
Hadi bersama keluarga besarnya menyambut gembira kedatangan Kay bersama Wira, putranya.
Bersama mereka turut hadir pula kakek dan nenek Wira, mertua Kay. Abby dan istrinya, Bella, ikut juga menemani Kay. Sedangkan papa dan mama Kay tidak bisa ikut karena papa Kay tengah sakit.
"Bro, kenalin nih abang gue. Abangnya Alya juga." Hadi memperkenalkan Yendi, abangnya, pada Kay.
Kay mengulurkan tangannya mau bersalaman dengan Yendi yang langsung memeluknya erat sambil menangis haru.
"Kenapa kita baru bertemu? Seharusnya kalian mengundangku dipernikahan kalian. Dan sekarang aku tidak bisa bertemu Alya lagi." ujar Yendi, sedih.
"Sudah takdir, bang." Kay menepuk pelan punggung Yendi.
Yendi mengangguk dan melepaskan pelukannya. kemudian dia beralih menatap Alma, lama.
"Pak!" Yendi mencium punggung tangan Ramdani, dan memeluknya juga.
"Ibu!" Yendi salim pada Alma dan memeluknya, lama.
Alma mengusap punggung Yendi, lembut.
"Aku kangen sama ibu." ucap Yendi lirih.
Alma tersenyum.
"Kalo kangen, kenapa gak ke rumah? Ibu juga kangen sama kamu." kata Alma, yang memang sudah akrab dengan Yendri ketika pria itu masih SMP.
"Andai kita satu kota, pasti kita ketemu terus, bu. Ini juga untung pas lagi cuti, makanya bisa pulang kampung." kata Yendi lagi sambil menatap Alma, lembut.
Alma tersenyum. Yendi makin teringat dengan Alya, sahabat masa SMPnya.
"Istrimu mana, Yen? Terakhir kita ketemu setelah kalian lulus SMP kan?"
Yendi mengangguk.
Kemudian ia memanggil istrinya. Alma memang kenal dengan istri Yendi, karna Yendi pernah mengajaknya ke rumah Alya waktu mereka masih pacaran dulu.
Istri Yendi juga menyalimi Alma dan memeluknya erat. Airmata kerinduan pun tumpah. Apalagi saat mereka teringat almarhumah Alya.
"Yang ganteng ini ya ponakanku?" tanya Yendi ketika melihat Wira.
"Calon, Om." ralat Wira.
"Alya itu sudah seperti adik bagiku, berarti kamu keponakanku. Kebetulan aja akan jadi jodohnya Rara." sahut Yendi, cepat.
Di sini aku yang paling bahagia, tau gak? Dua keponakanku akan bersatu. Bahagianya!" Yendi tersenyum bahagia. Begitu juga dengan yang ada diruangan itu.
Yendi memeluk erat tubuh tinggi Wira.
"Semoga kamu selalu bahagia, Nak." ucapnya, tulus.
"Makasih, Om!" Wira tersenyum kaku.
Tak lama Aura keluar didampingi istri Yendi.
Ibu Aura sudah meninggal setelah melahirkan Aura. (berarti Aura dan Wira senasib.😓).
Aura duduk di sebelah papanya, tepat berhadapan dengan Wira.
Abby menyikut Wira, pelan.
"Awas, Dek. Ilernya ngences tuh!" goda Abby dengan berbisik.
Wira pun buru-buru mengelap mulutnya, cepat.
Abby tergelak.
Bella mencubit perut suaminya yang selalu menjahili Wira hingga Abby meringis menahan sakit.
Kay berdiri untuk memberitahukan niat mereka datang ke rumah Hadi..
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Tanpa banyak kata, saya ingin menyampaikan maksud kedatangan keluarga besar kami kesini untuk meminta Aura menjadi menantu di keluarga kami. Apa nak Rara bersedia menjadi bagian dari keluarga kami?"
Kay menatap Aura penuh harap.
Hadi menyuruh anaknya berdiri.
"Jawab, Neng! Masa depanmu ada didepanmu sekarang. Pikirkan sekarang!" ujar Hadi.
Aura berdiri, kaku. Lidahnya yang biasa lemes jadi terasa kelu.
Rara dilema.
flashback on
"Papa sudah menerima lamaran Wira untuk kamu, Neng. Seperti Om Kay yang mau kamu jadi menantunya, papa juga mau Wira jadi menantu papa. Karna papa tau, Wira lelaki yang baik dan bertanggung jawab." Hadi memberitahu Aura tentang rencananya dan Kay yang ingin menjodohkan anak-anak mereka.
"Rara gak mau. Lagian papa tau dari mana kalo Wira itu baik, Pa. Dia tuh kalo ngomong suka ketus sama Rara, juga sering merendahkan Rara."
"Merendahkan gimana maksudnya?" tanya Hadi, ingin tau.
"Dia sering nyuruh-nyuruh Rara seenaknya, Pa. Masak Rara yang cantik gini disuruh bikin sambel terasi? Rara kan Polisi, Pa, bukan koki." adu Rara berapi-api dengan maksud papanya akan marah dan menolak perjodohan ini.
Hadi tertawa geli.
"Itu artinya Wira mau kamu bisa memasak, Neng. Jadi mulai sekarang kamu harus belajar memasak sebelum menjadi istrinya." sahut Hadi.
Rara merengut masam.
"Rara punya pacar, Pa..."
"Pacar kamu itu kamu putusin aja. Papa gak suka sama dia." kata Hadi.
__ADS_1
"Gak mau ah, Pa."
"Harus mau! Dia gak cocok buat kamu." sergah Hadi, kekeuh.
"Papa tau darimana Rara gak cocok sama Denny. Rara cinta Denny, dan Rara mau Denny yang..."
"Apa perlu papa uraikan satu-satu kejelekan mantan pacarmu itu, Neng?" ancam Hadi.
Aura pun diam.
"Papa tau kamu sudah putus dengan Denny, Neng. Denny seorang penipu. Dia memacarimu hanya buat kedok doang, kan? Kamu marah sama Wira karna Wira yang sudah membongkar topeng Denny kan, Neng?"
Aura masih diam.
"Harusnya kamu berterima kasih sama Wira dengan perjodohan ini, Neng. Om Yendi juga. Om Yendi sangat menyayangi ibunya Wira dan ingin Wira jadi bagian keluarga kita."
"Tapi Rara gak cinta sama Wira, Pa!" sentak Rara, nyaris berteriak.
Hadi menepuk punggung tangan Rara, lembut.
"Neng, papa sama mama kamu dulu juga menikah karna dijodohkan. Papa awalnya juga tidak mencintai mama, sama seperti kamu yang gak suka sama Wira. Tapi setelah menikah dan mama terus menunjukkan ketulusan cintanya sama papa, akhirnya papa bisa mencintai mama dan lahirlah kamu. Kamu hadiah terindah dari mama buat papa, Neng. Melihatmu papa bisa terus melihat mama. Dan percayalah, kamu pasti bisa mencintai Wira seperti papa mencintai mama." sebutir air bening dari mata Hadi bergulir pelan dipipinya.
Ia teringat kembali dengan istrinya yang selalu sabar menghadapi sifat kekanakkannya. Padahal usia Hadi jauh lebih dewasa daripada Indah, istrinya.
Aura termenung, diam memikirkan ucapan Hadi.
"Haruskah aku mencoba menerima Wira seperti papa yang mencoba menerima mama?" pikir Aura, dalam.
"Papa jangan nangis. Rara mau menerima Wira dan akan mencoba mencintainya." kata Aura pelan.
Jemarinya yang lentik menghapus airmata yang mengalir di pipi papanya dengan lembut.
Hadi tersenyum memeluk putri tercintanya dan membelai rambutnya, lembut.
flashback off
Aura menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
"Rara mau."
Semua menatap Aura lekat, termasuk Wira yang merasa budek ayahnya kini menular dikupingnya.
"Rara mau jadi menantu di keluarga Om Kay." ucap Aura lagi, membuat senyum merekah dari wajah semuanya.
"Mulai malam ini manggilnya ayah ya, cantik. Anak ayah yang cantik." Kay memeluk Aura dengan senyum bahagia.
Begitu juga dengan Alma, nenek Wira, yang ikut memeluk Aura, erat.
"Nenek senang akhirnya Wira mempunyai pendamping hidup yang baik dan cantik seperti kamu, sayang." ucap Alma, terharu.
Setelah itu Aura dan Wira saling bertukar cincin, menandakan bahwa mulai malam ini mereka berdua sudah saling terikat.
Setelah makan malam, kedua keluarga besar yang tengah berkumpul saling bercengkrama. Wira dan Aura terlihat duduk berdua di halaman samping.
Agak lama keduanya saling diam. Sampai,
"Aku!"
"Gue!"
Wira dan Aura saling berpandangan, lalu sama-sama tersenyum, kikuk.
"Kamu ngomong duluan." Wira mempersilahkan Aura bicara lebih dulu.
"Lo aja dulu!" anjur Aura.
Wira menghela napas. Lalu,
"Baiklah. Aku mau minta maaf atas sikapku yang kurang baik ke kamu selama ini ya?" ucap Wira, tulus.
"Sama-sama, Wir. Gue juga minta maaf karna sering jutek ke elu." Aura ikutan minta maaf.
Keduanya pun tersenyum manis.
"Kalo tau kita bisa akrab kayak gini, kenapa gak dari dulu aja ya kita dekatnya, Ra?" Wira menatap lekat wajah cantik Aura, yang duduk disebelahnya.
Aura menunduk malu.
"Gue mau tanya, Wir. Boleh?"
"Apa?" Wira menatap Aura.
"Apa lo dipaksa ayah lo agar mau dijodohkan?" tanya Aura.
Wira mengernyit, curiga.
"Memangnya kamu dipaksa menerima aku, Ra?" tanya Wira balik.
Ada rasa kecewa dihatinya, menyadari kalo Aura tidak menyukainya.
"Jujur, gue awalnya mau menolak. Tapi cerita papa dengan mama dulu bikin gue berpikir ulang dan akhirnya mau belajar untuk terima lo."
Wira terus menatap kagum gadis manis didepannya.
"Kita sama-sama belajar ya, Ra? Aku juga belum yakin dengan hatiku." ujar Wira.
"Lo punya pacar, Wir?" tanya Aura yang yakin kalo Wira juga sama dipaksa seperti dirinya.
"Gak!" jawab Wira mantap.
__ADS_1
Aura mengernyitkan dahinya, tak yakin.
"Aku belum pernah pacaran, Ra." sahut Wira, mencoba meyakinkan Aura.
"Aku akan pacaran setelah kita menikah nanti."
"Eh?!" bola mata indah milik Aura mendelik, lucu.
"Masyaallah, lucunya si jutek kalo lagi melotot gini. Gemes gue!" Wira menggeram gemas dalam hati.
"Lo...lo...bener-bener ya?!" Aura menatap Wira, tersinggung dengan ucapannya.
"Kenapa?" tanya Wira, bingung, melihat Aura yang kesal.
"Kita batalin aja pernikahannya!"
"Loh?!" Wira melongo.
"Kenapa dibatalin, Ra?" tanyanya bingung.
"Lo kurang ajar, Wir. Masak habis nikah sama gue lo baru mau pacaran? Kalo gitu, lo nikah aja sama pacar lo!" sahut Aura ketus.
"Kan udah aku bilang, aku gak punya pacar, Ra." kata Wira, pelan, mencoba meredam emosi Aura yang mulai meledak-ledak.
"Maksud lo habis kita nikah lo mau selingkuh gitu?!" sentak Aura.
"Aku gak pernah berpikir kayak gitu." ujar Wira, polos.
"Terus...yang tadi itu?" Wajah cantik Aura merengut, kesal. merasa hatinya dipermainkan oleh Wira.
Wira duduk menghadap Aura.
"Rara sayang, maksudku tadi aku pacarannya sama kamu, bukan sama yang lain." Wira menatap lembut wajah cantik didepannya.
Pipi Rara merona merah.
"Untung aja malam. Kalo siang pasti Wira melihat pipi gue merah kayak tomat masak." gumam Aura, pelan.
"Kamu mau kan pacaran sama aku setelah kita menikah nanti, Ra?" tanya Wira lembut.
Aura mengangguk dan tersenyum, malu-malu.
Wira tersenyum bahagia. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
"Kita sama-sama belajar biar bisa saling mencintai sampai kita tua nanti ya, Ra?" pinta Wira. Diangkatnya lembut dagu Aura agar balas menatapnya.
Aura mengangguk lagi, masih dengan malu-malu.
Wira tersenyum senang. Hatinya pun riang.
"Makkk!!! Aku mau kawiiiinnnn!!!"
🎵Arti cinta yang sesungguhnya
'kan kau dapat dari diriku
meski aku bukanlah lelaki
yang kau impi-impikan
Bukan kata apalagi harta
tubuh jiwa pasti untukmu
yang ku punya sejuta cinta
yang 'kan membuatmu bahagia
karna ku tau
yang kau butuh hanya cinta
Selama jantungku masih berdetak
selama itu pula engkau milikku
selama darahku masih mengalir
cintaku pasti takkan pernah berakhir
Segalanya bisa kau punya
tapi apa arti hidupmu
tanpa cinta di dalam hati
pasti hidupmu tak bermakna
sambutlah aku
dengar bisikkan hatimu
Selama jantungku masih berdetak
selama itu pula engkau masih milikku
selama darahku masih mengalir
cintaku pasti takkan pernah berakhir
Temukanlah arti cinta sejati
__ADS_1
di dalam cintaku ❤❤❤
.... Arti Cinta - Ari Lasso....