
Kay dan Alya tengah menikmati kebersamaan mereka di sebuah pantai sambil duduk di atas motor. Alya memeluk mesra Kay dengan melingkarkan tangannya diperut rata milik Kay. Kepalanya bersandar manja di bahu pria gantengnya.
"Ngil, apa selamanya kita bisa kayak gini?"
"Iyalah, beib. Gak bakalan aku tinggalin kamu sendirian, kecuali kalo dapet tugas negara."
"Kamu serius gak pacaran sama aku, Ngil?"
"Serius dong. Kalo gak, mana mau aku nebelin mukaku di depan Om, papa dan ayah kamu." jawab Kay jujur.
"Kamu...ada niat gak pengen...nikah sama aku?" tanya Alya pelan.
Kay turun dari motornya dan berdiri dihadapan Alya yang masih anteng di atas motor. Senyum manis terukir diwajah tampannya. Diraihnya tangan gadis itu dan dikecupnya lembut.
"Aku cinta kamu, beib. Aku sayang kamu. Dan aku akan menikahimu kapan pun kamu mau." Kay memeluk mesra gadisnya.
Tetes air mata bergulir di pipi Alya, terharu mendengar ucapan kekasihnya.
"Aku senang mendengarnya, Ngil." Alya membenamkan wajahnya di dada Kay. "Tapi aku takut."
"Takut kenapa, beib?" Kay menatap lekat wajah gadisnya. Diusapnya lembut pipi gadis itu, membersihkan sisa airmatanya.
"Aku takut kamu ninggalin aku." lirih suara Alya, namun seakan tajam menusuk jantung Kay. Dipeluknya lagi gadis kesayangannya.
"Gak akan pernah, beib. Kamu satu-satunya yang kucinta. Perjuanganku gak mudah buat dapetin kamu, beib. Jadi, aku akan terus pertahanin kamu seumur hidup aku kecuali..."
"Kecuali apa, Ngil?"
"Kecuali...kamu yang minta aku untuk pergi dari hidup kamu. Meskipun aku berharap itu gak akan pernah terjadi." sahut Kay pelan.
Alya cepat-cepat menggeleng.
"Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Ngil." ucapnya jujur.
"Aku juga, beib. Lebih baik aku mati aja daripada harus kehilangan kamu lagi."
Kay ******* bibir Alya, lembut. Untung suasana pantai sepi, membuat keduanya leluasa mengekspresikan suasana hatinya masing-masing dengan saling balas ******* dan menghisap serta memeluk erat tubuh terkasihnya.
"Beib, kamu serius dengan yang kamu bilang tadi?" tanya Kay setelah mengakhiri ciumannya.
"Yang mana?"
"Yang kamu bilang pengen aku nikah sama kamu. Emang kamu udah siap aku lamar?" mata Kay mengerling nakal, membuat Alya tersipu malu.
"Emang...kamu udah siap lamar aku?" Alya balik tanya.
__ADS_1
"Kok balik nanya sih? Mau ngetes aku ya?" Kay menjawil gemas hidung minimalis Alya.
"Aku serius ya?!" sergah Alya.
"Kalo kamu siap, malam ini juga aku akan lamar kamu dan besoknya kita nikah."
"Secepat itu?"
Kay mengangguk.
"Kalo mau cepat, besok kita nikah siri dulu."
"Ogah! Aku maunya sah secara agama dan negara." tolak Alya, cepat.
"Kalo mau seperti itu, perlu waktu, beib. Harus ada pengajuan nikah dulu. Tapi secepatnya akan aku urus."
"Prosesnya rumit ya?"
"Lumayan. Nanti kita urus sama-sama."
"Aku ikut juga?"
"Ya iyalah, beib. Nanti setelah pengajuan nikah akan ada Rikes."
"Sejenis tes kesehatan, salah satunya tes keperawanan."
"Idiihh. Ada ya tes kayak gitu?"
"Ya ada lah, beib. Nanti juga kamu tau." jelas Kay.
"Kamu takut ya, beib?" tanya Kay, melihat Alya terdiam.
"Sakit gak ditesnya nanti, Ngil?" tanya Alya sedikit ngeri.
"Mana aku tau, beib. Aku kan belum pernah nikah. Lagian yang perawan kan kamu, bukan aku." Kay menyipitkan matanya, menatap Alya sedikit curiga.
"Kamu...masih perawan kan, beib?" tanya Kay, hati-hati.
Pletakk!
Alya menjitak keras kepala Kay dengan penuh emosi sehingga cowok itu mengaduh kesakitan.
"Cowok yang deket sama aku cuma kamu ya yang mesum, jadi jangan nuduh aku macem-macem." Alya mendelik sewot dengan wajah sangar.
Kay nyengir.
__ADS_1
"Maaf, beib. Aku gak bermaksud menyinggung kamu, aku cuma..."
"Kamu mau mengetes aku masih perawan atau gak?"
"Emang boleh, beib...aduh!"
"Dasar mesum!" sungut Alya sebal.
Kay nyengir sambil mengusap-usap kepalanya yang benjol terkena jitakan super keras dari Alya.
"Kamu percaya gak sama aku?" Alya menatap Kay, kesal. Dia tersinggung Kay telah meragukannya.
Kay memeluk Alya, menyandar kan kepala gadis itu didadanya yang bidang.
"Aku percaya sama kamu, beib. Kamu pasti bisa menjaga diri." Kay mencium sekilas bibir gadis tercintanya.
"Jadi...kapan kamu mau melamar aku?" tanya Alya lagi.
"Nanti malam aku telpon mama, beib. Secepatnya aku akan melamar kamu." janji Kay.
"Tapi...ayah belum setuju, Ngil." Alya mengingatkan Kay pada calon ayah mertuanya yang keras kepala.
"Udah, soal ayah jangan dipikirin. Itu urusan papa, kita terima beres. Lagipula gak mungkin ayah bakal menolakku, kita kan saling cinta."ujar Kay, manis.
"Tapi kan kamu bilang akan menunggu restu ayah dulu?" Alya mengingatkan.
"Aku yakin waktu itu ayah udah setuju kok sejak tau aku anaknya papa Bian, cuma ayah gengsi aja ngomongnya." kata Kay.
Alya tersenyum bahagia.
Kay ******* bibir Alya kembali. Bibir yang membuatnya candu dan ingin terus mengecap manisnya kenikmatan bibir itu.
Alya, gadis yang berwajah pas-pasan, berbody minimalis dan mempunyai tinggi badan semeter kotor, mampu membuat seorang Kay Arbitama, si freezer ganteng nan cuek jadi bucin tingkat dewa. Benar-benar di luar nalar.π€π€¨π
author : Allah itu Maha Adil. Karena cinta sejati itu saling melengkapi.
pemirsa : masak sih, thor?
author : masak tuh di dapur.
pemirsa : π€¦ββ
author : kenapa tuh jidatnya? π
pemirsa : Bodo amat!ππ€Έββπ€Έββπ€Έββ
__ADS_1