I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Kesiapan Alya


__ADS_3

Sandy tersenyum hambar melihat Kay datang dengan tangan menggenggam tangan Alya.


"Maaf om, telat. Tadi nunggu Alya nyari buku dulu."


Kay duduk menghadap Sandy setelah mempersilahkan Alya duduk lebih dulu.


"Udah lama nunggu, bang?" tanya Alya berbasa basi.


"Gak. Abang juga baru datang kok." Sandy tersenyum manis pada Alya.


"Makan dulu ya, dek. Abang udah pesenin tadi makanan kesukaan kamu." ajak Sandy sambil membantu pelayan kafe yang datang mengantar pesanan ke meja mereka.


"Makasih, bang!" ucap Alya agak grogi karna Sandy masih saja memperlakukannya dengan manis. Tak tampak sedikitpun dendam di wajah tampannya.


Sedangkan Kay, jangan ditanya lagi bagaimana masam wajah gantengnya karena sengaja dicuekin Sandy.


"Kamu gak makan, dek?" tanya Sandy tanpa menoleh kearah Kay.


"Gak usah. Aku udah kenyang diphp'in." sahut Kay jutek.


Alya sukses tersedak dan dengan tenang Sandy menyodorkan minumannya pada Alya. Sedangkan Kay, masih dengan wajah masam menatap Sandy, tangan kirinya mengusap-usap tengkuk Alya.


Selesai makan,


"Apa kamu sudah pikirkan semuanya, dek?" tanya Sandy pada Alya.


"Udah."


"Apa kamu bisa menerima Kay yang pastinya gak akan setia sama kamu sepenuhnya?"


"Hah?!"


Bukan Alya yang kaget, tapi Kay.


"Wah! Om gak sportif nih!" Kay geleng-geleng, protes. Sandy mengernyit.


"Aku tulus cinta sama Alya, om. Aku selalu setia sama dia. Aku gak pernah dekat dengan cewek lain apalagi sampai pacaran..."


"Kamu menduakan Alya, dek. Kamu gak bisa memilih antara Alya dan negara." sergah Sandy, cepat, membuat Kay menepuk jidatnya, kesal.


"Aku udah bicarakan itu sama Alya, om."


"Terus?"


Kay menoleh pada Alya.


"Kamu jelasin sama om deh, beib. Males aku sama orang bucin, bikin tensi naek." Kay ngedumel, kesal.


Sandy senyum dikulum.


"Sendirinya yang bucin, gak rela diputusin sampai nekad rebut tunangan orang, kok dia yang marah. Gak ngaca ya?" ledek Sandy.


"Haishh! Aku kan cuma mau mempertahankan milikku, om." Kay membela diri.


"Nekad itu namanya."


"Sah-sah aja kan? Gak ada undang-undang yang melarang." kelit Kay.


Sandy tertawa.


"Paling bisa kalo ngeles." Sandy mengacak kepala Kay.


Alya melongo.


"Kalian ngomong apa sih?"


Sandy dan Kay saling pandang, lalu sama-sama menepuk jidatnya.


"Kamu masih laper, beib?" tanya Kay curiga.


Sandy tertawa geli.


"Bisa-bisanya kamu gak fokus gitu, dek. Kita lagi serius loh." Sandy geleng-geleng kepala, geli, melihat wajah polos Alya yang nampak begitu imut.


Alya nyengir. Cengengesan dia.

__ADS_1


Bikin Kay dan Sandy sama-sama menggigit bibir, gemas, menahan diri untuk tidak menerkam gadis mungil itu.


"Kalo kamu gak mau aku cium di sini mending fokus deh, beib." bisik Kay gemas, ditelinga Alya yang spontan menahan napas dengan mata melotot kaget.


Sandy menggeleng geli melihat pasangan 'aneh' yang ada didepannya.


"Kalian ini sama sekali gak bisa bersikap dewasa. Aku berasa lagi natarin anak SD." Sandy menepuk jidatnya pelan.


"Gimana, dek? Apa kamu siap kalo suatu hari nanti Kay pergi ninggalin kamu untuk tugas negara?" tanya Sandy, kembali ke inti permasalahan.


"Kalo demi negara, aku siap, bang. Gak pa-pa deh jadi yang kedua kalo demi negara." jawab Alya, jujur.


Kay tersenyum bangga, mendengarnya.


"Siap juga menerima konsekuensinya?" tanya Sandy lagi.


"Maksudnya?"


"Tugas negara itu bukan jalan-jalan loh, dek. Kamu tau kan maksud abang?"


Alya mengangguk.


"Inshaallah, siap!"


Sandy tersenyum. Kay tertawa girang.


"Udah siap juga jadi ibu persit, beib?" tanya Kay.


Alya mengerutkan dahinya.


"Pesuit?"


Sandy menepuk jidatnya lagi.


Dan Kay, dengan ganas diraihnya kepala Alya, memeluknya dan langsung dijitaknya, gemas.


"Iya. Kamu pesuit yang bikin gemas." sungutnya kesal.


"Aduh! Ampun, Ngil. Sakit bego!" Alya gantian menjitak kepala Kay, keras. Lalu Alya menoleh pada Sandy.


"Loh? Kenapa, beib?" Kay tersentak kaget.


"Aku gak siap benjol kamu jitakin terus." sungut Alya cepat seraya melengos kesal.


"Maaf deh, beib. Habis kamu bikin gemas tau gak?!"


"Bodo amat! Pokoknya aku gak mau."


"Beib?" Kay memohon sampai berlutut.


Sandy membuang pandangannya ke arah lain.


"Lama-lama dekat mereka bisa-bisa aku ikutan gila."


Sandy berusaha menahan tawanya. Perutnya dari tadi tergelitik akibat ulah pasangan 'sedeng' didepannya.


"Ternyata memang Alya yang bisa merubah kamu jadi ceria seperti ini, dek. Maafin om yang telah memisahkan kalian."


"Sudah berantemnya?"


Sandy menengahi adu ngambek ala Alya dan Kay. Keduanya pun langsung diam.


Sandy menggenggam tangan Kay dan Alya.


"Dengar ya adek abang yang manis dan ponakan om yang ganteng, aku sekarang serahkan semuanya sama kalian berdua."


"Apa ini berarti om merestui kami?"


Kay masih juga belum yakin.


"Aku minta maaf karena sudah memisahkan kalian, dek." ucap Sandy, tulus.


Ia merasa bersalah telah memisahkan dua orang yang saling mencinta.


"Ini bukan salah abang." sanggah Alya cepat, diangguki Kay.

__ADS_1


Sandy tersenyum.


"Iya. Anggap saja aku menjaga jodohmu, dek." Sandy tersenyum pada keponakan kesayangannya.


Kay mengangguk, dan balas tersenyum.


"Makasih ya, om. Udah jaga jodoh aku." ujar Kay senang.


"Untung aja ikatan batin kalian kuat. Dan kamu dek..." Sandy menatap Alya tajam membuat bulu kuduk gadis itu merinding, seram.


"Bisa-bisanya kamu gak jatuh cinta sama abang. Apa abang kurang ganteng?" tanyanya dengan mimik kesal.


Alya meringis, malu. "Maaf, bang!"


"Kan udah aku bilang, om. Di hati Alya cuma ada nama Kay Arbitama, gak ada yang lain." sahut Kay sombong.


"Kepedean lo!" Alya menoel kepala Kay.


"Haishh, beib! Gak takut kena tulah noel-noel kepala calon habib kamu?" sungut Kay, kesal.


"Ishh! Anak kecil sok gede, tuaan juga gue." dengus Alya.


"Mulai deh!" Kay menatap Alya kesal.


"Dek, mending kamu sama abang aja ya? Kay kan belum cukup umur?" Sandy malah memanasi keadaan.


"Ayok deh, bang!" sambut Alya sambil meraih tangan Sandy.


Kay merengut masam.


"Om!" panggilnya.


Sandy menoleh.


"Berantem, yuk?!"


Hahhahhaaa!!!


Sandy pun ngakak, dan Alya tertawa geli.


"Dasar bocah tengil!"


🎵Biarlah aku pergi


jangan lagi kau tangisi


semoga pilihanmu


yang terbaik untukmu


Memang berat bagiku


berpisah denganmu


tapi harus kurelakan


cinta tak bisa dipaksakan


Mungkin kau bukan cinta sejatiku


mungkin kau bukan belahan jiwaku


yang diturunkan Tuhan 'tuk menjadi pendamping hidupku


Mungkin kau bukan cinta sejatiku


mungkin kau bukan belahan jiwaku


yang diturunkan Tuhan 'tuk menjadi pendamping hidupku


*sudahlah jangan menangis


sudahlah jangan bersedih


mungkin benar apa katamu

__ADS_1


ku bukan cinta sejatimu*


__ADS_2