wira mendengus kesal.😤


🎵abg tua yang gak nyadar umurnya


sok-sok'an tampil gaya


awas ntar encoknya kumat

__ADS_1


akunya tepuk tangan aja🎶🎤🎤


prok prok prok!!!


Wira nyanyi sambil tepuk tangan, menyindir sang ayah yang tergelak, ngakak, disebelahnya.


"Dek, mau dengerin lagu ini gak?" tawar Kay sambil mengacungkan ponselnya.


Wira mengernyit, memandang sang ayah, tak mengerti.


"Lagu apaan?" tanyanya.


"Kita dengerin dulu ya."


Kay menghubungkan bluetooth diponselnya ke speaker mobil Wira.


🎵Semula ku tak tau


engkau juga 'kan ingin memilikinya


bukankah ku lebih dulu


bila engkau temanku


sebaiknya tak mengganggu


Dia untukku bukan untukmu


dia milikku bukan milikmu


pergilah kamu jangan kau ganggu


biarkan aku mendekatinya


Kamu tak akan mungkin


mendapatkannya karena dia


berikan aku pertanda cinta


janganlah kamu banyak bermimpi oh...


Dia untuk aku


Bukankah belum pasti kamu juga


'kan jadi dengan dirinya


dia yang menentukan


apa yang 'kan terjadi


tak usah mengaturku


Dia untukku bukan untukmu


dia milikku bukan milikmu


lihatlah nanti lihatlah saja


biarkan aku mendekatinya


Kamu tak akan mungkin


mendapatkannya karena dia


berikan aku pertanda juga


janganlah kamu banyak bermimpi oh...


Ku sarankan engkau mundur saja🎶


Dia Milikku - Yovie & Nuno


Manyun monyong bibir Wira setelah lagu berakhir.


"Kena banget kan?"


"Apanya?"


"Lagunya."


Wira menoleh sebentar, lalu kembali fokus menatap jalan sambil menghela napas panjang.

__ADS_1


"Masak gue saingan sama ayah? Gak keren banget!"


__ADS_2