
"Tante, kalo boleh aku nanya, nama tante siapa? Dari kemarin kan kita belum kenalan?" setelah cukup lama saling diam, Kay memberanikan diri untuk bertanya.
"Telat. Gak usah kenalan. Panggil gue semau lo aja." sahut Alya, masih dengan mode juteknya.
Kay yang tetap fokus mengendarai motornya, berdecak senang.
"Beneran aku boleh panggil sesuka aku?" tanya Kay kurang yakin dengan pendengarannya yang rada korslet.😅
"Terserah lo!"
Kay tersenyum girang.
"Oke deh. Mulai sekarang, aku panggil kamu 'beib' aja. Lebih mesra. Hehee..."
Alya menoel keras kepala Kay yang memakai helm. Kay terbahak, ngakak.
Lima menit kemudian Kay dan Alya sampai di warung bakso yang cukup terkenal di kota itu.
" Mang, bakso super tiga. Bungkus ya?"
"Yang dibungkus satu aja, Mang. Dua makan disini." Kay merubah pesanan Alya.
"Tapi gue maunya makan di rumah aja." Alya menolak makan disitu.
"Makan di sini aja, beib. Enak kalo mau nambah, tinggal pesen lagi." bujuk Kay.
Alya nampak sedang berpikir. Akhirnya,
__ADS_1
"Iya deh. Makan di sini aja. Ntar kalo gue pengen nambah, lo bayarin ya?" Alya memalak Kay tanpa malu-malu. Sikap premannya muncul.😆
"Tenang aja, beib. Apa sih yang gak buat kamu?!" gombal Kay, garing.
"Ciihh!" Alya mendengus, kesal dengan Kay yang sok menggombalinya.
"Mang, baksonya dua, es teh manisnya dua, sama orange jus satu." pesen Alya.
"Lo gak pesen?" tanya Alya pada Kay yang diam saja.
"Kan tadi udah kamu pesen, beib." ujar Kay, santai.
"Itu pesenan buat gue, bukan buat lo. Kalo mau, lo pesen aja sendiri." sahut Alya, cuek.
"Hahh!" Kay melongo.
"Ya udah. Gue masih punya duit dari Egi kok." Alya memakan bakso yang tadi dipesannya dengan tenang. Dua mangkok bakso, dua gelas es teh, dan segelas orange jus, sukses masuk ke perut tipis Alya.
Kay berdecak kagum.
"Kamu...laper apa maruk sih, beib. Badan kecil makannya banyak. Ckckckc!" Kay geleng- geleng kepala melihat porsi makan Alya yang luarrrrr biasaaaa.
"Eerrkkk! Alhamdulillah!" Alya mengucap syukur setelah bersendawa, sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.
"Pulang, yuk!" Alya ngeloyor pergi tanpa menggubris Kay yang terpelongo, bego. Lalu,
"Tunggu, beib. Aku bayar dulu." Kay buru-buru membayar bakso yang mereka makan tadi.
__ADS_1
"Eh, Mas...ini bakso yang dibungkus, ketinggalan." teriak mang Asep.
"Makasih, mang." Kay keluar menuju parkiran.
"Buruan, Ngil. Gue ngantuk nih!" Alya bersandar lesu di samping motor Kay.
"Apaan tuh Ngil?" tanya Kay, penasaran.
"Tengil. Lo bocah tengil." jawab Alya, malas.
"Ishh! Kejam amat, beib. Aku ganteng gini dibilang tengil. Panggil tuh yang manis dikit. Honey kek, sayang, atau cinta, gitu." Kay nyerocos lancar.
"Sape Lo?! Buruan pulang. Ngantuk." Alya menarik baju Kay agar cepat-cepat naik kemotornya. Dan motor Kay pun melaju santai pulang menuju rumah Egi.
"Beib! Beib!" panggil Kay pada Alya yang memeluk pinggangnya erat.
Kay merasa ada yang tak beres dipunggungnya. Kay merasa tubuh Alya oleng kekiri dan kanan. Kay pun berhenti di pinggir jalan.
"Beib! Bangun, beib! Haishh!" Kay mengacak- acak rambutnya, kesal.
"Nih cewek nyusahin amat. Udah makannya banyak kayak orang gak makan seminggu, mana tidurnya kayak kebo lagi. Haishh...gak ada anggun-anggunnya sama sekali."
Kay meratap kesal pada gadis yang tertidur dipunggungnya.
"Untung cantik lo. Kalo gak, gue buang lo ketempat sampah biar dipungut sama pemulung." Kay ngedumel sendiri.
*author note :
__ADS_1
"Eh bang, emang lo kata tuh cewek botol bekas apa? Pake dibuang ke tempat sampah segala. Jatuh cinta ama tuh cewek, bucin lo."😉*