
Kay menghampiri Alya yang bersandar lesu di sofa sambil menonton film kartun favoritnya.
"Jalan-jalan yuk, beib!" ajak Kay. "Hampir dua minggu di sini kamu belum pernah jalan-jalan kan?" tanya Kay.
"Males!" jawab Alya. Matanya fokus ke tv.
"Gak bosen apa beib di rumah terus, gak ada kegiatan."
"Bosen sih..."
"Makanya...ikut aku yuk!" Kay menarik tangan Alya, mengajaknya keluar.
"Gue ganti baju dulu deh, Ngil." kata Alya.
"Gak usah, beib. Gini juga udah cantik kok." Kay terus menarik tangan Alya, menuju tempat motornya diparkir.
Alya mencubit lengan Kay dengan keras. "Gombalan lo gak mempan di gue." sungutnya bete.
"Ishh! Sakit, beib. Dibilang cantik kok marah? Aneh!" Kay mengusap-usap lengannya yang pedas akibat kebilan maut Alya.
"Gue sadar gue tuh gak cantik, bongil!" Alya menoel pelan kepala Kay. "Udah ah, kapan jalannya kalo ngobrol terus?" sergah Alya.
"Ya udah! Yuk kita go!"
Kay dan Alya pun melaju diatas motor KLX milik Kay. Mereka keliling kota T, menikmati keindahan kota terasi itu dan juga pantainya.
"Turun yuk, beib. Kita nyantai di sini aja ya?" ajak Kay setelah mereka tiba di pantai paling indah di kota T.
Alya turun dari motor di ikuti Kay. Mereka berdua menyusuri pantai dengan bertelanjang kaki setelah lebih dulu melepaskan alas kaki yang mereka kenakan.
"Rumah lo deket pantai gak, beib?" tanya Kay ingin tau.
"Gak sih! Tapi pantai-pantai di sana gak kalah bagus dengan pantai di sini."
"Oh ya? Lain kali, mau dong ke sana?"
"Boleh! Ntar kalo ke sana gue gantian ajak lo keliling kota gue." sambut Alya antusias. Kay tersenyum senang.
Setelah puas berjalan di pasir pantai, Kay dan Alya duduk di sebuah pohon rindang sambil menikmati minuman dingin yang dibeli di warung yang ada dekat pantai.
Alya mengeluarkan ponselnya dari sling bag yang dibawanya. Setelah memakaikan earphone dan mulai memainkan lagu diponselnya,
"Beib..." panggil Kay. Alya menoleh.
"Mau..." Kay menunjuk earphone ditelinga Alya. Kay pun sumringah ketika Alya mengabulkan permintaannya. Berdua mereka menikmati lagu yang mengalun merdu dari ponsel Alya.
Tanpo welas kowe lungo biyen kae
ra ono mesakne aku sitik wae
ngaboti tresno anyarmu
lalu kau tinggalkan aku
tersakiti sendiri dimalam itu
Kowe lungo pas aku sayang-sayange
tanpo pamit kowe ngadoh ngono wae
aku ra ngerti salahku
dan kau campakkan diriku
__ADS_1
bersanding dengan kekasih barumu
Abot tak trimo kanti ikhlas legowo
sing tak arep kowe ra disiyo-siyo
ben cukup mung aku korban janji manismu
udan bledek kang dadi saksiku
'Korban Janji' Via Vallen mengalun lancar dari bibir mungil Alya. Dilanjutkan dengan lagu 'Hilang' ost, Cinderella.
Matanya terpejam, bersandar santai di bangku yang memang disediakan di pantai tersebut.
Hilang semua janji
semua mimpi-mimpi indah
hancur hati ini melihat semua ini
Lenyap, telah lenyap kebahagiaan dihati
ku hanya bisa menangisi semua ini
hancur hati ini melihat kau telah pergi
Langit menjadi gelap berkelabu
menyelimuti hatiku
mengubah seluruh hidupku
Mengapa semua jadi begini
di antara kita berdua
Ku akan menanti sebuah keajaiban
yang membuat kita bisa bersama kembali.
Hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat Kay dan Alya tertidur tanpa sadar. Kay tertidur dengan tangan memeluk pinggul Alya yang menyandarkan kepalanya di bahu cowok itu hingga kepala mereka saling berdempetan.
"Ekhemm!"
"Dek! Bangun, dek!"
Sebuah tepukan di lengan Kay membangunkan cowok itu dari tidurnya.
"Hoaem...eh!" Kay menguap tertahan saat sadar dimana dia sekarang. Alya masih tertidur disebelahnya.
"Beib...bangun!" Kay menepuk-tepuk pelan pipi Alya. Sesaat Alya menggeliat, dan...
"Astaghfirullah!" Alya terperanjat, bangun dan terduduk.
"Sori, Ngil. Gue ketiduran." Alya nyengir.
"Kalian berdua gak tau tempat ya? Tidur ditempat umum seperti ini. Lo juga dek, bukannya pulang ke rumah malah sibuk pacaran." cowok yang tadi membangunkan Kay ternyata abangnya.
"Gue gak..."
"Maaf ya abangnya Bongil? Gue bukan pacarnya dia, gue..."
"Ini Alya sepupunya Egi, bang. Dia dari kota S. Tadi gue ajak dia keliling kota dan nyantai sebentar di sini, eh gak taunya malah ketiduran." jelas Kay.
__ADS_1
"Ooh!" abang Kay mengangguk, paham. "Maaf, kalo gitu. Kenalkan nama gue Abby." cowok itu mengulurkan tangannya dan di sambut Alya dingin.
"Alya." sahut Alya singkat. Wajahnya tampak masih ngantuk berat. Abby tersenyum. Wajah tampannya membuat Alya sedetik terlena sesaat.
"Udah salamannya. Keriput ntar tangannya kelamaan salaman." Kay menepis tangan Abby, keras.
"Aduh! Kay, sakit tau!" Abby menoel kepala Kay, kesal. Kay melengos, cuek.
"Pulang yuk, beib!" Kay menarik tangan Alya, berjalan kemotornya. Abby mengikuti mereka dari belakang. Kay menoleh ke Abby.
"Lo mau kemana, bang?" tanya Kay pada Abby yang mengekori mereka.
"Mau kerumah Egi juga." jawab Abby, santai.
"Ngapain?" tanya Kay lagi.
"Lagi pengen ketemu Egi aja. Udah lama kan gue gak ketemu dia setelah gue kuliah." sambung Abby lagi. Kay menarik napas kesal.
"Gak usah modus, bang! Gue tau lo mau ke rumah Egi karena ada Alya kan?" tuduh Kay langsung. Abby nyengir.
"Lo tau aja, dek. Pinter banget lo." Abby mengacak rambut Kay, dan langsung ditepis cowok itu.
"Ya taulah! Lo tuh pantang liat cewek bening dikit, pasti langsung lo pepet." sungut Kay. Abby nyengir lagi.
Kay memang benar. Abby, seorang playboy yang selalu mengandalkan ketampanannya dalam mendekati seorang cewek, kali ini tampak berhasrat mendekati Alya.
"Udah, Ngil. Pulang, yuk!" Alya menarik tangan Kay, mengajaknya pulang. Akhirnya Kay dan Alya pulang di ikuti Abby.
Alya memeluk tubuh Kay erat dan menyandarkan kepalanya dipunggung Kay.
"Beib...kamu tidur ya?" tanya Kay sambil melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Gak! Gue cuma masih ngantuk aja." sahut Alya, pelan.
"Kalo gitu gue ngebut ya biar kita cepet nyampe rumah dan kamu bisa tidur lagi." kata Kay.
"Terserah!"
"Peluk yang kenceng, beib!"
"He-eh!"
Lima menit kemudian, mereka pun sampai dirumah Egi. Tak Lama, Abby juga datang.
"Kenapa lo ngebut tadi, dek?" tanya Abby pada Kay.
"Alya masih ngantuk." ujar Kay sambil menoleh Alya yang berjalan masuk kerumah dengan mata setengah terpejam. Cepat-cepat Kay menuntun Alya masuk.
"Lo kayaknya deket banget sama Alya, dek. Lo naksir ya sama Alya?" tebak Abby yang dari tadi memperhatikan sikap Kay yang begitu lembut memperlakukan Alya.
Kay yang baru duduk di sofa spontan melotot pada Abby.
"Asal nyeplak aja lo, bang." Kay menatap Abby tajam. "Gue bukan lo yah, yang gampang mupeng kalo liat cewek cakep." semprot Kay.
Abby tersenyum geli. "Tapi baru kali ini gue liat lo deket ama cewek, dek. Sama Elsa aja lo gak pernah perhatian kayak gini." kata Abby membuat Kay terdiam.
"Entahlah, bang. Kok gue rasanya jadi gak tega kalo liat mukanya Alya, meskipun...yah, kadang jutek banget ama gue. Gue ngerasa Alya seperti sedang memendam beban berat." curhat Kay.
"Lo aja baper kali." goda Abby.
"Gak. Gue yakin Alya kemari karena lari dari masalahnya." jawab Kay, serius. Abby menatap adiknya, lekat.
"Kayaknya beneran nih adek gue lagi jatuh cinta."
__ADS_1