I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Jadi Mantu Apa Jadi Ibu?


__ADS_3

"Serius, Bro? Lo beneran lagi jatuh cinta?" tanya Egi tak percaya.


Saat ini Kay, Egi dan Arkan sedang kumpul di rumah Kay.


"Beneranlah, masak bo'ongan." sahut Kay, mantap.


Wira yang duduk di sebelah Kay mencibir.


"Bibirnya kenapa gitu, Wir? Sariawan?" tegur Arkan yang heran melihat tingkah Wira.


"Gak pa-pa. Lagi senam muka, Om." jawab Wira, asal.


Ia pun memenyat-menyot wajah tampannya.


Kay tersenyum geli.


Dia tau putranya tidak suka mendengar pengakuannya tadi pada kedua sahabatnya.


"Wira gak suka sama gadis yang gue suka, Bro." ujar Kay.


Arkan dan Egi menoleh pada Wira.


"Bukannya kamu pengen ayahmu punya pendamping hidup, Wir?" tanya Arkan.


Wira mengangguk.


"Iya Om, tapi jangan cewek yang ini." dalih Wira.


"Kenapa? Jarang-jarang loh Wir ayahmu menyukai seseorang. Ini berarti ayahmu sudah mulai membuka diri." sambung Egi.


"Iya, tapi cewek ini masih muda, Om. Tua'an juga aku." sahut Wira.


"Beneran, Kay?"


Egi dan Arkan menatap Kay, lekat.


"Gak boleh ya gue suka sama Rara?" tanya Kay.


Arkan dan Egi saling pandang.


Kay mengedipkan matanya pada dua sohibnya itu, memberi kode.


Egi dan Arkan pun paham.


"Boleh. Boleh kok, Bro."sahut Arkan cepat.


"Iya, Kay. Boleh banget. Asal lo suka, gue pasti dukung lo." Egi merangkul bahu Kay.


Senyum Kay mengembang.


Wira yang down.


"Alamat beneran saingan nih gue sama ayah." dalam hatinya Wira mengeluh. Wajahnya pun berubah keruh.


"Itu muka apa air, Wir? Butek amat!" tegur Arkan yang melihat raut wajah Wira berubah.


Egi dan Kay terkekeh geli.


"Wira, boleh Om tau kenapa kamu gak suka dengan gadis yang disukai ayahmu?" tanya Egi.


"Kan udah aku bilang, Om. Cewek itu masih terlalu muda, gak cocok jadi istri ayah..."


"Terus...cocoknya jadi istrimu, gitu?!" sergah, Kay, memotong ucapan Wira.


"Emang gitu kan harusnya, Yah!" ceplos Wira tanpa sadar.


Kay, Arkan dan Egi senyam-senyum, geli.


"Udah deal, nih?"

__ADS_1


"Hah?" Wira menatap tiga pria setengah gaek didepannya dengan pandangan bingung.


"Sekarang kamu pilih, Dek. Kamu mau kasih ayah cucu atau...ayah yang kasih kamu adik?"


Pertanyaan 'absurd' Kay membuat Egi dan Arkan cekikikan geli.


Sedangkan Wira, udah kayak tepung dikasih ragi tuh wajah tampannya ketika mendengar pertanyaan ayahnya.


"Jawab, Dek. Jangan diem aja. Ayah udah kebelet nih." tuntut Kay.


"Apaan sih, Yah!"


Wira mendelik, sewot.


"Jawab!" pinta Kay, ngotot.


Wira menghela napas berat.


"Dek!"


"Iya. Aku akan kasih ayah cucu." jawab Wira, pelan.


"Apa, Dek? Ayah gak denger kamu ngomong apa." Kay mendekatkan telinganya ke wajah Wira.


"Ckk, dasar temennya Malih Tong Tong!" dalam hati Wira mengumpat, sebal.


"Iya, ayah. Aku yang akan kasih ayah cucu. Puas?!" sahut Wira agak keras.


Kay buru-buru menjauhkan kupingnya dari Wira.


"Biasa aja Dek ngomongnya, gak usah teriak. Ayah belum budek, kaleee!" Kay meniupkan tangannya terus menekan telinganya berulang-ulang.


"Ngaku gak budek. Tapi tadi udah saingan deh ayah sama bolot." sungut Wira, lagi-lagi cuma berani dalam hati.


(Iyalah dalam hati, karna Wira gak mau kena tulah kalau melawan ayahnya. Memang Wira anak ayah yang terbaik.👍)


"Yess!!!"


"Ucapin selamat buat gue, Bro. Gue bakal punya cucu." wajah Kay tampak sumringah.


Hatinya berbunga-bunga saat membayangkan ia menggendong cucu kesayangannya.


"Ntar aja deh ngucapinnya, Bro. Tunggu Wira bawa calon istrinya aja dulu." sahut Arkan yang diakurin Egi.


"Udah ada Bro, calonnya." tukas Kay.


"Siapa?"


"Rara!"


Egi dan Arkan menatap Wira, kompak.


Wira hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini ceritanya gimana, sih? Kok gue bingung ya?!" Egi mengernyitkan dahinya.


"Sama. Gue juga gak ngerti." timpal Arkan.


Kay tertawa melihat ekspresi kedua sahabatnya yang sedang bingung.


"Calon mantu gue tuh namanya Aura, panggilannya Rara." Kay memberitahu calonnya Wira pada Egi dan Arkan.


"Loh...bukannya Rara nama cewek yang lo demen, Kay?" tanya Egi bingung.


"Dodol banget sih lo, Gi!" Kay menjitak pelan jidat Egi.


"Gue tadi cuma mancing-mancing Wira aja biar mau ngaku kalo sebenarnya dia tuh suka sama si mak lampir." sindir Kay.


Bibirnya mengulum senyum, dengan mata melirik Wira yang mencibir, sebal, padanya.

__ADS_1


Egi dan Arkan manggut-manggut, paham.


"Gue kira lo beneran tadi suka sama daun muda, Bro." celoteh Arkan.


"Gue emang suka sama daun muda. Apalagi kalo dibuat lalapan pake sambel terasi. Beuhh!!!" Kay mengacungkan jempolnya.


"Mertua lewat aja gak nyadar saking sa'iknya."


"Dasar mantu durhaka lo!" gantian Egi yang nyentil jidat Kay.


Mereka pun terkekeh, geli.


"Jadi tadi lo sengaja 'ngerjain' Wira biar dia mengakui perasaannya sama Rara, Kay?" tanya Arkan lagi.


Kay mengangguk.


"Wira mirip banget ama emaknya, pinter menyembunyikan perasaannya. Dia gak kayak gue yang 'to the point'." ungkap Kay.


"Setidaknya dia bisa jaga imejnya sebagai cowok sejati, gak jadi bucin kayak lo." celutuk Egi, judes.


"Belum." sergah Kay.


"Tunggu aja kalo udah jadian, pasti dia lebih bucin dari gue." sahut Kay, tak mau kalah.


"Diih, pake disama-samain. Aku ya aku, ayah ya ayah." sentak Wira, tak rela dirinya disamakan dengan kebucinan sang ayah.


"Kamu belum pernah pacaran, Dek. Kamu akan merasakannya nanti kalo kamu sudah punya pacar." kata Kay.


Wira mencibir lagi. (Duh, otor jadi pengen **** tuh bibir.😚)


"Tapi inget ya, Dek!"


"Apa?"


"Ayah maunya Rara yang jadi mantu ayah." kata Kay lagi.


"Ta..."


"Kamu mau Rara jadi mantu ayah atau jadi ibumu?" tanya Kay penuh penekanan.


"Jadi mantu ayah."


Wira menunduk, pasrah.


"Bagus! Besok kita ke rumah Mayor Hadi."


"Mau ngapain, Yah?" tanya Wira, cepat. Perasaannya tak enak.


"Mau melamar Rara."


"Hah?!!"


Wira menangkup wajahnya, pasrah, melihat senyum girang ayahnya.


Ditambah lagi dua omnya mesem-mesem gak jelas, membuat Wira lagi-lagi hanya bisa pasrah.


"Terserah ayah deh, asalkan ayah bahagia."


"Gue juga beruntung gak perlu repot-repot mikirin cara ngedeketin Rara. Terima beres aja. Yes!!!" batin Wira ikut bersorak girang.


author : Pinter banget sih kamu nyembunyi'in perasaan kamu, Wir. Otor suke, otor suke


😍👏👏👏😘


Mpok Neti : Ganjen lo, thor!🙄😒


author : Sirik aja lo. Padahal suka juga kan?😌


Mpok Neti : Tau aje lo, thor! Gue jadi malu.🤭🤭

__ADS_1


author : 😒😒😒😒😤


Pengen kasih visual tapi takut gak cocok ama karakternya. Bingung author, guys! Soalnya banyak Polisi yang ganteng-ganteng.😋🤭


__ADS_2