
*Kurasakan hidup tak berarti
setelah kau ingkari janji suci
yang selama ini engkau beri
'tuk setia sampai akhir nanti
Perih sangat menyayat hati ini
melihat engkau yang aku cintai
berpindah ke lain hati lagi
setelah kau dapatkan hatiku
Betapa perih rasa hati ini
inikah yang namanya patah hati
ku hanya bisa menangis sedih
'tuk bisa ikhlaskan kau pergi
Betapa perih rasa hati ini
inikah yang namanya patah hati
ku hanya bisa menangis sedih
'tuk bisa ikhlaskan kau pergi*
(Patah Hati _ Dadali)
*Berakhirlah sudah cerita kita
setelah sekian lama bersama
kau hadirkan dia dalam cerita
yang hanya menyisakan luka
Kucoba menahan perih
yang ku rasa
walau ini menyakitkan
Jika menyakiti aku
bisa membuatmu bahagia
maka lakukanlah itu
tanpamu ku yakin bisa
Ikhlas ku mencintaimu
ikhlas ku kehilanganmu
semoga kau bahagia
dengan pilihanmu itu
Kau bersama dia
aku bersama do'a*
(Cinta Dalam Do'a _ Souqy)
*Ku lepas semua yang ku inginkan
tak akan ku ulangi
maafkan jika kau ku sayangi
dan bila ku menanti
Pernahkah engkau coba mengerti
__ADS_1
lihatlah ku disini
mungkinkah jika kau ku sayangi
salahkah 'tuk menanti
Takkan lelah aku menanti
takkan hilang cinta ku ini
hingga saat kau tak kembali
'kan ku kenang dihati saja
Kau telah tinggalkan
hati yang terdalam
hingga tiada cinta
yang tersisa di jiwa
(Yang Terdalam _ PeterPan*)
Hampir satu minggu Kay mengurung diri dikamarnya. Mama dan Abby bingung melihat tingkah ajaib bocah tengil itu.
"Mana Kay yang ceria kemarin?" Begitu kira-kira yang mereka pikirkan tentang cowok ganteng itu saat ini.
"Kenapa lo, dek?" tanya Abby yang tak tahan lagi melihat adeknya yang keadaannya sudah sangat memprihatinkan.
Ya! Kay terlihat sangat tidak layak lagi untuk dilihat. Wajah tampannya tampak kucel, bau badannya na'udzubillah, rambut acak-acakan, dan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh kasar di sekitar pipi dan bawah hidungnya.๐ค๐ฒ
"Cerita ke gue apa masalah lo, dek. Kali aja abang bisa bantu." Abby menepuk pelan bahu adiknya.
"Alya dijodohin, bang."
"Hah!!!" mata Abby membulat.
"Maaf dek, kalo masalah ini abang juga gak bisa bantu."
Kay mengangguk, mengerti. "Hanya Allah yang bisa bantu gue, bang!"
"Semoga aja ada mukjizat buat lo, dek." Abby ikut sedih dengan masalah yang Kay tengah hadapi.
"Semoga aja, bang!"
"Dek!" tiba-tiba mama masuk ke kamar Kay. "Ada Egi tuh!"
"Halo, bro!" Egi nongol dengan wajah yang amat mengesalkan, menurut Kay.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Kay ketus.
"Mau liat lo masih idup apa kagak." jawab Egi santai.
"Hush! Egi, ngomongnya kok gitu?" sergah mama. "Mama gak suka loh."
Egi nyengir.
"Maaf, Ma!" Egi tertunduk, menyesal.
"Tenang, bro. Gue masih idup kok, meski sekarat sih!"
Abby dan Egi tersedak menahan tawa. Mama menatap mereka bingung.
"Adek sakit ya?" tanya mama cemas melihat Kay yang berantakan. Tangannya meraba kening anak bungsunya dengan lembut.
"Gak panas!" gumam sang mama.
"Ma! Sakitnya tuh di sini!" Abby menunjuk dada Kay.
Mama mengernyitkan dahi. ( kok kayak lagunya cita-citata ya?! ๐๐คญ)
"Adek lagi patah hati, ma!"
Mama menatap Kay lekat. Wajah ganteng anaknya memang terlihat sangat kacau, dan sikap jahil nan berontak yang biasa ditunjukkannya berubah murung.
"Siapa cewek yang bikin gantengnya mama jadi kayak kerupuk melempem gini?" tanya mama ingin tau. Beliau penasaran, seperti apa gadis yang bikin Kay sampai terpuruk seperti ini.
"Namanya Alya, ma. Dia sepupu Egi. Anak makcik Alma, kakaknya papa." kata Egi.
__ADS_1
"Alma? Dia kan sahabat mama waktu SMA!" pekik mama saat teringat nama sahabatnya dulu.
"Mama kenal sama ibunya Alya?" tanya Kay sumringah. Semangatnya timbul seketika.
Mama mengangguk cepat.
Kay tersenyum senang. Harapannya kembali cerah.
"Kalo gitu mama bisa dong bantu Kay?" Kay menatap mamanya penuh harap.
"Memangnya apa masalah kalian?" tanya mama.
"Ayahnya Alya mau jodohin Alya sama anak temannya, Ma."
"Siapa nama ayah pacarmu, dek?" tanya mama. Kay menoleh ke arah Egi.
"Pakcik Dani, ma!"
"Ramdani?"
"Iya, ma! Pakcik Ramdani, anaknya almarhum kakek Ridwan." ujar Egi lagi.
Mama manggut, paham.
"Mama kenal?" tanya Kay.
"Setau mama, Kakek alya dan Opa itu sahabatan, dan pernah ingin menjodohkan anak-anak mereka. Tapi batal karena ternyata anak mereka sama-sama cowok. Dan..."
"Dan apa, ma?" tanya Kay tak sabar melihat mamanya terdiam.
"Astaghfirullah al 'adziim!" ucap mama, beristighfar.
Kay, Abby dan Egi melongo kompak.
"Kenapa, ma?" Abby yang bertanya karena Kay dan Egi sama-sama masih dalam mode o'on.
"Karena Ramdani dan papa kalian gak jadi dijodohkan (lah iya, wong sama-sama lanang๐) berarti...pacarmu dek dijodohin sama..."
"Sama anak papa...berarti aku ya, ma. Kan abang udah punya Bella." sergah Kay cepat. Hatinya bersorak girang membayangkan ternyata dirinyalah yang akan dijodohkan dengan Alya, kekasihnya.
"Maaf, dek!"
Kay menatap mamanya, tak mengerti. Begitu juga Egi dan Abby.
"Jadi...harus bang Abby dan Alya ya yang dijodohin, Ma?" tanya Kay lesu.
Abby terperangah kaget. Ia jadi serba salah.
"Bukan abang, dek." jawab mama.
"Alhamdulillah!" ucap Abby dan Kay kompak.
"Om Sandy yang akan dijodohkan dengan anak Ramdani."
"Apaaaa?!!!"
Kay tertunduk lesu. Mama memeluk Kay dan mengusap rambut cowok ganteng itu dengan lembut.
"Sabar ya, dek! Mama yakin adek pasti akan bertemu jodoh yang baik buat adek nanti." bisik mama, di telinga Kay.
Kay terisak, menangis dipelukan mamanya. Hatinya semakin hancur saat tau siapa bakal calon suami Alya.
Om Sandy! Adik papanya yang selain tampan juga seorang pengusaha sukses yang selalu jadi idaman para wanita. Alya pasti dengan senang hati menerima perjodohannya.
Dan Kay hanya bisa gigit jari, menyadari bahwa dia tidak sebanding dengan omnya yang levelnya jauh di atas Kay.
"Sekarang ucapan gue terbukti. Alya beneran jadi tante gue!"
"Huaaaaaaaaa!!!"
Kay menjerit kesal. Dia menangis, meraung, sejadi-jadinya membuat mama, Abby dan Egi kewalahan membujuknya.
๐ถ*Selamat jalan sayang
semoga kau bahagia
aku 'kan pergi untuk selama-lamanya
Selamat jalan sayang
__ADS_1
ku do'akan kau bahagia
jaga dirimu baik-baik disana*