
Sandy tersenyum ketika melihat Alya keluar dari dalam rumah.
"Bang Sandy? Udah lama?" tanya Alya, kaget melihat sosok Sandy duduk di teras rumahnya.
"Baru saja, dek. Sudah siap?" tanya Sandy.
"Emang mau kemana?" tanya Alya, bingung.
"Hari ini abang yang akan menemani kamu periksa kandungan." kata Sandy, kalem.
"Eh...gak usah, bang. Ngerepotin aja. Aku bisa sendiri kok." tolak Alya, halus.
"Jangan menolak. Ini calon cucu abang juga." kata Sandy lagi, membuat Alya terkekeh mendengarnya.
"Abang mau jadi abg, nih!" goda Alya.
"Udah lewat kali, dek." Sandy tertawa mendengar ledekan Alya.
"Belum, bang. Bentar lagi."
"Abg apaan tuh?" mata Sandy menyipit, mencoba mengingat-ingat apa yang Alya maksud.
"Abok-abok ganteng." sahut Alya sambil terkekeh geli.
"Diih, maksa banget." ejek Sandy. Tapi ia tertawa juga.
"Yuk ah, berangkat. Ntar kesiangan." ajak Sandy.
"Beneran gak ngerepotin?"
"Gak. Ayok!"
Sandy membantu Alya masuk ke dalam mobilnya.
"Dek, apa dokter yang memeriksa kamu gak bingung liat yang nemenin kamu orangnya ganti-ganti?" tanya Sandy kepo.
Sandy penasaran dengan tampang bingung sang dokter saat melihat Alya datang dengan pasangan yang berbeda.
"Awalnya sih dokternya bingung juga, bang. Makanya dia nanya mana suami aku yang sebenarnya." jawab Alya geli mengingat kekepoan dokter Helmi.
"Terus?"
"Ya aku jawab jujurlah, biar dia gak mikir kalo suamiku lebih dari satu." sahut Alya sambil cekikikan.
Sandy ikut tertawa.
"Bang, gimana kabarnya bu guru Aisyah? Kapan melanjutkan kejenjang yang lebih serius?" tanya Alya.
Giliran dia yang kepo dengan hubungan Sandy dan Aisyah, bu guru cantik yang dulu naksir berat sama Kay.
"Gak ada yang spesial antara abang dan Aisyah, dek. Kami hanya berteman, gak lebih." jawab Sandy apa adanya.
"Kenapa, bang? Aisyah gak mau ya sama abang?" tanya Alya, penasaran.
"Kami memang hanya temenan, dek."
"Rugi banget tuh Aisyah kalo dia nolak cowok sebaik dan seganteng abang."
__ADS_1
Sandy tertawa geli.
"Apa kamu merasa rugi sudah menolak abang, dek?" tanya Sandy membuat Alya mingkem seketika.
Sandy tertawa lagi.
"Selow, dek. Jangan kaget gitu, ntar cucu abang loncat lagi." celutuk Sandy, jahil.
"Hish, emangnya anak aku bajing." sungut Alya, keki.
Sandy pun ngakak.
*****
"Yang ini siapa lagi, bu Alya? Kok cowoknya ganti-ganti terus?" tanya petugas dibagian kartu yang memang selalu rese waktu Alya datang pertama kali bersama Egi setelah Kay berangkat tugas.
Alya melengos, cuek.
Dia bosan dengan petugas satu ini yang resenya minta ampun.
"Kepo." sahutnya cuek.
Petugas itu melotot kesal.
"Baru kali ini saya melihat ibu hamil datang memeriksakan kandungannya dengan laki-laki yang berbeda. Apa mereka itu ikut menanam saham di situ?" tanya petugas itu, nyinyir, sambil menunjuk perut buncit Alya.
Alya diam tak menanggapinya.
"Kalo diam, berarti benar. Anda seorang p****k ya?" Si petugas rese makin berani saja.
"Maaf, mbak. Ada yang mau bicara?" Sandy memberikan ponselnya pada petugas rese itu yang menatapnya bingung.
Bingung campur deg-degan, si petugas rese menerima ponsel Sandy.
"Ha..lo?"
"@$+":##+$@*/@!!!"
"Ma...maaf, dok."
"$@-+*/'":#?!\=,*/$@"
"Ba...baik, dok."
"+*/-@'"$(#:":"?!#"
"Iy...iya. Iya. Baik, dok."
Petugas rese itu mengembalikan ponsel Sandy.
"Maaf bu Alya. Saya minta maaf sudah mengatakan yang tidak-tidak pada bu Alya. Sekali lagi saya minta maaf." petugas kartu itu membungkukkan badannya berulang-ulang sambil meminta maaf pada Alya.
Alya menatap Sandy bingung.
"Makanya jangan suka nyinyir. Baru jadi tukang jaga kartu aja belagu." Sandy melotot kesal pada wanita itu.
"Jelek aja sombong banget. Jangan ngejudge orang kalo kamu gak kenal dengan orang itu. Kalo tuduhanmu salah, kamu yang akan malu sendiri."
__ADS_1
Sandy benar-benar kesal dengan sikap tak profesional si tukang kartu.
"Udah, bang. Jangan ditanggapi. Kita langsung masuk aja, yuk." Alya menarik tangan Sandy, mengajaknya masuk keruangan dokter Helmi karena perawat yang biasa membantu dokter Helmi sudah menyuruhnya masuk.
Sandy pun mengikuti langkah Alya.
Dokter Helmi tersenyum melihat wajah masam Sandy.
"Mukanya biasa aja kali, bro. Kecut bener!" ejek Helmi pada sahabatnya.
Alya memandang Sandy dan dokter Helmi bergantian dengan pandangan bingung.
"Lo ganti aja tuh anak buah lo. Jelek banget tabiatnya, sama kayak orangnya. Bikin orang ilfill kalo mau berobat ke rumah sakit ini, tau gak?" Sandy ngedumel kesal.
"Iya, iya. Besok dia gue suruh jadi cleaning service aja, biar dia bisa bersihin seluruh ruangan dan juga otak kotornya."
"Bagus. Awas kalo gak!"
"Iya, tuan Sandy Satya." dokter Helmi mengangguk penuh hormat.
"Puas lo?!!" mata dokter Helmi melotot, jenaka.
Sandy terkekeh.
"Sekarang kita periksa bumil dulu. Ayok, bu Alya." pak dokter mempersilahkan Alya naik ketempat tidur.
Alya masih melongo ditempatnya duduk.
"Ibu Alya?!"
"Hah!! Eh?!" Alya gelagapan, bingung.
"Ngelamunin apa sih, dek? Cepat sana naik, abang gak sabar nih liat cucu abang." Sandy menepuk lengan Alya, pelan.
"Ibu Alya ini siapa lo sih, bro? Kok lo udah mau jadi aki-aki aja, lo kan belum kawin, bro?" tanya dokter yang selalu kepo ini.
"Suami Alya itu ponakan gue, bro. Berarti baby di sini kan cucu gue." sahut Sandy bangga. Tangannya mengelus lembut perut Alya.
Dokter Helmi terkekeh geli.
"Lucu jadinya, bro. Lo punya anak gak, punya cucu iya. Geli gue jadinya." kata Helmi, geli.
"Gue juga bakalan punya anak, bro. Habis lebaran nanti gue mau lamaran. Lo harus datang ke acara nikahan gue." Sandy merangkul akrab bahu dokter Helmi.
"Kok aku gak tau abang mau lamaran? Sama siapa?" Alya jadi kepo maksimal.
"Abang emang belum bilang sama semuanya. Kalo udah dekat waktunya, baru abang kasih tau."
"Berarti papa sama mama juga belum tau, bang?"
Sandy menggeleng dengan senyum penuh misteri, bikin dahi Alya mengkerut, kepo.
"Kok bu Alya manggil lo abang bukan om, bro?" tanya dokter Helmi tiba-tiba.
Alya dan Sandy saling pandang.
"Kepoooo!!!"
__ADS_1
Dokter Helmi pun merajuk.