
Kay tersenyum bahagia. Pernikahan ini memang yang sudah ia tunggu-tunggu. Meski awalnya banyak yang menentang keputusannya, namun akhirnya semua bisa menerima dengan lapang dada.
Dan hari ini, semua nampak bahagia menyambut pasangan pengantin baru itu.
"Selamat ya, Bro. Akhirnya lo nikah juga." Egi memeluk pengantin pria.
"Kirain selamanya lo bakal ngejomblo." selorohnya.
Sang pengantin pria mesam-mesem, malu.
"Makasih, Bro." ujarnya, terharu.
"Jangan digodain, Gi. Ntar dia gak konsen mikirin malam pertamanya." goda Abby.
Semua tertawa mendengar gurauan Abby.
Dan Kay yang paling kenceng ketawanya.
"Bahagia banget lo kayaknya, Bro?!" sindir Ryan, curiga.
"Iyalah gue bahagia. Puas rasanya liat lo malu -malu gitu, mirip banci yang lagi tersipu-sipu." ledek Kay dengan wajah sumringah.
"Ish, sobat durjana. Hari ini hari bahagia gue. Harusnya lo kasih gue selamat bukannya malah ngeledek gue, Jailani." gerutu Ryan, sebal. Mulutnya mengerucut, manyun.
"Iya, iya. Selamat ya, Yan. Akhirnya lo laku juga. Semoga kebahagiaan selalu menyertai lo dan Luna." Kay memeluk erat sahabatnya, penuh haru.
"Makasih, Kay. Lo sahabat terbaik gue." Ryan pun melakukan hal yang sama.
"Bestfriend forever?" Kay mengangkat tangannya,mengajak toast.
"Bestfriend forever!" Ryan menyambutnya dengan penuh semangat.
"We are bestfriend forever!" Egi, Abby, dan Arkan ikutan bergabung. Mereka pun berpelukan erat.
"Makasih ya bang untuk semuanya." ucap Luna tulus pada Kay.
Kay mengangguk dan tersenyum, tulus.
"Sama-sama. Anggap aku abangmu. Kalo Ryan bikin kamu sedih, bilang ke abang ya?" Kay menepuk pelan pipi Luna.
Luna mengangguk dan tersenyum penuh haru. Dia senang Kay menganggapnya adik.
"Boleh Luna peluk abang?" Luna menatap Kay penuh harap.
Kay tersenyum dan membentangkan tangannya seraya mengangguk. Luna pun menghambur, memeluk Kay.
"Akhirnya Luna punya abang." ucap Luna lirih.
Kay membelai rambut Luna, lembut.
"Jangan lama-lama meluknya, Bro. Itu bini gue." celutuk Ryan, pelan.
"Ish, cemburuan amat. Gue ambil lagi nih." ancam Kay dengan nada menggoda Ryan, seolah mau merebut Luna dari Ryan.
"Jangan, Bro. Cuma dia satu-satunya yang mau ama gue, please! Peace! Hee." Ryan nyengir sambil mengacung dua jarinya, lucu, membuat terkekeh yang melihatnya.
"Kita-kita juga mau jadi abang lo, Lun. Boleh?"
Luna mengangguk, tersenyum.
"Kalo gitu...peluk bang Egi, Lun." Egi bersiap hendak memeluk Luna.
"Boleh. Tapi ntar malem bobo diluar ya?"
Tanpa Egi duga Elsa sudah berdiri disebelahnya dan menatapnya tajam.
Teman-temannya tertawa geli melihat Egi yang ke gep istrinya, tengah modusin Luna.
"Eh, Ayang. Anu Yank, aku..."
"Selimut dan bantal ntar aku taruh di sofa. Kamu bobo di ruang tamu." ucap Elsa, santai.
Setelah cipika-cipiki dan mengucapkan selamat pada Luna dan Ryan, ia pun berjalan tenang menuju kursi untuk para tamu.
"Yank!"
Egi mengikuti Elsa. Tak digubrisnya ledekan sahabat-sahabatnya yang tertawa menggodanya.
"Aku tadi cuma becanda doang, Yank. Maafin aku ya?" bujuk Egi.
Elsa duduk santai sambil menikmati hidangannya tanpa memperdulikan Egi yang terus berusaha merayunya.
"Nikmati malam dingin loh, Gi. Siap-siap jadi udang mateng lo!" ledek Kay, disambut tawa oleh yang lain.
__ADS_1
Egi menatap Kay, sinis.
"Bahagia lo ya?" teriaknya, kesal.
"Of course, dong." sahut Kay, cepat.
Egi tertunduk lesu.
"Serah lo dah, Kay. Asal lo bahagia." ujarnya sendu.
Hahahahaaa.
Tawa bahagia terus bergema selama pesta pernikahan Ryan dan Luna berlangsung.
"Dek!"
Kay menoleh. Senyum manis ia perlihatkan pada Karin yang menatapnya sedih.
"Mama gak tau harus ngomong apalagi, dek. Kamu tidak pernah memikirkan perasaan kami. Kamu gak lihat Wira yang tampak begitu kecewa dengan pilihanmu?" Karin benar-benar kesal dengan anak bungsunya itu yang sangat keras kepala.
Kay terus tersenyum.
"Mamaku sayang, aku sangat sangat bahagia dengan kehidupanku walau hanya dengan kenangan Alya yang menemaniku. Aku tidak butuh apa-apa lagi, karna Alya sudah memberikan semuanya untukku. Dan Wira, dialah satu-satunya penyemangat hidupku sekarang. Aku hanya mau fokus untuk Wira, tidak untuk orang lain." Kay tetap keukeuh dengan pilihan hatinya.
Karin menghela napas, berat.
"Terserah kamulah, dek. Capek mama ngomong sama kamu. Sampe mulut mama berbusa juga kamu gak bakalan mau dengerinnya." sahut Karin, pasrah.
Kay memeluk mamanya, erat.
"Makasih atas perhatian mama. Aku sudah jadi ayah, dan akan menjadi ayah yang terbaik untuk Wira. Percayalah, aku bahagia dengan hidupku sekarang." Kay mencium lembut kening mamanya.
Karin menangis terharu memeluk Kay.
"Do'a mama selalu menyertaimu, dek. Semoga kamu selalu bahagia didalam hidupmu meskipun tanpa seorang pendamping." bisik batin Karin.
Tujuh belas tahun berlalu,
Kay menatap haru putranya yang kini berdiri gagah dihadapannya dengan seragam Polisi yang tampak serasi ditubuh Wira dan menambah poin ketampanan di wajah pemuda yang kini sudah dewasa.
"Lihatlah, beib. Anak kita sungguh tampan. Wajah yang fotokopi denganku, tapi senyum dan matanya mirip kamu."
Tak terasa airmata Kay mengalir dipipinya. Kay menangis bahagia.
Kay tersenyum bahagia melihat putranya yang berjalan tegap kearahnya dengan wajah penuh rasa bahagia.
"Ayah, lihat nih!"
Wira memamerkan tanda kepangkatan Briptu yang baru ia dapatkan.
"Maksudnya apa tuh nunjukkin ke ayah? Mau pamer?" ejek Kay.
"Iya dong, biar ayah bangga sama aku." sahut Wira, cepat. Ayah bangga kan sama aku?" tanyanya lagi.
Kay mengangguk dan tersenyum bahagia.
"Dedek akan selalu jadi kebanggaan ayah dan emak. Percayalah emak juga selalu mendoakan Dedek di sana."
Kay memeluk erat putra semata wayangnya.
"Aku tau, Yah. Emak pun selalu ada dalam do'a di setiap solat aku." ujar Wira yang balas memeluk Kay, tak kalah erat.
Kay menepuk pelan bahu Wira setelah melepaskan pelukannya.
"Kapan ayah akan kamu kenalin dengan calon mantu?l tanya Kay tiba-tiba, membuat Wira garuk-garuk kepala, bingung.
"Kenapa bingung gitu?" tanya Kay.
"Jangan bilang kamu belum punya pacar, Dek!"
Wira nyengir, malu.
Kay terkekeh.
"Kamu tau, Dek. Waktu ayah seumuran kamu, ayah sudah nikah sama emak."
"Serius, Yah?"
Kay mengangguk, mantap.
Raut takjub terpancar di wajah Wira yang tak menyangka ayahnya yang tenang dan terkesan dingin ternyata bisa melow bila menyangkut soal emaknya.
"Emak satu-satunya wanita yang bisa melembutkan hati ayah dan bisa membuat ayah bersikap romantis. Emak adalah cinta pertama dan terakhir ayah."
__ADS_1
"Makanya ayah betah jadi duren sampe sekarang?" ledek Wira.
Kay tertawa.
"Karena emak memang tak tergantikan di hati ayah." ucap Kay, jujur.
Sampai sekarang dan hingga nanti waktu membawanya bertemu Alya, Kay ingin hanya Alya yang ada dihatinya.
Wira tersenyum bahagia. Cinta ayahnya pada emaknya menjadi acuan untuknya bila memiliki tambatan hati nanti.
Wira ingin seperti ayahnya, hanya punya satu cinta dan akan setia sampai ajal menjemputnya.
"Mayor Kay Arbitama!"
Pasangan ayah dan anaknya itu spontan menoleh.
"Mayor Hadi Wijaya." Kay menjabat erat tangan Hadi, rekannya waktu di Akmil. Mereka pun berpelukan.
"Ini...putra lo dan Alya, Kay?" tanya Hadi.
Kay mengangguk.
"Dek, kenalin om ini teman ayah dan teman emak juga."
Kay memperkenalkan Hadi pada Wira.
"Selamat ya, nak Wira! Pastinya ayahmu bangga dengan prestasimu."
Hadi menjabat erat tangan Wira.
"Makasih, om." Wira mencium punggung tangan Hadi, sopan.
"Anak lo ganteng, Kay." puji Hadi.
"Ya iyalah. Lo gak liat ayahnya keren gini." sahut Kay sok angkuh.
"Preett!!!" Hadi mencibir.
"Orang Wira mirip ama Alya, makanya mukanya cakep. Alya kan cantik." sergah Hadi.
Kay mendengus kesal.
Wira tertawa melihat sikap ayahnya.
"Udah tua masih aja baperan nih si ayah." batin Wira, geli.
"Lo kesini ngapain, Di? Anak lo polisi juga ya?" tanya Kay.
"Iya. Dia juga dapat kenaikan pangkat tadi."
"Oh ya? Yang mana? Cowok apa cewek?" tanya Kay penasaran.
Tadi ada empat orang anggota kepolisian yang mendapat kenaikan pangkat, termasuk Wira. Tiga cowok dan satu cewek.
"Yang cewek."
"Bripda Aura?"
Hadi mengangguk, tersenyum.
"Kalian satu kantor kan?" tanyanya pada Wira.
Wira mengangguk.
Hadi melambaikan tangannya pada seseorang.
Tak lama, seorang gadis cantik namun sedikit angkuh, berjalan menghampiri mereka.
"Aura, kenalkan ini teman papa, om Kay."
Aura tersenyum ramah pada Kay.
"Halo, om. Aku Aura, anaknya papa Hadi." Aura mencium punggung tangan Kay.
"Halo, Aura. Kamu cantik banget, pasti mirip mamanya ya?" tebak Kay.
Aura nyengir, malu.
"Bales dendam, ya?" sindir Hadi.
Kay terkekeh. Mereka pun sama-sama tertawa, geli.
Tanpa disadari semuanya, Wira terlihat tidak tenang sejak Aura datang.
__ADS_1
"Si jutek showtime!"