I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Best friend forever


__ADS_3

Sandy menjemput Alya kerumahnya setelah mereka janjian untuk makan malam. Sandy sempat terpana saat Alya menemuinya yang menunggu di ruang tamu.


"Kalian mau kemana, dek Sandy?" tanya Pak Ramdani pada Sandy, membuat cowok itu tersentak kaget.


"Ah...eh...anu bang...kami mau makan di kafe ****." jawab Sandy, kikuk.


Pak Ramdani mengangguk, tersenyum. "Ooh... baiklah, kalian boleh pergi. Pulangnya jangan malam-malam ya?"


"Baik, bang. Kami pamit pergi." Sandy pamit. Setelah Alya dan Sandy mencium tangan kedua ortu Alya, mereka pun pergi ke kafe yang dituju.


"Jadi...kamu sekampus sama Abby?" tanya Sandy saat mereka sudah duduk santai dikafe sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan.


"Iya. Kita juga berteman karna Egi sepupuku sahabatan sama Kay." jawab Alya. Sandy mengangguk mengerti.


"Pantesan kamu kelihatan sangat akrab dengan Kay dan Abby, ternyata teman ya?!"


Alya tersenyum kecut. "Abby emang temanku, bang Sandy. Tapi Kay... dia pacarku, kekasih tercintaku." jerit batin Alya.


"Kapan-kapan boleh dong nanti abang gabung kalo kalian lagi ngumpul?" Sandy menatap Alya penuh harap.


Alya nyengir seraya pelan-pelan mengangguk.


Sandy mengacak lembut rambut Alya.


"Kok makannya sedikit, dek? Sakit ya?" Sandy meraba kening Alya, membuat gadis itu spontan menepis tangan Sandy.


"Aku gak pa-pa, bang. Aku udah kenyang kok." kata Alya, gugup.


Sandy tersenyum manis.


"Ya udah. Kalo gitu sekarang kita nonton yuk." ajak Sandy.


"Terserah."


"Sandy! Kamu kapan datang kesini? Kok gak kerumah?" seorang wanita cantik nan seksi datang menghampiri meja mereka bersama dua temannya.


Alya dan Sandy saling berpandangan.


"Sandy, kamu kesini pasti karena kangen aku ya?" cewek itu memeluk Sandy, manja.


"Apaan sih?!" Sandy mendorong kasar tubuh wanita yang tanpa permisi telah memeluknya.


"Kamu kok jadi kasar gitu sih, Dy? Eh...Alya?" gadis itu melihat Alya, heran. "Kalian...berdua..."


"Alya tunanganku!" sahut Sandy, tajam menatap gadis itu. Lalu beralih menatap Alya lembut. "Kamu kenal Cindy, dek?" tanya Sandy.


Alya mengangguk. "Dia seniorku dikampus."


Sandy manggut-manggut, mengerti. Cindy menatap Sandy sendu.


"Kalian...beneran udah...tunangan, Dy?" tanya Cindy pelan.


"Iya! Kenapa emangnya? Masalah buat lo?!" sahut Sandy, ketus. Cindy menatap Alya, lekat.


"Lo...bukannya lo pacaran sama Arkan, Al?" Cindy menatap tajam kearah Alya.


Alya melengos. "Arkan itu masa lalu. Kami sudah lama putus."


"Oh iya...gue inget, Arkan selingkuhkan sama sahabat lo si...si...si Wulan kan?"


Alya menghela napas panjang. "Arkan juga udah putus sama Wulan, lo ketinggalan gosip terhangat ya?!" tukas Alya sedikit kesal dengan sikap Cindy yang sangat mengesalkan Alya.


Bukannya Alya kesal karena Cindy sengaja mengungkit masalah Arkan tapi Alya kesal karena sikap Cindy seolah sengaja membuat Alya begitu menyedihkan karena sudah ditinggal selingkuh oleh pacar dan sahabatnya.


"Udah dek, jangan ditanggapin omongan dia, gak guna. Mending kita nonton aja yuk!" ajak Sandy.


Alya ngikut aja ketika Sandy menarik tangannya, menjauh pergi meninggalkan Cindy cs.

__ADS_1


"Cindy tuh masih pacar bang Sandy atau udah mantan?" tanya Alya to the point saat mereka berdua sudah berada didalam mobil Sandy.


Sandy tersentak kaget dan refleks menoleh ke arah Alya yang duduk disebelahnya.


"Woles, bang. Aku cuma nanya kok bukan nuduh." Alya cengengesan, geli melihat Sandy yang nampak kikuk.


"Kalo masih pacaran juga gak pa-pa kok. Santai aja, aku..."


"Sstt!" dengan cepat Sandy menyentuh telunjuknya dibibir Alya membuat gadis itu terdiam seketika. Apalagi jarak mereka sangat dekat sehingga harum nafas Sandy hangat terasa dipipinya.


"Abang dan Cindy gak ada apa-apa. Kami hanya berteman, gak lebih." bisik Sandy, pelan ditelinga Alya.


Alya kembali terdiam mematung, kaku. Pelan-pelan ia menoleh ke arah Sandy. Matanya menyipit seolah tak yakin dengan yang Sandy katakan. Sandy tersenyum simpul.


"Jangan bilang kamu cemburu, dek!"


Alya melengos. Matanya memutar, malas. "Idihh! Sape lo sampe gue harus cemburu? Emang gue pikirin? Justru itu yang gue pengen biar kita batal tunangan." Alya menggerutu dalam hati.


"Cindy itu adiknya mantan abang, dek. Namanya Maya. Maya udah meninggal tiga tahun yang lalu karena kanker otak." Sandy terdiam sesaat.


"Terus?"


"Abang sudah menganggap Cindy seperti adik abang sendiri. Tapi ternyata dia suka sama abang dan memaksa abang agar mau jadikan dia pengganti Maya."


"Terus?" tanya Alya penasaran.


"Kepo ya?" Sandy tersenyum geli sambil mengacak gemas rambut Alya membuat gadis itu merengut masam merapikan rambutnya.


"Kalo gak mau cerita ya udah, aku gak maksa." sungut Alya kesal.


Sandy terkekeh geli. "Gadis yang lucu. Bikin gemas aja."


"Kamu lucu banget kalo cemberut gitu, dek. Pengen abang cubit deh pipi kamu. Gemas!"


"Idihh! Ogah!" ceplos Alya seraya menutupi kedua pipinya dengan tangannya.


"Apa kamu beneran cemburu, dek?" dengan menyipitkan matanya Sandy menatap Alya penuh curiga.


"Haishh!" Alya balas menatap Sandy, kesal, lalu membuang muka.


"Pulang aja, bang. Udah malem, aku takut tidur di luar gara-gara dikunci sama ayah." Alya ngedumel, kesal.


Sandy tertawa.


"Baiklah, kita pulang." Sandy mengalah, tak mau Alya makin kesal padanya.


"Aku tau, dek. Kamu tidak menyukai perjodohan kita dan kamu berharap itu tidak akan terjadi. Maaf, dek. Walaupun sebenarnya aku pun tidak setuju dengan perjodohan ini tapi aku harus menepati janji yang di buat ayahku dan kakekmu."


Sandy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba ditengah jalan mereka melihat empat orang sedang menghadang sebuah mobil.


"Stop, bang!" Alya memegang tangan Sandy, menyuruhnya menghentikan mobilnya. Sandy menoleh pada gadis yang duduk disebelahnya.


"Arkan?!" seru Alya tertahan saat melihat cowok yang keluar dari dalam mobil yang dihadang preman tersebut.


Sandy menatap Alya bingung.


"Kamu kenal, dek?"


"Dia mantanku yang Cindy bilang tadi." jawab Alya, jujur.


"Siapa mereka? Kenapa mereka menghadang Arkan?"


Alya terus menatap ke depan dengan rasa cemas.


"Kenapa kalian cegat gue? Gue gak kenal kalian." terlihat Arkan dengan tenang menghadapi para preman itu.


"Lo gak perlu tau siapa kami, yang perlu lo tau...lo harus minta maaf pada bos kami."

__ADS_1


"Siapa bos kalian?" tanya Arkan penasaran.


"Perasaan...gue gak punya musuh, deh?" Arkan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Nona Wulan! Dia bos kami."


Arkan tertawa. "Udah gue duga...tuh cewek sakit jiwa." caci Arkan, memancing emosi ke empat preman bayaran itu.


"Mana bos lo? Lagi berobat ya?" ejek Arkan lagi.


"Arkan sialan!!!" bentak seorang cewek yang keluar dari dalam mobil para preman.


Arkan tersenyum sinis.


"Ancaman lo receh, Lan. Gue gak takut tuh!" Arkan terus mengejek Wulan sehingga gadis itu berteriak kesal.


"Ooh...jadi lo gak takut, hah! Gimana kalo Alya yang..."


"Mau ngancem gue juga?" Alya berdiri santai sambil melipat tangannya di dada.


"Alya?!"


Arkan, Wulan dan yang lainnya menatap Alya, kaget.


Alya nyengir, santai. Disebelahnya, Sandy juga berdiri santai bersandar di depan mobilnya.


"Lo kira gue takut sama banci-banci yang lo sewa ini, Lan?" Alya menatap Wulan sinis. Arkan terkekeh melihat Wulan gelisah.


"Lo lupa kita berdua ini siapa, Lan?" sengaja Arkan mengingatkan Wulan tentang 'sepasang rajawali ' dari kelas X IPA 1.


Wulan menelan ludahnya, pekat. Nyalinya ciut seketika. Wulan ingat betul siapa yang berjuluk 'sepasang rajawali ' tersebut. Mereka adalah duo A, Alya dan Arkan.


"Aduh!" Arkan mengaduh saat merasakan seseorang menimpuk kepalanya dengan batu kerikil.


"Heh, Bambang! Jangan lebay lo ya?"


Arkan nyengir dan terkekeh melihat Alya merengut masam.


"Sori, Kan. Lo lupa ya siapa yang sudah memecah belah 'sepasang rajawali' itu?" ketus Wulan sinis, balik mengejek Arkan.


Arkan dan Alya saling pandang, lalu sama- sama memutar bola malas mendengar celotehan Wulan yang itu lagi itu lagi.


"Gue, Kan! Gue yang udah misahin lo sama Alya." sahut Wulan lagi.


"Tuh kan? Dasar otak-otak! Gak ada ide lain apa? Ngomongnya itu terus?"


Arkan dan Alya saling menepuk jidat masing-masing. Hadeeehhh!🤦‍♀


"Dan lo bangga, Lan? Apa gue harus bilang 'woww' gitu buat keberhasilan lo jadi pelakor?" semprot Alya, nyelekit banget.


Arkan tersenyum manis pada Alya.


"Asal lo tau ya, Lan. We are best friend forever. Ya kan, Ar?"


"Yo'i sista!"


Arkan dan Alya bertoast ria.


"Brengsek!" teriak Wulan kesal melihat kekompakan 'sepasang rajawali ' itu.


"Kalian, cepat bereskan duo cecunguk ini. Bikin mereka jadi perkedel." perintah Wulan pada anak buahnya yang langsung menyerang duo A.


Dan para anak buah Wulan pun langsung menyerang Alya dan Arkan.


"Eh Ar, lo disama'in ama kentang tuh!" ejek Alya di sela perkelahian mereka dengan anak buah Wulan.


"Yee...elo tuh, mirip kornet!" Arkan balas mengejek.

__ADS_1


Keduanya terbahak sambil terus balas menyerang para preman itu.


__ADS_2