I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Cemburu


__ADS_3

"Lo pulang bareng siapa, Ran? Arkan?" tanya Alya pada Rani saat keduanya sedang duduk di taman belakang kampus.


"Iya, Al. Mana mau Arkan biarin gue pulang sendiri setelah kejadian kemaren." ujar Rani jujur.


Alya tertawa geli.


"Itu sih akal-akalan Arkan aja biar lo terus bergantung ama dia." hasut Alya.


"Ngomong apa lo, Loly? Jangan kotori otak Rani sama hasutan lo ya?" Arkan menjitak pelan kepala Alya.


"Ishh! Emang lo modus sama Rani." sungut Alya. Arkan nyengir.


"Lo paling tau gue, Al. Tapi yakinlah sumpah, kali ini gue serius, gak main-main." Arkan mengacungkan dua jari tanda keseriusannya.


"Eh...bodo amat. Yang penting Rani jangan lo sakitin, kalo gak...nih!" Alya mengacungkan bogemnya.


Arkan terkekeh.


"Tangan kecil kayak gitu mau ngancem gue...gak takut." ejeknya.


Alya mendelik sewot.


"Sialan lo! Mau nyoba kena tangan kecil gue...nih!" Alya menjepit leher Arkan dengan tangan kirinya dan tangan satunya menjitak keras kepala Arkan sepuas hatinya.


"Aduh! Aduh! Ampun, Al! Ampun!" Arkan mengaduh minta ampun.


Rani cekikikan geli melihat tingkah dua orang yang ada di depannya itu.


"Gak ada ampun buat lo, sebelum lo janji gak akan ngecewain Rani." Alya terus memborbardir kepala Arkan dengan jitakannya.


"Aduh! Ampun, Al! Iya, gue janji akan selalu menjaga hati Rani dan gak akan bikin dia kecewa." janji Arkan.


"Bener?!"


"Gue janji, Al! Swear!"


Tapi Alya belum melepaskan tangannya dileher Arkan, sampai...

__ADS_1


"Dek!"


Alya tersentak. Tanpa komando, Alya dan Arkan sama-sama menoleh ke belakang.


Rani terdiam kaku sambil menutup mulutnya.


Deg!


Sandy menatap Alya dengan wajah menahan marah.


Alya meringis, getir.


Pelan-pelan dilepaskan tangannya yang seolah tengah memeluk Arkan.


"Eh, abang. Kapan datang?" tanya Alya, berbasa-basi.


"Udah dari awal kamu maksa Arkan buat janji sampai kepalanya benjol."sahut Sandy.


Alya cengengesan, malu. "Habis Arkan modusin Rani, sih."


"Eh, gue gak modus ya? Gue cuma mau jagain Rani." bantah Arkan cepat.


"Enggak!"


"Enggak!"


"Udah!" Sandy menengahi Alya dan Arkan.


"Dek, kamu jangan ikut campur urusan cintanya Arkan sama Rani. Itu privasi mereka. Abang yakin kok Arkan gak akan bersikap bodoh lagi kayak dulu."


"Tuh, Al. Tunangan lo aja percaya sama gue." ujar Arkan senang mendengar ada yang mendukungnya.


Sandy menepuk bahu Arkan.


"Gue dukung lo, bro. Setidaknya lo sekarang gak ngejar-ngejar Alya lagi." bisik Sandy ditelinga Arkan, membuat cowok itu mendelik sinis menatap Sandy.


"Ya udah! Awas aja kalo lo ingkar janji."

__ADS_1


"Gak akan, Al. Kali ini gue gak akan melakukan kesalahan yang sama. Gue beneran cinta sama Rani." ucap Arkan, tulus.


"Bagus!"


Arkan menatap Sandy, tajam.


"Bang, gue seneng Alya berada di tangan orang yang tepat. Gue ingin Alya bahagia. Gue minta lo terus jaga Alya sampai akhir."


"Pasti, bro! Gue akan selalu jaga Alya. Dia harta paling berharga buat gue." janji Sandy. Keduanya lalu bertoast, mantap.


"Kalo gitu, gue permisi pulang duluan ya. Yuk, Ran." Arkan menggenggam tangan Rani, beranjak meninggalkan Alya dan Sandy.


"Hati-hati!" seru Alya.


Rani melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Abang marah ya?" tanya Alya setelah Arkan dan Rani, pergi.


Sandy menggeleng. "Abang cuma gak suka kamu terlalu akrab sama Arkan." jawabnya, pelan.


"Tapi kami kan cuma temenan..."


"Abang gak pernah melarang kamu berteman sama siapa saja, dek. Abang cuma gak suka kamu sampai menyentuh Arkan seintim itu." kata Sandy jujur.


"Maaf, bang. Kebiasaan dari dulu."


"Kebiasaan yang harus ditinggalkan mulai sekarang." sahut Sandy, cepat.


"Iya, bang." Alya mengangguk. Sandy mengacak lembut rambut Alya.


"Yuk, pulang." ajak Sandy. Alya mengangguk lagi.


"Sebelum pulang, kita makan dulu."


"Asiyaap, bos!" wajah Alya berbinar senang.


"Dasar lambung drum. Denger kata makan perutnya langsung bergejolak heboh."😅

__ADS_1


__ADS_2