
"Makan dulu ,Gi. Aku suapin." dengan telaten Elsa menyuapi Egi.
Selama Egi di rumah sakit, Elsa terus berada disisinya.
Egi tersenyum.
"Yank! Apa aku harus babak belur dulu baru kamu mau maafin aku?" tanya Egi.
Sesekali wajah tampannya menyeringai menahan sakit bekas jahitan diperutnya bila ia menggerakkan tubuhnya.
"Maafin aku, Gi." Elsa tertunduk sedih.
Egi meraih tangan Elsa dan menggenggamnya.
"Aku yang minta maaf, Yank. Kamu mau maafin aku kan?" Egi menatap dalam, mata Elsa.
"Aku udah maafin kamu, Gi. Hari itu juga aku udah maafin kamu, karna kamu memang gak salah. Hanya saja aku masih kesal karna kamu gak percaya sama aku. Aku..."
Elsa terdiam, saat Egi tiba-tiba mengecup bibirnya.
"Maafin aku, Yank. Aku gak akan pernah lakuin itu lagi." ucap Egi, mantap.
Elsa tersenyum manis, menatap haru wajah tampan pria yang sangat dicintainya. Egi mencium lama kening Elsa.
"Makan dulu, yuk. Aku suapin." kata Elsa lagi.
Egi mengangguk dan memakan makanan yang disuapi Elsa.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Hai, ksatria baja hitam. Udah meningan lo?" Kay sengaja bersuara sengau saat menyebutkan kata 'mendingan'.
"Nyumpahin gue lo?!" sungut Egi.
Kay tergelak.
"Gimana, Gi? Masih sakit?" tanya Alya penuh perhatian.
"Sedikit, Al. Tapi gak pa-pa, sakit gue gak seberapa dibanding gue harus kehilangan cinta gue." kata Egi.
Diciumnya lembut tangan Elsa yang digenggamnya, membuat gadis cantik itu tersipu malu.
"Ciee...cie...batal broken heart, nih." goda Kay.
"Gaklah, bro. Kita kan emang gak pernah putus. Ya kan, Yank?" Egi melirik kekasihnya. Senyumnya mengembang melihat Elsa mengangguk malu-malu.
"Tuh kan, Kay. Kami saling cinta, jadi gak bakal terjadi deh yang namanya broken heart."
"Sombong lo! Kemaren aja muka lo udah kayak lepet kelipet ama truk. Ancur." ledek Kay terus-terusan.
Egi diam.
Kay tau apa yang ada dipikiran sahabatnya itu.
"Siapa yang melakukan ini sama lo, Bro? Apa orang suruhan cewek itu?" tanya Kay, to the point.
"Lo tau, Kay?" Egi tak menyangka Kay bisa membaca pikirannya.
"Pengalaman gue dan Alya yang nyaris menghancurkan cinta kami gara-gara cewek gagal move on, sama kayak yang lo alami." sahut Kay sambil menatap tajam Arkan yang baru datang.
"Kenapa lo liat gue kayak gitu, Kay? Gue ganteng ya?" celutuknya dengan wajah tanpa dosa.
Huekk! Huekk! Huekk!
"Beib! Kamu kenapa?" Kay menatap Alya, cemas. Alya menggeleng lemah sambil memegang perutnya.
"Gak tau, bib. Aku eneg waktu liat Arkan."
"Ishh, segitunya lo ama gue, Al. Lo masuk angin kali." gerutu Arkan kesal.
"Enak aja Alya eneg liat gue. Dia gak nyadar apa akan ketampanan paripurna gue?" sungutnya dalam hati.
Kay tertawa.
"Kayaknya junior gue empet liat muka lo, Bro." serunya, asal.
Tapi mampu membuat Arkan, Egi dan Elsa menatapnya dengan wajah kaget.
"Bini lo bunting, bro!" seru Arkan surprise.
"Ishh, Lo kira bini gue kambing." sungut Kay, kesal.
"Maksud gue, bini lo lagi hamil ya?" Arkan pun meralat ucapannya.
"Beneran, Al? Lo bisa hamil juga." timpal Egi.
Ia pun nyengir ketika melihat Kay melotot marah kearahnya.
"Gue perempuan, Gi. Ya bisa hamil lah." sahut Alya, kesal campur geli dengan ucapan Egi.
"Lo kira selama ini gue maen ama banci. Hah?!" sentak Kay kesal.
Tawa pecah dari mulut Arkan, Egi dan Elsa.
__ADS_1
"Bukannya gitu, bro. Gue kaget aja Alya bisa hamil secepat itu, pasti tiap malem lo pompa terus ya?"
"Lo mau tau aja apa mau tau banget?" ejek Kay.
Alya menggeleng seraya menepuk jidatnya, pelan, melihat suaminya terus meledek Egi, sepupunya.
"Gue belum tau gue hamil apa gak, Gi? Gue belum periksa ke dokter."
"Jadi...Kay bohong sama kita, ya?" Egi menatap kesal pada Kay yang hanya nyengir, mengejeknya.
"Kalo gitu, kita periksa sekarang, beib. Kali aja eneg kamu liat Arkan tadi pertanda kamu mulai isi." kata Kay.
"Aamiin."
"Kok aamiin sih, Al?"
"Loh, kenapa? Kalo beneran gue hamil kan alhamdulillah." sahut Alya cepat.
"Tapi masak lo hamil harus eneg liat gue, Al. Gak terima gue!"
"Kenapa lo gak terima? Malahan gue seneng kalo Alya eneg liat lo, itu berarti calon anak gue udah tau siapa orang yang harus dijauhi dari emaknya." ujar Kay dengan santai, membuat Arkan mencibir kesal.
"Wah! Kok lo yang belom move on, Kay. Arkan dan Alya kan udah masa lalu." kata Egi.
"Tau tuh, Kay. Dendam banget lo ama gue." sahut Arkan dengan nada sedih.
Kay mencibir.
"Yuk, beib. Kita periksa dulu." Kay mengamit tangan istrinya, keluar dari dalam ruangan Egi.
****
Mata Kay nyaris melotot keluar ketika melihat dokter kandungan yang akan memeriksa istrinya.
"Beib, gak ada dokter yang lain ya?" tanya Kay dengan berbisik.
"Kenapa emangnya?" Alya balik bertanya, tak mengerti maksud dari pertanyaan suaminya.
"Masak dokter kandungannya cowok, beib. Apa gak ada yang cewek?"
Alya tersenyum. Sekarang dia paham mengapa suaminya tidak suka dengan dokter kandungan yang akan memeriksanya.
"Ibu Alya."
"Iya, dok."
"ini kehamilan ibu yang pertama?" tanya dokter tampan yang memeriksa Alya. (Pantesan aja Kay kalang kabut kayak abok-abok kebakaran jenggot, cembokur rupanya.😅🤦♀)
"Saya juga gak tau apa saya sudah hamil apa belum, dok." jawab Alya jujur.
"Kita tes urine dulu. Anda tau cara penggunaannya kan?"
Dokter tampan itu tersenyum lagi ketika melihat raut bingung di wajah Alya. Lalu dokter itu memberikan sebuah botol kecil pada Alya.
"Sekarang ibu ke kamar mandi dan isi urine ibu di sini. Nanti testpacknya ibu celupin ke dalam botol sesuai batas garis ya. Ibu baca di sini." Dokter Helmi memberikan pengarahan pada Alya.
"Apa ibu sudah mengerti?"
Alya mengangguk. Kemudian masuk ke kamar mandi.
"Maaf, dok. Kalo seandainya nanti benar istri saya hamil, apakah kami masih boleh 'itu', dok?" tanya Kay tanpa malu-malu.
"Boleh, pak. Asalkan hati-hati." jawab Dokter Helmi yang paham dengan maksud pertanyaan Kay.
"Apa boleh dilakukan setiap hari?" tanya Kay lagi.
"Dalam trimester pertama sebaiknya jangan terlalu rutin, Pak. Karna kandungan masih lemah, takut terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan."
Kay mengangguk mengerti.
Tak Lama Alya keluar dari dalam kamar mandi dan memberikan testpack yang tadi dibawanya pada dokter itu.
Dokter tampan itu tersenyum melihat hasil ditest pack tersebut.
"Selamat, ibu. Dua garis biru berarti ibu positif hamil. Ibu dan bapak akan jadi calon orang tua."
Alya dan Kay saling pandang dengan senyum bahagia.
Airmata mengalir di pipi Alya. Hatinya terenyuh penuh haru.
Kay pun segera memeluk istrinya dengan penuh bahagia dan mengecup puncak kepalanya lembut.
"Terima kasih, beib. Kamu udah kasih aku hadiah yang paling indah." ujarnya penuh keharuan.
Alya mengangguk sambil sesekali terisak.
"Sekarang silahkan ibu berbaring di sana. Saya akan memeriksa ibu."
Alya pun menuruti perintah sang dokter tampan. Kay membantu istrinya berbaring.
Perawat membantu membuka baju Alya dibagian perut dan merapikan selimut yang menutupi bagian bawah perut Alya. Setelah mengolesi perut Alya dengan gel, dokter pun melakukan USG. Kay dan Alya menatap ke layar monitor dengan pandangan tak mengerti.
"Lihat ini, Pak. Bu. Ini calon bayi bapak dan ibu."
"Mana, dok?"
__ADS_1
Kay garuk-garuk kepalanya, bingung.
"Kamu liat gak, beib?" tanya Kay pada istrinya.
Alya menggeleng, tidak mengerti, sama seperti Kay.
Dokter Helmi tersenyum lagi. Tapi dia maklum dengan pasangan muda didepannya sekarang.
"Yang titik ini, Pak. Ini calon anak bapak dan ibu." Pak dokter melingkari sebuah titik kecil yang ada di layar monitor dengan krusor.
Kay dan Alya sama-sama bingung menatap ke layar monitor.
"Kok gak mirip bayi ya?" gumam Kay. O'onnya muncul.
Alya memukul pelan tangan suaminya.
"Kamu dulu sekolah apa ngitungin cicak sih, bib? Masak gak tau masa pertumbuhan bayi waktu masih di dalam rahim? Aku curiga jangan-jangan kamu dulu sering bolos waktu pelajaran biologi ya?" gerutu Alya kesal melihat wajah cengo Kay.
Kay nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku gak perlu belajar itu, beib. Aku kan gak bakalan hamil." Kay membela diri.
Alya melengos, malas menatap wajah tampan suaminya yang saat ini menurutnya sangat memuakkan.
Pak dokter ganteng lagi-lagi hanya tersenyum geli melihat pasangan 'somplak' (kata Egi itu loh ya, bukan kata pak dokter.🤭) didepannya.
"Karena usia kehamilan istri bapak baru masuk 5 minggu, memang ukuran janin baru seperti biji kacang tanah, pak. Nanti setelah bertambah bulan, perubahan janin pun akan berubah hingga sempurna menjadi bayi."
Kay mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari dokter Helmi.
"Kamu manggut-manggut aja, bib. Emang ngerti pak dokter ngomong apa?" Alya tampak kesal melihat suaminya.
Kay meringis, melihat wajah istrinya yang tampak begitu kesal, seraya menggeleng.
"Gak, beib!" jawabnya pelan seraya nyengir malu.
"Haish, udah aku duga. Udah kamu pulang aja sana, biar aku yang bicara sama pak dokter. Kan bukan kamu yang hamil." sindir Alya.
"Jangan gitu dong, beib. Kamu hamil kan juga gara-gara aku yang rajin nanem saham di rahim kamu. Berarti ini anakku juga." Kay mengelus-elus punggung tangan kiri Alya.
"Huh!" Alya mendengus sebal.
Dokter Helmi geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu pasangan suami istri ini sambil menahan tawa.
Sedangkan perawat yang membantu dari tadi terus cekikikan tak mampu menahan tawanya, sampai-sampai ia lari ke toilet karena nyaris pipis di celana.
"Kamu malu-maluin aja, bib. Kalo gak tau tuh diem jangan nyeletuk. Kalo mau tanya juga, tanya yang bener. Bikin malu aja." Alya ngedumel kesal setelah mereka berjalan kembali ke ruangan Egi.
Kay cuma meringis sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Gimana, Al? Belum 'jadi' ya?" tanya Egi ketika Alya masuk dengan wajah ditekuk.
Kay pun hanya diam, tanpa ekspresi.
"Sabar, Al. Usaha terus. Gue yakin Kay pasti selalu siap 'bertempur' kapan pun lo siap. Ya kan, bro?" Arkan menepuk bahu Kay.
Dan ia pun tergelak melihat wajah Kay yang langsung sumringah mendengar ucapannya.
Alya mengeluarkan foto hasil USGnya tadi dan memperlihatkannya pada Egi, Arkan dan Elsa.
Mereka bertiga menatap foto dan Alya bergantian dengan dahi mengernyit tanda tak mengerti.
"Ini foto hasil USG tadi. Yang dilingkari itu calon bayi kami."
Ketiganya saling pandang.
"Apa, Al? Bayi?" wajah Egi terkejut campur takjub.
"Lo hamil, Al?" Arkan mendelik, kupingnya seakan budek sesaat.
"Selamat ya, Alya!" Elsa memeluk Alya, memberinya selamat.
Alya tersenyum bahagia sambil balas memeluk Elsa.
Arkan ikutan memeluk Alya dan mengucapkan selamat. Tapi,
Hugh..
Tangan Alya menahan tubuh Arkan agar tidak mendekatinya.
"Please jaga jarak, Ar. Gue mual deket lo. Maaf!"
Arkan melongo.
Kay tertawa girang. Begitu juga Egi dan Elsa, ikut menertawakannya.
"Ishh, ngidam lo kebangetan banget, Al. Gue kan pengen peluk lo juga." Arkan menatap Alya, kecewa.
"Ngapain lo mau peluk-peluk? Bini gue nih!" Kay cepat-cepat memeluk erat Alya.
"Haish. Laki bini sama-sama nyebelin. Jahat lo ama gue." Arkan merajuk.
"Bodo amat. Ngambek noh sama tembok." kata Kay cuek.
Arkan melengos.
__ADS_1
"Gue seneng liat lo bahagia, Al! Selamat ya?"