I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Janji Kay


__ADS_3

"Akkh!" Kay mengerang, merasakan sakit dibagian tengkuknya. Kay pun berusaha bangun. Matanya mencari sosok Alya.


"Beib..."


"Adek!"


"Mama?!" Kay melihat sekelilingnya.


Dia berada disebuah ruangan yang dia tau pasti itu ruang rumah sakit.


Karin tersenyum lega melihat Kay sudah sadar dari pingsannya.


"Alya mana, Ma?" tanya Kay.


Karin pun terdiam.


"Lo udah sadar, dek?" Abby masuk bersama Bella, Egi dan Elsa.


"Alya mana, bang?" tanya Kay balik.


Entah kenapa hatinya merasa cemas, dan menjadi tak tenang melihat Egi dan abangnya datang tanpa Alya.


"Kemana kamu, beib?"


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan lo dan Alya, dek? Kenapa lo berdua bisa pingsan dijalan?" tanpa menjawab pertanyaan Kay yang terlihat cemas, Abby malah memberondong Kay dengan banyak pertanyaan.


"Apa, Bang?! Alya pingsan?!" Kay berseru, kaget.


"Dimana Alya sekarang? Apa dia baik-baik aja?" Kay makin cemas.


Rasa cemasnya makin menjadi-jadi, membuat Abby tidak tega memberitahu Kay tentang keadaan Alya.


"Kay, sebenarnya apa yang terjadi?" Egi yang dari tadi diam akhirnya bersuara juga.


Kay pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dari awal sampai akhir.


Dari Wulan datang dengan sengaja menyalip dan berhenti mendadak di depan motor Kay hingga Kay dan Alya jatuh, sampai Kay yang langsung tak sadarkan diri ketika merasakan pukulan keras ditengkuknya.


Setelah itu Kay pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. Tau-taunya ia sudah ada di rumah sakit. Awalnya Kay mengira Alya yang membawanya ke rumah sakit, tapi...


"Akhh! Sialan! Ini pasti ulah si bulldog." Kay menggeram kesal.


"Tenang, dek. Kamu istirahat dulu. Lehermu masih sakit kan?" Karin menahan Kay yang hendak bangun dari tempat tidur.

__ADS_1


"Lo istirahat aja, dek. Soal barbie curut, biar kami yang urus. Gue juga udah gedek ama tuh cewek, entah kapan tobatnya."


"Iya, Kay. Gue akan hubungi Arkan dan Ryan. Lo tenang aja disini. Jaga Alya. Dia lebih membutuhkan lo disisinya." Egi menepuk pelan bahu sahabatnya.


Kay mengangguk.


"Baiklah. Gue serahin semua ke kalian. Kalo ada apa-apa cepat hubungi gue." ujar Kay, mengalah.


Abby dan Egi pun segera pergi menemui Arkan dan Ryan setelah mengantarkan pacar mereka pulang terlebih dahulu


"Ma, tolong antarkan aku ke kamar Alya." pinta Kay setelah teman-temannya pergi.


"Ma?"


"Mama!"


Karin tercekat, bingung bagaimana cara mengatakannya pada Kay.


"Dek! Alya..."


Kay menatap lekat mamanya. Hatinya terus bergolak, cemas.


"Alya kenapa, Ma?!" tanya Kay frustasi karena sang mama masih saja diam.


Kay mengangguk paham.


"Aku ingin melihat alya, Ma. Aku juga ingin bertemu ayah dan ibu Alya, untuk menjelaskan kejadian yang menimpa kami." pinta Kay, memohon.


"Emang kamu gak takut ayah Alya marah, dek?" Karin khawatir Ramdani akan marah besar pada Kay.


Tapi dilarang juga percuma, karna Kay keras kepala dan pasti tidak akan menyerah meskipun harus hancur nantinya.


"Kemarahan Pakcik tidak berarti apa-apa dibanding aku harus kehilangan Alya, Ma."


"Tuh kan, Kay pasti tetap pada maunya." Karin garuk-garuk kepala, bingung.


Akhirnya,


"Baiklah, dek. Mama akan antarkan kamu ke kamar Alya."


Dengan menggunakan kursi roda, Kay didorong Karin ke kamar Alya dirawat.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikummussalam."


Kay mencium punggung tangan Ramdani. Wajah Kay sedikit tegang saat melihat tatapan marah dari mata seorang Ramdani, ayah Alya.


Tapi demi melihat ibu Alya yang tertidur dengan wajah lusuh, hati Kay ikut luluh.


"Pasti makcik tadi habis menangis." begitu pikir Kay.


Lalu mata Kay beralih pada sosok gadisnya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Beib! Bangun, beib! Aku di sini." Kay meraih tangan Alya yang bebas jarum infus dan menciumnya lembut.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kalian kecelakaan? Memangnya kalian darimana..."


"Sst! Bang, tenang. Ini rumah sakit." Karin mengingatkan Ramdani yang nampak kalap, hingga lelaki setengah baya itu menghela napas kasar.


"Maaf, Pakcik. Saya yang akan bertanggung jawab atas Alya." Kay berusaha tegar menghadapi Ramdani yang nampak sangat marah.


"Memangnya siapa lagi yang harus bertanggung jawab, hah?! Kamu yang menyebabkan Alya jadi seperti ini. Kamu sudah saya suruh tidak mendekati Alya tapi kamu tidak mengindahkan ucapan saya. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Alya... siap-siap kamu." ancam Ramdani.


Dia benar- benar emosi melihat putri semata wayangnya terbaring tak sadarkan diri. Sedih dan kesal bercampur dalam hatinya.


"Saya janji saya tidak akan meninggalkan Alya apapun yang terjadi nanti, Pakcik."


"Jangan berjanji kalau kamu tidak bisa menepatinya. Tentara seperti kamu kalo sudah ada panggilan tugas pasti tidak bisa mengabaikan dan harus segera dilaksanakan. Apa kamu bisa meninggalkan tugas negara demi Alya? Mikir?!" sergah Ramdani setengah membentak.


"Kalau begitu...saya akan secepatnya menikahi Alya, Pakcik!"


Hahhh!!!


Bola mata Ramdani dan juga Karin, mama Kay, membulat mendengar ucapan Kay.


"Izinkan saya menikahi Alya, Pakcik. Biarkan Alya sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya." pinta Kay, setengah memohon.


Kay tidak sanggup bila harus kehilangan Alya. Kay ingin selamanya menjaga Alya dan hidup bersamanya sampai akhir hayat mereka.


"Kamu...kalo ngomong dipikir dulu. Berapa umur kamu sekarang, hah? Baru saja lulus udah berani minta anak gadis orang. Punya apa kamu?" Ramdani menatap Kay sinis.


"Saya punya cinta Alya. Kewajiban saya pada negara sama dengan kewajiban saya terhadap Alya. Sama- sama penting dalam hidup saya. Dan saya akan berusaha menjalankan kewajiban saya sebaik mungkin. Saya mohon Pakcik percaya sama saya."


Ramdani menghempas napas kasar. Ia benar-benar kesal dengan bocah didepannya.


"Dasar keras kepala!" umpatnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2