
"Assalamualaikum, Kak! Kak Karin!"
Tak ada sahutan dari dalam rumah.
"Kak!"
Sandy pun langsung ngeloyor masuk ke dalam rumah.
Di dapur,
"Nunggu Alya lulus kuliahnya baru mereka menikah."
_--_
"Jangan kayak gitu dong, dek."
_--_
"Alya pasti sedih kalo denger kamu ngomong kayak gini. Move on dong, dek. Tentara kok cemen."
_--_
"Mama percaya kamu bisa, dek. Do'a mama selalu buat kebahagiaan kamu. Yang kuat ya di sana. Solat jangan lupa, jaga kesehatan juga."
_--_
"Iya, mama juga. Ba bay! Muach."
"Kak!"
"Astaghfirullah al adziim." Karin terperanjat kaget. Hampir saja ponsel ditangannya terlempar.
"Dedek? Kapan datang? Udah lama?" tanya Karin beruntun karena terkejut.
Sandy terkekeh.
"Kaget ya, kak? Sori ya kalo aku ngagetin kakak." ia lalu salim, mencium punggung tangan kakak iparnya.
"Kakak yang minta maaf gak denger kamu datang tadi." Karin mengacak lembut rambut Sandy.
"Makan dulu yuk. Kamu gak kerja hari ini?" Karin menyodorkan segelas sirup pada Sandy.
"Aku tadi ada rapat di dekat sini, makanya aku langsung kemari." Sandy mengambil piring nasi yang diberi Karin.
"Gimana kabarnya Kay, kak? Udah lama aku gak ketemu bocah itu, jadi kangen." tanya Sandy sambil menikmati makanannya.
Karin menatap Sandy, sendu. Ia ingat pengorbanan Kay dan Alya.
"Kay baik-baik aja, dek. Sekarang dia tugas di Bogor. Dia juga titip salam buat kamu."
Sandy tersenyum kecut.
"Anak itu...perginya gak bilang-bilang dulu eh taunya udah jadi tentara aja. Jauh banget dari cita-citanya, kak." ujar Sandy pelan. Terdengar nada kecewa dari suaranya.
"Biarinlah, dek. Biar mandiri dan belajar bertanggung jawab."
"Kapan Kay pulang? Masak lebaran juga gak pulang? Udah hampir dua taun kan?" Sandy makan sambil mengingat-ingat kepergian ponakannya yang tiba-tiba.
Karin mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"Gak tau. Kakak juga gak ngerti meskipun Kay jelasin juga." Karin terkekeh geli. Sandy ikutan tertawa.
"Kak, aku boleh tiduran di kamar Kay gak? Capek nih, mau numpang istirahat." tanya Sandy.
"Yah udah, istirahat sana."
Sandy menatap sekeliling kamar Kay. Sandy duduk di dekat meja belajar dan menatap lekat figura yang ada di atas meja.
Sebuah foto terlihat dimana Kay sedang merangkul seorang gadis, sangat mesra.
"Siapa gadis ini? Apa dia pacarnya Kay?"
Sandy tidak mengenal gadis yang ada di foto karena terlihat di dalam foto kalo Kay dan gadis itu sama-sama memakai masker.
"Apa ini gadis yang bikin Kay patah hati dan membuatnya gagal move on seperti yang kak Karin bilang waktu di telepon tadi?"
Sandy hanya bisa mengira-ngira dan bertanya dalam hati. Karena capek dan lelah berpikir akhirnya Sandy pun terlelap.
Di pos jaga yonif** Bogor,
"Alya sekarang sudah semester enam, berarti tahun depan dia sudah lulus dan..."
"Akhh! Kenapa aku masih gak rela sih?" Kay mengacak kasar rambut cepaknya.
"Melamun gak tau tempat, tugas woiii!!!" tepukan keras dibahunya membuat Kay terperanjat kaget.
"Astaghfirullah al adziim. Kaget gue, beg*." Kay menjitak keras kepala Ryan, sahabatnya, yang selalu menjahilinya.
Ryan meringis, sakit.
"Lo sih...tiada hari tanpa melamun. Kalo tau komandan, mau lo dihukum?" sungut Ryan.
"Gue gak lagi melamun kok..."
"Gue inget mantan gue, Yan." desah Kay, lirih. Tangannya masih mengusap kepalanya yang benjol akibat jitakan maut Ryan. (Itss! Ganas juga si Ryan.🤪)
Ryan mengangguk paham. Ditepuknya pelan bahu Kay.
"Kayaknya dalem banget cinta lo buat dia, bro."
Kay mengangguk pelan.
"Dia cinta pertama gue." Kay tertunduk lesu.
"Kenapa kalian putus?" tanya Ryan kepo, mumpung Kay lagi curhat. Soalnya jarang- jarang tuh anak curhat. Biasanya cuma mendem sendiri kegalauannya dalam hati.
"Dia udah dijodohin ayahnya sama om gue." jawab Kay lirih, setengah menggumam.
"Hah! Apa?! Om lo?!" Ryan kaget. Cepat-cepat dibetulkan letak duduknya menghadap Kay, menatapnya lekat.
Lagi-lagi Kay mengangguk lesu.
"Kok bisa, Kay?"
"Kakek gue dan kakek dia yang memulainya. Awalnya perjodohan itu untuk anak-anak mereka, tapi ternyata anak mereka itu sama- sama cowok jadi turunlah perjodohannya ke cucu mereka."
"Lah...elo ama cewek lo kan sama-sama cucu, bro. Seharusnya kan udah bener pasangannya?" Ryan garuk-garuk kepala, bingung.
"Gue kira juga begitu, dan gue udah seneng banget waktu itu. Gue pikir gak perlu minta restu camer lagi karena pasti udah direstui eh gak taunya..."
__ADS_1
"Kenapa, bro?" Ryan kemas, kepo maksimal.
"Bokapnya cewek gue maunya om gue yang dijodohkan sama anaknya. Alasannya, om gue anak dari kakek gue. Dan karena bokap cewek gue anak tunggal dan punya anak perempuan, jadi...ya gitu deh. Gue yang buntung." Kay bersandar lesu disandaran kursi yang didudukinya.
"Sabar, bro. Mungkin dia bukan jodoh lo." Ryan menepuk pelan bahu Kay, mencoba menguatkannya.
"Dulu waktu baru kenal dia, gue sering panggil dia tante. Habis dia sok tua banget."
Kay terkekeh sendiri mengingat perkenalannya dengan Alya, mantannya.
"Emang dia tua berapa taun dari lo?" tanya Ryan tertarik dengan kisah cinta rumit sahabatnya.
"Kay pacaran sama tante-tante? Gila juga nih anak!" Ryan tak habis pikir.
"Tiga taun."
"Cuma tiga taun? Dan lo panggil dia tante?" Ryan geleng-geleng kepala.
Kay mengangguk sambil tersenyum.
"Dia gak marah tuh lo panggil tante?"
Kay tergelak.
"Marah sih. Tapi mau gimana lagi, kan dia yang sok tua." sahut Kay, membela diri.
"Terus?"
"Setelah kami cukup dekat dan akrab, baru deh gue ubah panggilan gue buat dia. Beib. Itu panggilan sayang gue buat dia."
"Wajarlah lo panggil gitu, kan dia udah jadi pacar lo."
"Waktu itu kami belum pacaran, malah kami lebih kayak musuh bebuyutan. Kalo ketemu pasti berantem."
"Loh? Kok bisa?"
"Gue udah suka sama dia waktu kita pertama kali bertemu. Gue sengaja caper sama dia dengan tingkah konyol dan panggilan sayang gue. Asal lo tau Yan, gue udah kayak layangan dibuatnya. Ditarik ulur terus."
"Berat dong perjuangan lo buat dapetin dia, bro?!"
"Bukan berat lagi. Selain harus ngeyakinin dia bahwa gue bukan bocah kemaren sore, gue juga harus bersaing dengan mantannya yang perfect banget."
"Wah!" Ryan makin tertarik dan kepo banget. "Terus?"
"Setelah berjuang keras, jungkir balik, mental sana sini, akhirnya gue bisa juga naklukin dia. meski gak langsung jadian sih?"
"Maksudnya?" tanya Ryan, bego beneren.😋
"Pokoknya perjuangan gue dapetin Alya lebih berat daripada perjuangan gue masuk Akmil. Harusnya dulu gue gak lari dan terus mempertahankan Alya." sesal Kay tak habis- habis.
Ryan diam menunggu Kay melanjutkan ceritanya.
"Seharusnya dulu Alya gak gue lepaskan. Seharusnya gue pertahanin hubungan kami. Dan sekarang...gue seperti kalah sebelum perang." Kay tertunduk lesu.
"Setelah dengan segenap jiwa raga gue berkorban untuk mengejar cinta Alya dan akhirnya berhasil, eh dengan tanpa perjuangan om gue yang malah jadi bakal calon suaminya. Alya tidak lama lagi akan jadi tante gue beneran. Hancur hati gue, Yan." setetes airmata jatuh di pipi Kay tanpa bisa ditahan.
"Yang ikhlas, bro. Terlanjur sudah lo lepas, sebaiknya lo berdoa untuk kebahagiaan lo kedepannya. Masak lo mau terpuruk selamanya kayak gini, Kay?"
"Dia cinta pertama gue, Yan. Susah buat gue lupain Alya, karna gue tau Alya pun terpaksa lepasin gue."
__ADS_1
"Semoga lo kuat melewati cobaan ini, bro."
"Makasih, bro!"