I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Abby Menikah


__ADS_3

Alya tersenyum bahagia melihat wajah tampan yang juga tengah tersenyum penuh rindu menatapnya.


"Aku kangen kamu, beib!"


"Aku juga, bib."


Alya dan Kay sedang melakukan video call, seperti yang biasa mereka lakukan setiap malam sebelum tidur, semenjak Kay pergi bertugas. Itu juga kalo sinyalnya di sana lagi bagus. Maklum, masih dipedalaman.


"Kamu makin cantik aja, beib." rayu Kay dengan mata menatap lekat istrinya. Terlihat rindu yang teramat sangat di mata elang itu.


"Jangan ngeledek, bib. Aku tau, aku gendut sekarang." Alya pura-pura merajuk dengan menunjukkan perutnya yang sudah membulat.


Kay tertawa.


"Bagiku, bagaimana pun kamu, dimataku kau tetap cantik, beib."


"Gombal."


"Tapi kamu seneng kan aku gombalin?"


Alya mengangguk dan tersenyum malu-malu.


"Haish, beib. Gemes aku liat kamu. Kalo kamu ada di sini, udah aku makan kamu." Kay menggigit bibir bawahnya, menahan rasa gemasnya pada istri tercintanya.


Alya terkekeh geli mendengar ucapan suaminya yang terkesan mesum.


"Gimana kabar dedek, beib?" Kay menanyakan keadaan baby yang ada dikandungan istrinya.


"Alhamdulillah, bib. Sehat, gak ada keluhan apapun."


"Kemarin...giliran siapa yang nemenin kamu periksa, beib?"


"Bang Sandy."


Kay nampak mengernyitkan dahinya.


"Kok om Sandy? Emang bang Abby dan Egi kemana?"


"Abby sibuk mengurus pernikahannya, bib. Sama kayak kamu dulu. Kalo Egi, dia kan lagi sibuk skripsi."


Kay mengangguk, mengerti.


"Kira-kira kapan kamu lahiran, beib?"


"Perhitungannya sih bulan depan, bib. Habib doa'in aku biar lahirannya lancar dan selamat aku dan baby kita. ya?"


"Pastilah, beib. Kamu dan baby kita selalu ada disetiap do'aku. Aku ingin yang terbaik untuk kamu dan buah hati kita."


Alya menatap sendu wajah suaminya. Tenggorokannya sesak, menahan keharuan yang hadir tanpa terasa.


"Kamu kenapa, beib? Kamu nangis? Kenapa menangis, beib? Maaf kalo aku gak bisa nemenin kamu lahiran nanti." Kay jadi merasa bersalah melihat istrinya menangis.


"Aku gak pa-pa, bib. Aku rindu banget banget sama Habib." Alya berusaha kuat di depan suaminya.


Kay tersenyum senang mendengarnya. "Aku juga kangen sama kamu, beib. Kangeeeeennn banget!"


Alya mengangguk, percaya.


Kay melihat jam yang ada didinding kamar Alya. Pukul 20.35 wib.


"Tidurlah, beib. Istirahat. Besok kan harus bangun pagi mengantar bang Abby ke rumah Bella." kata Kay, mengingatkan Alya.


Sang istri tercinta mengangguk, menurut.


"Habib juga tidur. Jaga kesehatan. Ingat, di sini aku dan baby menunggu Habib."

__ADS_1


"Iya, beib. Jangan bosen tunggu aku pulang ya?"


"Pasti, bib!"


"I love you, beib!"


"I love you too, habibku!"


Panggilan Videocall pun terputus. Alya pun segera tidur agar besok pagi dia tidak bangun kesiangan.


Sebenarnya sejak usia kandungannya memasuki bulan ketujuh, Alya mulai kesulitan untuk tidur.


Dimana sang baby yang sewaktu-waktu bergerak didalam perutnya hingga kadang mengganggu waktu tidurnya, sampai Alya yang sering merasakan pegal di bagian pinggulnya.


Alya menggeliat geli ketika merasakan baby bergerak-gerak di dalam perut.


"Dek, emak mau istirahat. Kita bobo sama-sama ya?"


Alya mengelus-elus perutnya sambil mengajak calon anaknya berbicara. Dan seakan mendengar apa yang Alya katakan, baby pun diam tidak berusik lagi.


"Anak pintar!" katanya lagi saat merasa sang buah hati sudah tenang kembali.


Pukul 06.00 wib.


Papa, mama, Sandy, dan Abby menjemput Alya kerumahnya sebelum mereka ke rumah Bella.


Hari ini Abby akan melepas masa lajangnya dengan menikahi kekasihnya Bella setelah mereka pacaran hampir lima tahun. (kayak pemilu ya?🤭)


"Kenapa, By? Gugup?" tanya Sandy yang melihat Abby gelisah.


"Rileks, bang. Tarik napas, buang pelan-pelan. Tarik lagi, buang lagi." Egi memberi komando.


Dan Abby mengikuti arahan Egi.


"Tau, Gi. Abby udah kasih tau Kay, kok."


"Kay ada ngomong sesuatu gitu, buat bang Ab...aduh! Sakit be...hehehe!!" Egi terkekeh melihat orang yang dengan ganasnya sudah menjitak kepalanya keras.


"Bang Abby...hehehe. Maaf..."


"Dasar lu rendang nangka. Lu mau gue pake tabung oksigen gara-gara kehabisan napas." Abby mendelik sewot, menatap Egi dengan tatapan membunuh.


"Ampun, bang! Ampun!" Egi menyembah- nyembah, memohon ampun.


Semua yang ada di ruang tamu rumah Alya tertawa geli.


"Biar kamu gak tegang lagi, bang." goda Sandy.


"Haish, malah aku makin tegang kalo kayak gini, om." sahut Abby, gugup.


"Gara-gara lo nih!" Abby menatap Egi, kesal.


"Peace, bang! Peace!" Egi mengacungkan dua jarinya sambil cengengesan, lucu.


Abby melengos, sebal.


"Calon pengantin gak boleh manyun, ntar ilang gantengnya." goda Alma.


Abby nyengir.


"Gak bakal ilang, makcik. Emang bang abby gak ganteng." Egi masih saja meledek Abby.


"Awas lo ya, Gi. Ntar giliran lo nikah, gue bales lo lebih gila." ancam Abby.


"Sebelum lo bales gue, lo udah masuk RSJ duluan, bang. Kan lo gila." Egi cengengesan, sengak.

__ADS_1


"Dodol lo! Gue lipet juga lo!" sungut Abby, keki.


Tawa pun kembali pecah, meramaikan seisi ruangan.


Tak Lama mereka pun berangkat menuju kediaman Bella, tempat dilangsungkannya acara ijab qabul dan resepsi pernikahan Abby dan Bella.


Dua jam kemudian,


"Saya terima nikahnya Bella Audya binti Rahmat Akhsan dengan mas kawin yang tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana, saksi? Sah?"


"Sah!"


"Sah!"


"Alhamdulillah!"


Alya tersenyum bahagia melihat pasangan yang ada didepannya.


"Selamat ya, By, Bel. Semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah." ucap Alya tulus.


Dipeluknya erat kedua pasangan pengantin itu bergantian. (Mesti perut Alya membuatnya sedikit kesulitan.😅)


"Makasih, Al."


Resepsi digelar setelah ijab qabul. Tamu-tamu yang berdatangan pun sangat ramai, menambah meriah suasana.


"Al!"


Arkan yang datang bersama Rani langsung menghampiri Alya yang sedang duduk sendirian di dekat taman rumah Bella.


"Halo, dedek ganteng! Om Arkan coming!" Arkan memegang perut Alya dan menciumnya.


Rani menatap lekat wajah Alya yang tampak biasa saja.


"Lo gak mual lagi, Al?" tanya Rani heran. Seingatnya, Alya selalu mual bila ada Arkan didekatnya.


"Gak."


"Kok bisa?"


"Mungkin dedeknya udah tau kalo aku ini juga omnya, Yank. Iya kan, dedek ganteng?" Arkan mengelus-elus perut Alya lagi.


"Lo tau darimana calon anak gue cowok, Ar?" tanya Alya heran.


"Feeling, Al." jawab Arkan membuat Alya tertawa mendengarnya.


"Feeling so good, ya?" ledek Alya.


"Feeling gue kuat kalo dedek ini cowok, soalnya sengak kayak bapaknya...aduh!" Arka. spontan mengusap kepalanya yang terkena jitakan super cepat Alya.


"Kalo pun cewek juga pasti mirip emaknya, yang hanya casingnya aja cewek, jiwanya tetep gahar." Arkan buru-buru menghindar ketika Alya akan menjitaknya lagi.


"Lo...ngatain anak gue lo ya? Gue bilangin..."


"Bilangin siapa? Kay? Mana coba orangnya, gue gak takut." Arkan meledek Alya.


"Abaaaaaaannggg!!! Arkan ledekin akuuuu!!!" teriak Alya kencang.


"Arkaaaaannnn!!! Mau aku sate kamu?!!!"


"Yuk Yank, kita ketemu pengantinnya!!"


Melihat Sandy datang dengan wajah masam, Arkan buru-buru kabur sambil menarik tangan Rani yang terus cekikikan, geli.

__ADS_1


__ADS_2