
Elsa menatap nanar sepasang muda-mudi yang tengah berduaan. Sedih dan kecewa bertumpuk sesak di dalam dadanya.
"Kamu tega samaku, Yank. Kamu tega menduakan aku setelah kuserahkan seluruh hatiku buat kamu."
Tetes airmata Elsa mengalir tanpa bisa di tahan. Tanpa suara dan menahan isaknya, tangan Elsa terulur menghapus airmata yang mengalir dipipinya.
Elsa pun melangkah pergi meninggalkan kosan Egi.
Di tempat yang sama,
"Udah ngerti kan, Fan?" tanya Egi pada teman satu kelompoknya, Fania.
Gadis itu mengangguk mengerti.
"Nanti lo bilang ke Dian dan Sari, biar mereka bantu lo cari bahan buat makalah. Nanti gue yang susun semuanya."
"Oke. Siip!" Fania mengacungkan jempolnya.
"Gue pulang ya, Gi. Kalo udah nanti gue hubungi elo." Fania pamit pulang.
"Oke." Egi mengantarkan Fania sampai ke depan pintu.
Setelah temannya pulang, Egi mengambil ponselnya dan menghubungi kekasihnya.
tut tut tut tuuuuuuutttt
Nada sibuk. Egi mencoba menelpon lagi.
tut tut tut tuuuuuuuttt
Masih sama.
Ketiga kali Egi mencoba, malah veronika yang menjawab.
"Nomor yang anda hubungi sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi."
"Kamu kemana sih, Yank? Aku kangen tau gak."
Egi mencoba menghubungi Rani.
"Halo?" suara Rani terdengar.
"Ran, Elsa ada dikosan gak?"
"Gak ada, Gi. Bukannya dia ke tempat lo? Tadi dia bilang ke gue mau ke kosan lo."
"Ooh. Mungkin masih di jalan, Ran."
"Gak mungkin, Gi. Elsa udah berangkat dari jam sepuluh tadi. Sekarang udah jam setengah satu masak dia belum nyampe kekosan lo?"
Egi terdiam. Dan satu menit kemudian,
"Gawat, Ran. Pasti Elsa salah paham sama gue."
"Maksud lo?"
__ADS_1
"Gue tadi dikosan bareng Fania, teman gue satu kelompok. Kita lagi ditugaskan menyusun makalah. Pasti tadi Elsa lihat gue lagi sama Fania, dan salah paham." jelas Egi.
"Emang lo berduaan aja sama Fania?"
"Iya. Tapi kita emang lagi ngebahas bahan makalah kok Ran, gak ngapa-ngapain."
"Itu menurut lo, Gi. Menurut Elsa mungkin lo lagi selingkuh dibelakangnya."
"Astaghfirullah, Ran. Gak pernah ada niat sedikit pun di hati gue untuk mengkhianati Elsa. Gue cinta sama Elsa, Ran. Gue gak mungkin lakuin itu."
"Iya, Gi. Gue percaya ama lo. Kalo Elsa pulang nanti gue hubungi lo."
"Iya, Ran. Tolong ya?"
"Asiyaaap!!!"
Rani memutuskan percakapan. Egi menatap ponselnya. Fotonya yang sedang memeluk Elsa dari belakang menjadi wallpaper di layar ponselnya.
"Kamu dimana, Yank? Jangan bikin aku cemas."
"Lo kenapa, Gi? Manyun terus dari tadi. Lagi dapet ya?"
Kay menghempaskan tubuhnya, duduk di sebelah Egi.
Egi yang sedang duduk melamun sejak dari datang tadi, menoleh malas pada Kay.
"Beib, Egi kayaknya ke sambet deh. Kita ruqiyah yuk?" kata Kay pada Alya ketika istrinya mengantarkan minuman untuknya dan Egi.
"Sstt! Jangan diganggu, bib. Egi lagi galau."
Alya mengangguk. Kay melotot, tak percaya.
"Serius, beib?"
Alya mengangguk lagi.
"Kenapa?"
"Elsa mergokin Egi lagi berduaan sama cewek dikosannya."
"Hahh!" Kay tampak kaget.
Sedetik kemudian,
Hahahahahahaaaa.
Tawa Kay pecah.
"Sukurin lo. Sok sok jadi don juan sih." ejek Kay, geli.
Egi melemparkan bantal kursi ke arah Kay dan mendarat tepat di wajah tampan itu.
"Berisik lo. Mending lo kerja aja sono, jaga pos ntar gemboknya ilang." usir Egi keki.
"Berani amat lo ngusir gue. Ini rumah mertua gue, lo lupa kalo gue menantu kesayangan di rumah ini?"
__ADS_1
"Preeeettt. Pakcik Dani aja terpaksa ngambil lo jadi mantunya, gara-gara Alya udah lo pelet sampe segitunya suka ama lo." Egi ngedumel kesel.
"Sirik aja lo, Paijo. Makanya lo berguru aja ama gue kalo mau percintaan lo lancar." seloroh Kay kocak.
Alya cekikikan geli melihat Kay terus menggoda Egi.
"Apaan lancar...kisah cinta lo malah lebih rumit dari soal rumus fisika. Hampir aja Alya jadi tante lo, inget?!" ejek Egi, sinis.
"Tapi kan Alya tetap jadi istri gue, dan akan terus jadi milik gue selamanya. Ya kan, beib?" Kay memeluk erat tubuh Alya dan mencium keningnya lembut.
Alya tersenyum mengangguk dan balas memeluk Kay, erat.
"Hadeeeh... salah jurusan gue. Harusnya gue naik angkot 06 tadi." Egi menepuk jidatnya, malas melihat pasangan bucin didepannya.
Kay dan Alya terbahak, menertawakan Egi.
"Lo berdua udah dong ngetawain gue. Tolongin gue kek, si Elsa sampai sekarang belum bisa gue hubungin." keluh Egi.
Dia sudah tak tahan lagi dengan situasi yang tengah dihadapinya sekarang.
"Siapa suruh lo selingkuh? Ngerasa laku lo?" ejek Kay lagi.
"Gue gak selingkuh, Kay. Ini cuma salah paham aja. Gue tadi hanya lagi bagi tugas cari bahan buat makalah, gak macem-macem. Sumpah!"
"Udah lo hubungi teman-teman Elsa, Gi?"
"Udah. Tapi gak ada yang tau Elsa dimana."
"Lo inget-inget, kemana biasanya Elsa pergi kalo lagi suntuk."
Egi mengetuk-ngetuk kepalanya, mencoba mengingat tempat Elsa biasanya pergi.
"Beib, tolong bikinin aku kopi ya? Ngantuk aku liat muka Egi udah kayak tumpukan kain yang gak pernah dilipet, apalagi di setrika pake rapika." pinta Kay pada Alya sambil menyindir Egi.
"Kusut dong, bib."
"Bukan kusut lagi, malah campur apek. Jadi laper aku liatnya."
Alya ngakak.
"Mending lo mandi Gi, jadi seger mukanya, gak sepet gitu." imbuh Alya.
Egi menatap malas dua laki bini somplak didepannya, lalu berdiri.
"Mau kemana, Gi?" tanya Kay.
"Mandi, terus sabunan, biar seger biar wangi, biar lo gak sepet lagi liat gue." sahut Egi ketus seraya ngeloyor masuk ke kamar mandi.
"Met ngambek ya, Gi?!" teriak Kay keras.
Hahahahaaa.
Tawa pun pecah ketika Egi sengaja menutup dengan keras pintu kamar mandi.
"Jangan ngamuk, Gi. Ntar ke sambet jin kamar mandi, susah gue ngeruqiyah lo." ujar Kay yang tak bosan-bosan terus menggoda Egi.
__ADS_1
"Bodo amat!!!"