I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Selalu Untukmu


__ADS_3

🎵Mencintai dalam sepi


dan rasa sabar mana lagi


yang harus ku pendam


dalam mengagumi dirimu


Melihatmu genggam tangannya


nyaman di dalam pelukannya


yang mampu membuatku


tersadar...dan sedikit menepi


Kau yang pernah singgah di sini


dan cerita yang dulu


engkau ingatkan kembali


tak mampu aku 'tuk mengenang lagi


biarlah kenangan kita pupus di hati


Tak ada waktu kembali


untuk mengulang lagi


mengenang dirimu di awal dulu


ku tau dirimu dulu


hanya meluangkan waktu


sekedar melepas kisah sedihmu


Mencintai dalam sepi


dan rasa sabar mana lagi


yang harus ku pendam


dalam mengagumi dirimu


Melihatmu genggam tangannya


nyaman di dalam pelukannya


yang mampu membuatku


tersadar... dan sedikit menepi🎶


"Shh! Akhh!" Alya memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.


"Akkhh!!!" Alya mengerang kesakitan.


"Kenapa, sayang? Kepalamu sakit lagi?" tanya Alma khawatir.


Entah sudah berapa kali Alya sering merasakan sakit dikepalanya bila ia mengingat sesuatu.


"Bu... Kay mana?" tanya Alya dengan nada lemah. Sakit dikepalanya membuat tubuhnya terasa lemas.


"Hah?" Alma seakan tuli. "Apa aku tidak salah dengar?"


"Kamu sudah ingat dengan Kay, sayang?" tanya Alma meyakinkan dirinya bahwa ia tak salah dengar.


Alya mengangguk.


"Aku dan Kay jatuh dari motor gara-gara Wulan. Dia juga memukul Kay menggunakan balok hingga tak sadarkan diri. Kay... dimana Kay sekarang, bu? Apa dia baik-baik saja? Apa..."


"Kay baik-baik saja, sayang. Dia sekarang sedang ikut satgas di kampung S. Daerah itu bulan kemarin terjadi bencana banjir bandang." Alma menunjukkan foto Kay yang sedang membersihkan lumpur di rumah korban banjir bandang bersama teman-teman satgasnya.


"Yang harus kamu tau, sayang. Kay sekarang suamimu. Dia menikahimu sebelum berangkat satgas. Dan kamu belum sadarkan diri setelah operasi."


"Jadi... ini cincin pernikahan kami, bu?" tanya Alya. Tangannya membelai cincin yang melingkar dijari manis tangan kanannya.


Alma mengangguk.


"Ini foto-foto waktu kalian menikah di rumah sakit." Alma menunjukkan foto-foto pernikahan Alya dan Kay.


Alya menangis terharu, antara sedih dan bahagia. Alya sedih, mengingat dia telah melukai hati Kay karena lupa dengan sosok Kay dan juga cinta tulus Kay.


Namun, Alya pun merasa bahagia karena dirinya dan Kay sudah menikah. Dan itu berarti dia dan Kay telah bersatu dan takkan pernah terpisahkan lagi sampai akhir hayat nanti.


"Bu, aku ingin ketemu Kay."


Alma menatap anak gadisnya, lekat. Alma bisa melihat rona bahagia dan binar rindu di wajah dan mata Alya.


"Ibu akan bilang Kay kalo kamu mau..."


"Gak usah, bu. Aku tau kampung itu. Aku pernah ke sana. Ada temanku yang tinggal di sana." Alya tampak antusias.


"Tapi kamu jangan pergi sendirian, ajak teman."


"Nanti aku ajak bang Sandy."


Alma diam.


"Bakalan rame nih gara-gara Alya."


Alma jadi gelisah, cemas memikirkan respon Kay bila melihat Alya datang bersama Sandy.


"Kamu...ngajak Sandy mau ngapain, nak? Kamu kan tau Kay gimana sama omnya?" Alma jadi khawatir Kay akan kecewa.


"Gak pa-pa, bu. Kay pasti ngerti kok." kata Alya menenangkan hati Alma.


Alya mencoba menghubungi Sandy.


"Halo, dek?"


"Abang temani aku ke tempat Kay ya?"


Hening. Tidak terdengar jawaban dari Sandy.


"Bang?"


"Abang segera ke sana. Adek tunggu ya?"


"Iya."

__ADS_1


Alya memutuskan pembicaraan.


"Apa Sandy mau temenin kamu, Al?" tanya Alma.


Alya mengangguk.


"Aku mau siap-siap, bu. Sebentar lagi bang Sandy jemput."


Alya mengambil tas kecilnya dan memakai jaketnya.


Lima belas menit kemudian,


"Sudah siap, dek?" tanya Sandy melihat Alya sudah menunggunya di teras depan rumah.


Alya mengangguk dan langsung masuk ke mobil Sandy.


"Abang pamit dulu sama kak Alma, dek."


"Gak perlu. Tadi aku sudah bilang ibu."


Sandy melirik gadis yang duduk disebelahnya.


"Kamu sudah inget Kay, dek?" tanyanya hati-hati.


"Iya, bang."


Alya menatap Sandy.


"Bang, aku sudah bikin Kay sakit hati ya? Aku sudah tidak ingat dia, pasti dia terluka. Aku berdosa besar telah melupakan suamiku, bang." Alya bersandar lemas dipinggiran jok.


"Kay pasti mengerti, dek Kay sangat mencintaimu, dia akan memaafkan kamu." Sandy membelai rambut Alya, menenangkan gadis itu.


"Mudah-mudahan saja seperti itu."


Di kampung S,


"Lo gak ikut, bro?" tanya Ryan ketika melihat Kay masih berbaring malas dikasurnya sambil menatap foto Alya di ponselnya.


"Kemana?" Kay balik tanya. Dilihatnya Ryan sudah dandan keren dengan kemeja dan rambut yang sudah tersisir rapi.


"Lah...nih bocah, tengil amat. Malam ini kan ada acara perpisahan kita dengan penduduk desa. Lo lupa?"


Kay nyengir sambil mengangguk.


"Lo ikut gak?"


"Tunggu ya, gue mandi dulu." Kay bergegas mandi.


Sepuluh menit kemudian, Kay pun siap. Mereka segera berangkat menuju balai desa, tempat acara dilakukan.


Kay ikut duduk di sebelah Ryan tanpa menoleh kanan-kiri.


Kay tak memperdulikan beberapa mata indah tengah menatapnya penuh kekaguman.


"Boleh saya duduk di sini?" sebuah suara halus nan merdu bertanya pada Kay.


"Silahkan."


Senyum sumringah terukir di wajah cantik itu.


"Akhirnya...bisa juga aku dekat dengan si tampan ini." batin si cantik.


"Eh, Aisyah? Sendirian aja?" sapa Ryan setelah melihat sosok yang duduk di sebelah Kay.


Matanya melirik Kay yang terus fokus menatap ke pentas.


"Kenapa gak bilang? Kan abang bisa jemput." sahut Ryan.


"Maunya sih yang di sebelah aku yang jemput, bang, tapi kayaknya dia gak tertarik sama aku." ujar Aisyah jujur.


Ryan menghela napas berat.


"Kayaknya status jomblo gue bakal berlanjut nih." Ryan mengusap wajahnya, lesu.


"Bro, gue pulang duluan ya. Ngantuk." Kay berdiri, tapi Ryan menarik tangannya agar Kay duduk kembali.


"Acaranya kan belum abis, bro."


"Gue males. Ngantuk. Duluan ya?" tanpa menunggu persetujuan Ryan, Kay pun segera pergi dari sana.


"Permisi." ucap Kay saat melewati Aisyah.


Tiba-tiba Aisyah memegang tangan Kay, membuat pria itu menoleh dan menatap gadis itu dengan sorot mata tajam.


"Aku mau ikut."


Kay melepaskan tangan gadis itu dari tangannya.


"Aku mau pulang."


Kay meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi. Kay tidak menyadari kalau Aisyah mengikutinya.


"Bang."


Kay menoleh ketika ada tangan yang memeluknya dari belakang.


Kay yang kaget segera membuka tangan yang memeluknya.


"Kamu...ngapain?" Kay menatap kesal gadis yang sudah berani menyentuhnya.


"Aku ingin bisa dekat denganmu, bang. Aku mencintaimu." Aisyah kembali memeluk Kay.


"Aku..."


"Ngil?"


Kay menoleh.


Matanya terbelalak kaget melihat kehadiran Alya yang tengah menatapnya nanar.


Aisyah ikut menoleh ke arah Alya. Pelukannya pada Kay makin dipererat.


Kay berusaha mendorong tubuh Aisyah yang menempel ketat padanya.


"Beib, ini gak seperti yang kamu kira. Aku gak..." Kay berusaha memberi Alya penjelasan sambil terus menahan tubuh Aisyah agar menjauh.


Kay mendorong Aisyah agak keras, hingga gadis itu terdorong, mundur.


"Pergi. Kamu membuat aku susah." bentak Kay kasar.


Aisyah tersedu.

__ADS_1


"Aku kan cuma ingin..."


"Kita tidak dekat, dan tak akan pernah dekat. Tolong kamu menjauh dariku." Kay mengusir Aisyah.


Alya yang sempat shock melihat Kay sedang berpelukan dengan seorang wanita cantik, segera sadar dengan keadaannya.


"Ayok bang kita pulang. Kita sudah salah jauh-jauh datang ke sini."


Alya menarik tangan Sandy.


"Tunggu, beib." Kay mencekal tangan Alya yang hendak pergi.


"Dengerin aku dulu..."


"Gak ada yang perlu di dengar. Maaf kalo kedatanganku mengganggu kamu dan pacar..."


"Dia bukan pacarku, beib."


"Yok bang, pulang."


Alya kembali menarik tangan Sandy yang sedari tadi diam menyaksikan kesalahpahaman bak cerita telenovela, didepannya.


"Biarkan Kay menjelaskannya, dek. Itu kewajibannya biar tidak terjadi kesalah pahaman lagi diantara kalian." Sandy mencoba memberi solusi.


Alya diam.


Kay melangkah mendekati istrinya, meraih tangan Alya dan menggenggamnya, lembut.


Alya hanya diam, membiarkan Kay mengenggam tangannya.


Mata Alya menatap tajam gadis yang tadi memeluk suaminya.


"Bang..."


"Kamu diam! Jangan membuat istriku tambah marah padaku!" bentak Kay.


Tangannya menunjuk tanpa menoleh pada Aisyah yang masih saja mencari cara untuk mendekati Kay.


Aisyah terperangah mendengar ucapan Kay.


"Istri? Berarti dia sudah punya istri?"


Mata Aisyah tertuju pada cincin emas putih polos di jari manis Kay dan juga Alya.


"Maaf! Aku tidak tau kalau kamu sudah punya istri. Ku kira cincin ditanganmu hanya untuk menjauhi para gadis yang mencoba mendekatimu."


Aisyah tertunduk malu dengan sikapnya yang terlalu memaksakan dirinya untuk memiliki Kay.


"Sekarang kamu sudah tau. Ini istriku. Dia hidup dan matiku. Jadi, tolong jangan ganggu kami." sahut Kay, ketus.


Aisyah mendekati Alya.


"Maafkan aku. Kalau saja aku tau dari awal aku tidak akan melakukan kebodohan ini." ucap Aisyah, tulus.


Alya tersenyum.


"Tidak apa-apa. Dia memang selalu bikin para gadis penasaran dengan sikapnya. Tapi, dia gak pernah menggoda gadis-gadis di sini kan?"


Alya menatap Kay, tajam. Kay meringis.


"Gak pernah. Malahan dia cuek banget. Asal tau saja, namanya saja kami gak tau. Dia tidak pernah memperkenalkan diri. Teman-temannya juga manggil dia bro, makanya saya panggil dia abang. Gak tau sih namanya siapa." jawab Aisyah jujur.


"Kenalanlah dulu, dek. Kan enak kalo udah tau namanya?" goda Sandy sambil menyikut lengan Kay.


"Ngapain? Gak penting." sahut Kay, datar.


Aisyah tersenyum miris.


"Beruntung banget istrinya, punya suami tampan yang cinta mati sama istrinya, yang bahkan tidak mau kenalan apalagi dekat dengan wanita lain. Ya, Allah, mau dong punya suami yang kayak gini." jerit batin Aisyah, meronta, meminta penuh harap pada Sang Penguasa Alam.


(Bungkus satu juga untuk author Ya Allah. Aamiin! 😘)


"Biar aku yang kenalkan. Namaku Alya, dan ini suamiku, Kay." Alya memperkenalkan dirinya sambil memeluk lengan Kay, mesra.


Kay tersenyum dengan perlakuan Alya padanya. Ia pun memeluk erat istri tercintanya dan mengecup lembut pucuk kepala Alya.


"Aku Aisyah." Aisyah menyalami Alya.


"Kenalkan, namaku Sandy. Aku omnya bocah songong...tuh." Sandy menunjuk Kay dengan matanya.


Kay melengos cuek.


"Bodo amat, om Sandy mau ngapain. Yang penting Alya udah balik sama gue."


Kay terus mendekap Alya erat, seolah takut Alya akan pergi meninggalkannya lagi.


🎵 Telah ku mencoba


segala yang ada 'tuk memilikimu


telah habis cara ungkapkan semua


isi di hatiku


Telah sekian lama


kau tak pernah bisa mengerti diriku


begitu beratnya dirimu mencoba


'tuk mencintaiku


Kau akan selalu di hati ini


'kan ku simpan rasa cintaku ini


biarlah selalu seperti ini


biar rindu ini s'lalu untukmu


Telah habis cara ungkapkan semua


isi di hatiku


telah sekian lama


kau tak pernah bisa mengerti diriku


Kau akan selalu di hati ini


'kan ku simpan rasa cintaku ini

__ADS_1


biarlah selalu seperti ini


biar rindu ini s'lalu untukmu🎶


__ADS_2