I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Lara Hati


__ADS_3

Kay pov


Aku sibuk membereskan pakaian dan keperluan untuk kubawa nanti. Mama yang sedari tadi duduk memperhatikanku hanya menatap sedih anak bungsunya.


"Dek! Beneran kamu mau ninggalin mama?"


Entah sudah ke berapa kalinya mama Karin menanyakan hal itu padaku. Hatinya sedih karna harus terpisah jauh dariku, karna memang kami belum pernah berpisah apalagi harus dalam waktu yang lama.


Ku peluk mama tersayangku, lembut.


"Mamaku sayang, aku kan pergi untuk mengejar cita-citaku. Mama harusnya do'ain aku biar sukses menggapai cita-cita." pinta ku pada mama.


"Kalo do'a pasti selalu mama pinta di setiap akhir sujud mama do'a terbaik untuk abang dan adek, juga papa."


"Tapi mama jangan sedih gitu. Aku jadi kepikiran nih." ujarku lirih, pura-pura sedih.


"Kamu sama abang belum pernah pisah lama sama mama, dek, makanya mama sedih. Mama sedih mikirin kamu nanti makannya gimana? Siapa nanti yang merhati'in kamu di sana? Kan mama gak bisa hubungin kamu setiap hari, dek."


Ku coba untuk tersenyum. Mama memang benar. Kami nanti pastinya tidak bisa tiap hari saling menghubungi.


"Mama percaya aku bisa mandiri kan? Aku kan cowok, ma. Aku harus kuat biar aku berhasil jadi seseorang yang berguna nantinya."


"Mama percaya adek pasti bisa berhasil. Mama mau adek bahagia. Mama akan selalu berdoa untuk kebaikan adek dan pasti selalu mendukung adek."


"Makasih ya, ma!" kupeluk lagi erat mamaku tercinta seakan berat untukku melepaskan beliau yang selama ini selalu setia, sayang dan cinta padaku. Beliaulah cinta pertamaku.

__ADS_1


"Maaf, beib! Bahkan kau pun kujadikan yang kedua setelah mama." gurauku untuk hatiku.


Alya pov


Aku gak tau apa yang terjadi dengan hatiku. Berusaha setengah mati aku melupakan Kay, dan mencoba menata hatiku. Tapi, ternyata kenyataan memang tak sesuai dengan ekspektasi. Tidak mudah bagiku untuk melupakan Kay. Jiwanya seakan sudah mendarah daging dijiwaku.(maaf lebay dikit🤭). Bayangannya seakan terus menari-nari di pelupuk mataku.


"Aku rindu kamu, Ngil."


Ku menangis saat teringat ucapan Abby tadi di kampus.


"Kay ke Magelang, Al. Dia mau jadi polisi katanya."


Ku tatap Abby, lekat.


"Pasti Kay begini gara-gara gue kan, By? Kay marah sama gue makanya dia sengaja memilih menjauh dari kita. Maafin gue ya, By." aku terduduk lesu di kursi taman.


"Semoga Kay sukses dan sehat selalu." ucapku, mantap.


"Lo gak mau ngomong sama adek gue, Al?" tanya Abby sambil menatapku, dalam.


Aku tersenyum dan menggeleng.


"Gak, By. Gue gak mau menambah beban pikiran Kay lagi. Biar dia tenang menjalani pendidikannya." ujarku, lirih.


Abby mengangguk mengerti. Lalu,

__ADS_1


"Lo ama Om Sandy gimana, Al?" tanya Abby tentang kelanjutan hubunganku dengan bang Sandy, omnya.


"Kami baik-baik aja. Lagi menjalani semuanya pelan-pelan."


"Gak ada yang aneh-aneh kan antara lo dan Arkan?" lagi-lagi Abby menatapku curiga.


Ku hela napas berat.


"Gak percayaan amat sih nih bocah."


"Maaf ya calon ponakan yang budek plus bikin gedek. Udah berapa kali gue bilang kalo gue dan Arkan cuma temenan aja. Gak ada pa-pa, okey?!" ku yakinkan Abby sekali lagi.


"Beneran cuma temen?" Abby menatapku penuh curiga. Aku pun mengangguk mantap.


"Bukan ttm_an kan?" masih juga Abby gak yakin padaku.


"Lo masih gak percaya, By?" aku mendelik kesal.


"Bukan gitu, Al. Gue cuma..."


"Bodo amat!!!" teriakku kesal.


"Hahahahaaa!!!" tawa Abby sukses bikinku tambah kesal.


"Bukannya ngehibur gue gara-gara ditinggal adek lo, By, malah lo bully gue habis-habisan. Dasar Abby lucknut!!!" sumpah serapah ku persembahkan untuk calon ponakan, meski cuma dalam hati.

__ADS_1


"Sabar! Sabar!"


Ku hela napas berat sambil mengelus dada.


__ADS_2