
Hahahahahahaaa.
Kay paling keras tawanya ketika mendengar curhatan Egi yang didiemin Elsa setelah kejadian kemarin.
"Bahagia amat lo, Kay. Kayaknya seneng banget liat gue menderita gini." sungut Egi setengah mengeluh, kesal.
"Gue sedih liat lo, Gi. Hahahahaaa."
Tawa Kay makin kenceng, tak mampu menahan geli saat melihat Egi melengos kesal.
"Saatnya sekarang lo pakai ilmu lo waktu belajar sama Naruto, Gi."
"Ilmu apaan, Kay?"
"Ilmu menghilangkan diri, biar o'on lo gak muncul lagi. Makanya jangan suka tebar pesona kalo udah punya cewek. Contoh nih gue, setia dunia akhirat." kata Kay dengan nada sombong.
Egi mencibir.
"Kalo lo itu... bucin namanya. Udah diputusin masih juga lo ambil tunangan orang, gak tau malu lo." cibir Egi.
"Orang pacar gue yang di ambil, ya gue rebut baliklah."
"Gak segampang itu, Bambang. Kalo lo merasa pacar lo di ambil, kenapa lo lepas dia waktu itu? Mikir pake ini, jangan pake ini!" Egi menunjuk kepala dan dengkul Kay.
"Bodo amat! Yang penting Alya punya gue sekarang, dan gak bakal gue lepasin lagi." sahut Kay sambil memeluk erat Alya yang dari tadi hanya tersenyum mendengar adu Kay dan Egi yang saling sindir.
"Udah ah. Kalian ini, kalo bertemu ribut mulu. Kayak anjing sama kucing aja." Alya menengahi keduanya.
"Aku kucingnya, beib. Kalo Egi terserah mau jadi guguk atau jadi apa aja asalkan dia bahagia, gak butek kayak gini." dengan cepat Kay menyaut, walau asal mangap.
"Haishh! Gue bikin perkedel juga lo." sungut Egi kesal.
"Udah, bib. Kasihan Egi kamu ledekin terus. Kasih dia solusi kek biar masalah dia sama Elsa cepat selesai." Alya mengusap lembut lengan suaminya.
Kay tersenyum menatap istrinya.
"Bukannya aku gak mau kasih solusi sama Egi, beib. Masalahnya cewek yang deket sama aku kan cuma kamu, gak ada yang lain. Aku juga tipe cowok setia, jadi aku gak pernah bikin kamu merasakan seperti yang Elsa rasakan." Kay mengedipkan matanya pada sang istri.
"Oh ya?" Alya tersenyum, tak yakin.
Kay mengangguk cepat.
"Terus...yang waktu di kampung S dulu, gimana?" ungkit Alya. Waktu itu Alya melihat Kay sedang berpelukan dengan seorang wanita.
"Lo juga pernah kepergok Alya lagi berduaan sama cewek lain, Kay?" Egi kaget mendengar obrolan suami-istri itu.
"Haish. Itu cuma salah paham, Gi. Gue sayang sama bini gue, dan gak bakalan berpaling sama yang lain. Ya kan, beib?"
"Cihh. Padahal waktu itu kamu menikmati banget waktu Aisyah peluk kamu, kan?" sindir Alya dengan nada sinis.
"Gak, beib. Aku gak kayak gitu. Waktu itu yang ada dipikiran aku cuma kamu. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, gak ada dan gak akan pernah ada yang lain." ucap Kay sungguh-sungguh.
"Aaaa...bikin makin cinta deh!" seru Alya histeris. Ia langsung memeluk Kay, manja.
Dan langsung di balas pelukan mesra dan ciuman lembut di pucuk kepalanya dari suami tercintanya.
"Huekk! Eneg gue liat lo berdua. Masih aja lebay." sungut Egi.
"Dee...sirik aja lo!" ledek Alya.
"He-eh. Ganggu aja orang mau mesra-mesraan. Pulang sana!" usir Kay.
Egi mencebik.
Dengan sengaja Kay mencium bibir Alya di depan Egi, membuat cowok tampan itu melotot kesal.
"Pasangan somplaaaaakkkk!!!" teriak Egi kesal.
Hahahahahahahaaa.
Kay dan alya pun kompak ngakak.
Jangan nangis, Gi. Mulai hari ini, belajarlah jadi jomblo ngenes.🤣🤣🤣
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Arkan datang. Senyum gelinya muncul saat melihat tampang bete Egi.
"Noh, Gi. Pakarnya playboy dateng. Minta solusi ama dia noh." Kay menunjuk Arkan yang langsung duduk di sebelah Egi tanpa disuruh.
__ADS_1
"Kenapa Egi? Sakit gigi ya?" tanya Arkan, sok polos.
Kay tergelak.
"Ajari Egi merayu, Ar, biar Elsa luluh hatinya." kata Alya.
"Bukannya Egi pinter merayu. Makanya Fania ngebet banget pengen jadi ceweknya."
"Diem lo!" sungut Egi sambil melempar Arkan menggunakan bantal kursi.
Arkan menangkapnya sambil ngakak. Begitu juga dengan Alya dan Kay.
"Sialan. Mereka berjamaah ngebully gue." gerutu Egi dalam hati.
"Membujuk Elsa tuh sebenarnya gampang, Gi. Dekati dia, tunjukkin kalo lo tulus sama dia dan berjanji gak akan mengulangi kesalahan yang sama. Gue yakin Elsa pasti maafin lo dan jadi milik lo lagi." nasehat Arkan.
"Aamiin. Mudah-mudahan ya, Kan!" harap Egi.
"Lo harus optimis, Gi. Kalo lo gak mau kehilangan Elsa." kata Arkan lagi.
"Tuh, Gi. Kalo pakarnya udah ngomong pasti lo dijamin puas. Arkan gitu lo?!" ujar Kay.
Egi mengangguk.
"Pengalaman lo, bro?" tanya Kay setengah meledek Arkan.
Seketika Arkan mesem-mesem dan mengangguk malu.
"Sama siapa, bro?"
"Sama Bini lo!" jawab Arkan, pelan.
Tapi mampu membuat jantung Kay seakan terjun bebas, karena cemburu.
"Cuma sayangnya...Alya gak mau balikan ama gue. Nyesek gue jadinya." sambung Arkan.
Tangan kanannya memegang dada kanan sebelah atasnya, seolah itu menyakitkan hatinya.
"Curhat ya?" ejek Kay seraya tertawa.
Alya tersenyum geli.
Dan Egi menutup mulutnya, berusaha untuk tidak terbahak.
"Sakitnya tuh di sini ya?" goda Egi sambil memperagakan gaya lagunya Cita Citata dan langsung menyanyikannya.
"Kayak lo gak aja!" sungut Arkan sambil menjitak kepala Egi.
Tawa pun pecah, menertawakan kisah percintaan Arkan dan Egi yang sama-sama tragisnya akibat kebodohan mereka.
Malamnya,
Egi menemui Elsa ditempat kosnya. Egi duduk di depan pintu kamar Elsa yang terbuka.
Sedangkan Elsa asik dengan novelnya sambil tengkurep di kasur, dalam kamar.
Rasa bosan dirasakan Egi karena terus dicuekin Elsa.
Hampir satu jam lebih Egi bengong. Kehadirannya seolah tak digubris oleh gadis itu.
"Sabar, Egi. Yakinlah sabarmu akan membawa berkah." dalam hati Egi menghibur dirinya sendiri.
"Yank, aku laper. Dari tadi aku gak kamu tawarin makan. Minum juga gak kamu kasih." keluh Egi, pelan.
"Jajan aja di depan. Warungnya buka kok." jawab Elsa santai. Dia tetap asik membaca novelnya.
"Persediaan air kemasan kamu habis ya, Yank?" tanya Egi.
"Hm!"
Egi bangun dari duduknya dan berjalan keluar.
Elsa diam menatap kepergian Egi.
"Maaf Gi, aku belum bisa memaafkanmu." gumamnya, pelan. Elsa pun menutup pintu kamarnya.
Dua puluh menit kemudian,
Brak! Brak! Brak!
"Yank! Buka pintunya." pintu digedor-gedor keras dari luar.
__ADS_1
"Apaan sih, Egi! Mancing emosi aku aja."
Dengan malas Elsa beranjak bangun untuk membuka pintu kamar kosnya.
"Bisa gak sih ketuk pintunya...Egi!!!" Elsa yang awalnya mau mendamprat Egi, seketika menjerit kaget melihat baju dan wajah Egi sudah berlumuran darah.
Cepat-cepat Elsa membantu Egi masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Egi di atas kasurnya.
"Kamu...siapa yang melakukan ini sama kamu, Gi? Perutmu..." Elsa menangis. "Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
"Telpon bang Abby, Yank."
"Iya."
Elsa meraih ponselnya dan langsung menghubungi Abby.
"Iya, Sa. Kenapa?"
"Bang! Cepat kekosan gue. Egi terluka parah."
"Egi kenapa?"
"Gak tau. Tadi dia pergi gak pa-pa, eh pas balik udah babak belur. Perutnya juga kayaknya robek, bang."
"Oke. Gue langsung ke sana. Kamu telpon ambulans."
"Baik, bang."
Elsa lalu menelpon ambulans, setelah itu dia menghampiri Egi. Terlihat Egi mengerang sakit sambil memegang perutnya.
"Tahan ya, Gi, sebentar lagi kita ke rumah sakit." suara Elsa serak, menahan tangis, melihat wajah pucat Egi.
"Jangan tinggalin aku, Yank."
"Aku gak kemana-mana, Gi. Aku akan selalu bersama kamu." Elsa menggenggam tangan Egi.
Tak Lama Abby datang.
Berselang dua menit kemudian, ambulans juga datang.
Abby membantu petugas mengangkut Egi masuk ke ambulans.
"Lo ikut mereka, Sa. Gue nyusul naik motor. Lo telpon om Elmo, juga Alya." kata Abby sebelum Elsa naik ke ambulans.
Elsa mengangguk, mengiyakan.
"Egi kenapa, bang?" Kay datang bersama istri dan mertuanya.
Alya memeluk Elsa yang menangis sesenggukan di bangku ruang tunggu depan IGD.
"Gak tau. Kata Elsa, Egi pergi dari kosnya setelah Elsa cuekin terus. Tak lama dia balik lagi, tapi sudah babak belur dan banyak darah di baju dan wajahnya. Juga perutnya seperti tergores benda tajam."
"Apa separah itu, nak Abby?" tanya Alma, ibu Alya yang juga makciknya Egi.
"Abby juga liatnya sebentar, makcik. Jadi Abby juga gak tau seberapa parah luka Egi. Dokter juga masih di dalam, sedang menangani Egi."
"Gue nyesel, Al. Coba tadi gue gak cuekin Egi, gak bakalan Egi luka kayak gini." ujar Elsa penuh sesal.
"Ini bukan salah lo, Sa."
"Gue masih sayang sama Egi, Al. Tadinya gue mau ngambek lamaan sama dia, tapi kalo kayak gini...gue nyesel beneran, Al." Elsa sesenggukan.
"Udah. Sekarang waktunya lo membayar penyesalan lo. Rawat Egi sampai dia sembuh."
"Gak usah lo suruh gue juga bakal lakuin itu, Al. Gue gak mau kehilangan Egi gara-gara keegoisan gue." janji Elsa.
Alya mengangguk tersenyum.
Tak berselang lama, dokter keluar dari dalam ruangan.
"Keluarga pasien?"
"Iya."
Ramdani dan Alma bergegas menemui dokter.
"Bagaimana keadaan anak kami, dok? Apa lukanya parah?" tanya Ramdani.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Pak. Untung cuma luka luar dan tidak terlalu parah. Luka robek diperutnya juga tidak dalam dan sudah kami jahit. Untuk beberapa hari biarkan istirahat dulu disini. Sebentar lagi anak bapak akan dibawa keruang rawat inap." kata pak dokter.
"Baiklah, dok. Terima kasih."
__ADS_1
Pak dokter mengangguk dan kemudian pamit pergi bersama perawat yang menemaninya.
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah masih Kau beri aku kesempatan untuk bersamanya."