
"Busseeeetttt! jago juga nih cewek!" gumam Sandy takjub, melihat Alya yang dengan gesit mengelak dan membalas pukulan dari preman yang menyerangnya. Bersama Arkan, Alya kompak menghajar ke empat preman itu sampai babak belur.
Wulan mengkerut, mundur ketika Arkan dan Alya menghampirinya dengan senyuman devil. Semua preman sewaannya sudah tergeletak tak berdaya di jalan.
"Masih mau mengancam gue lagi, mak lampir?" Alya menatap Wulan sadis.
Wulan pun ciut.
"Lain kali bawa bodyguardnya yang banyakan ya, juminten? Tanggung kalo cuma empat mah!" ejek Arkan.
Wulan pun kabur setelah mundur sedikit demi sedikit dengan perlahan.
Arkan dan Alya tertawa terbahak menyaksikan Wulan yang lari terbirit-birit.
"We are always best friend forever! Yess!!!" duo A bertoast ria, lalu berpelukan erat layaknya teletubbies.
"Dek!"
Panggilan itu menyadarkan Alya pada Sandy yang menunggunya di mobil.
Alya dan Arkan pun melepaskan pelukan mereka.
"Eh, bang!"
Alya nyengir melihat Sandy manyun padanya. Sedangkan Arkan menatap Sandy dengan rasa ingin tau.
"Ini siapa, Al?" tanya Arkan.
"Ar, ini bang Sandy. Bang Sandy, ini Arkan." Alya memperkenalkan keduanya.
"Arkan!"
"Sandy!"
Arkan dan Sandy saling berjabat tangan, memperkenalkan diri masing-masing.
__ADS_1
"Maaf, bang Sandy ini...siapanya Alya?" tanya Arkan, hati-hati.
"Saya tunangan Alya!" jawab Sandy dengan senyum tenangnya.
Arkan terbelalak kaget. Matanya menoleh ke Alya yang menunduk diam.
"Ada apa dengan Alya? Bukankah Kay pacarnya sekarang? Sepertinya ada yang Alya rahasiakan."
Arkan menatap Alya lekat.
"Lo kok gak ngundang gue waktu lo tunangan, Al. Takut makanannya abis ya kalo ada gue?" Arkan mengacak lembut rambut Alya.
Alya nyengir.
"Mendadak, bro. Gue gak ngundang siapa-siapa, kecuali Abby. Itu juga karena Abby ponakannya bang Sandy."
Arkan mengernyit bingung. Pikirannya tambah mumet.
"Abby ponakannya Sandy? Berarti...Kay juga tau Alya tunangan sama Sandy?" Arkan mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Besok gue ceritain di kampus." bisik Alya. Arkan mengangguk mengerti.
"Siip, sist! Janji ya? Pokoknya gue mau baksonya mang Arman." Arkan mengedipkan sebelah matanya, genit pada Alya.
"Terserah lu!"
Sandy menatap keduanya dengan heran.
"Mereka berdua ini beneran mantan atau masih pacaran sih? Kayaknya kompak banget. Bikin gue jealous aja." batin Sandy.
"Bro, kita balik duluan ya. Udah malem." pamit Sandy kemudian.
"Oh iya! Makasih ya atas bantuannya." Arkan tersenyum ramah.
"Aku gak bantuin apa-apa, bro. Alya tadi yang bantuin kamu."
__ADS_1
"Tetep aja makasih karna abang dan Alya datang di saat yang tepat." sahut Arkan lagi.
Sandy mengangguk dan balas tersenyum ramah.
"Basi lo!" sungut Alya sambil menoel kepala Arkan, sebelum pergi berlalu mengikuti Sandy masuk kedalam mobil dan meninggalkan Arkan sendirian.
Arkan memandang mobil Sandy hingga tak nampak lagi. Baru kemudian Arkan juga beranjak pergi dari tempat itu.
Ditempat lain,
"Lo udah yakin, dek?" tanya Abby. Matanya menatap lekat wajah adik tersayangnya.
Kay mengangguk. "Yakin, bang. Seratus persen!" jawabnya mantap.
"Jangan bilang lo lari dari masalah lo sekarang, dek."
Kay menghela napas berat. Wajahnya kembali murung.
"Itu juga salah satu alasannya, bang. Gue gak kuat liat Alya tunangan apalagi sampai nikah sama om Sandy."
"Tapi jangan sampai lo hapus cita-cita lo, dek. Cita-cita lo kan jadi pengusaha, bukan jadi polisi."
"Jadi polisi cita-cita gue dari kecil, bang. Lagian lo kan udah kuliah di jurusan bisnis, biar lo aja yang jadi pengusaha sukses." Kay menepuk pelan bahu abangnya.
"Lo beneran udah mantap jadi polisi, dek?" tanya Abby sekali lagi. Dia gak kuat membayangkan adik tercintanya harus berbasah peluh saat mengikuti pelatihan masuk kepolisian nanti.
Abby tau, jadi seorang polisi tidaklah mudah. Selain fisik yang kuat dan otak cerdas, seorang polisi harus siap siaga dua puluh empat jam dalam mengayomi masyarakat.
"Mungkin ini alasan Kay lebih memilih jadi polisi. Dengan sibuk belajar dan melatih fisiknya, mungkin bisa membuat Kay melupakan Alya." batin Abby.
"Lo ngeremehin gue, bang? Gue siap jiwa dan raga ya, asal lo tau." Kay ngedumel kesal mendengar Abby yang seolah menganggapnya tak mampu menjadi seorang polisi.
"Bukannya gitu, dek. Gue yakin lo bisa masuk dengan mulus jadi seorang polisi. Gue tau kemampuan lo. Gue yakin lo pasti bisa, dan gue akan dukung pilihan lo." Abby mengacak rambut Kay, pelan.
"Thanks ya, bang. Lo emang abang terbaik gue." Kay memeluk abangnya penuh haru.
__ADS_1
"Alya bebeib! Aku pergi!"