
Alya menatap sedih foto diponselnya. Foto kekasihnya yang tampan dan terlihat begitu dewasa diumurnya yang baru sembilan belas tahun.
"Ayah kenapa gak bilang kalo Alya sudah dijodohkan sejak kecil? Alya sekarang sudah punya pacar loh, Yah!"
Alya sangat kesal dengan ayahnya yang seenaknya menjodohkan Alya dengan anak temannya tanpa membicarakan lebih dulu dengannya.
"Perjanjian ini dibuat oleh kakekmu, Alya. Ayah hanya ingin melanjutkan janji kakek."
"Tapi Alya gak mau, Yah! Alya sudah punya pacar dan Alya gak mau pacar Alya kecewa karna perjodohan ini." tolak Alya. Gadis itu menangis saat teringat dengan Kay, pacarnya.
Alya pernah merasakan kecewa karena cinta. Alya tidak mau Kay mengalami kekecewaan yang seperti dia alami. Alya sedih bila mengingatkan hal itu. Apalagi saat ini Kay sedang menghadapi ujian. Alya tidak mau Kay gagal dalam ujiannya gara-gara tau masalah ini. Alya ingin Kay bahagia!
"Alya, ayah mohon kamu mau menerima perjodohan ini. Ayah sudah berjanji dengan sahabat ayah, Alya. Tolong jangan buat ayah jadi orang yang ingkar janji, sayang!"
Alya menarik napas berat. Dilema datang mengusik hatinya. Haruskah Alya menuruti ayah dan mengecewakan Kay? Atau...Alya memilih Kay dan membiarkan ayah mengingkari janjinya dengan sahabatnya? Alya benar-benar bingung. Dia tak mau memilih, tapi dia harus memilih.😲😢
"Alya harus sholat istikharah dulu, biar Alya mantap menentukan pilihan Alya." pinta Alya.
__ADS_1
"Memang sebaiknya begitu, sayang. Biar kamu tenang." ayah menepuk pelan bahu Alya, putri kesayangannya, satu-satunya.
"Apa Kay harus tau masalah yang sedang ku hadapi sekarang? Tidak! Kay sedang ujian. Aku tidak boleh mengganggunya dengan masalahku ini."
Alya terisak saat mengingat Kay.
"Mungkinkah ini ujian cinta mereka?"
Di tempat lain,
"Kay, ini hari terakhir kita ujian. Besok kita bebas menikmati hari terakhir kita di sekolah. Lo udah punya rencana mau melanjutkan kuliah kemana?" tanya Elsa. Tangan gadis itu bergelayut manja di lengan Egi, pacarnya.
"Daripada aku menunggu seorang Kay yang jelas-jelas sudah menolakku, lebih baik aku memilih Egi yang tulus mencintaiku." begitu pikir Elsa.
"Gak perlu ditanya lagi, Yank. Kay pastilah memilih di dekat Alya. Malah kalo Alya mau, Kay siap langsung melamarnya. Ya kan, Kay?" Egi mengerling, menggoda Kay, sahabatnya.
"Tau aja lo, Tukimin! Gue lagi usaha nih buat persiapan gue nikah nanti sama bebeib gue." Kay tampak sumringah, membuat Elsa heran menatapnya.
__ADS_1
"Gi, kayaknya bini lo belum move on deh dari gue. Tuh matanya masih ijo liat gue." Kay menatap tajam ke arah Elsa yang menganga bloon, menatapnya. "
"Haishh! gue colok juga tuh mata!" batin Kay mengumpat kesal.
"Kamu beneran belum move on dari Kay, Yank?" Egi mulai cemburu.
Elsa tersentak.
"Ishh! Gak Yank. Aku udah gak cinta lagi kok sama Kay. Aku cuma heran aja liat cowok kaku dan dingin kayak Kay ternyata bisa alay juga." jawab Elsa jujur.
Egi tertawa geli.
"Inilah Kay Arbitama, Yank. Dia bisa aja kaku dan dingin sama orang. Tapi kalo udah menyangkut soal Alya, alaynya melebihi alaynya artis-artis alay." seloroh Egi.
Kay refleks menimpuk Egi kesal dengan pulpennya.
Elsa tertawa melihat mereka. Baginya ini hiburan yang ia dapat selama ia dekat dengan Egi dan Kay.
__ADS_1
"Ah Kay, kalo saja aku tau kau sehangat ini, takkan aku memaksakan kehendakku untuk memilikimu seutuhnya. Bersahabat denganmu sudah cukup membuatku bahagia. Berbahagialah kamu dengan gadis yang kamu cinta." bisik Elsa dalam hati.