
Kay menghentikan motornya disebuah rumah makan dipinggir pantai, diikuti Abby dan Arkan yang turut menghentikan kendaraan mereka ditempat itu.
"Kita makan dulu ya, guys!" ajak Kay yang langsung disambut baik oleh yang lain.
"Yuk, beib!" Kay merangkul bahu Alya, mengajaknya masuk kedalam.
Mereka duduk satu meja, dimana Kay dan Alya duduk bersebelahan.
Arkan yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa menghela napas panjang.
Setelah makan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Setengah perjalanan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kay dan Abby pun singgah disebuah bengkel kosong. Arkan juga ikut menghentikan mobilnya.
"Al, mending kamu ikut aku deh biar gak kehujanan." ujar Arkan.
Kay yang sedang mengelap wajah Alya pun diam, tak bergerak. Alya mengambil saputangan ditangan Kay dan gantian membersihkan wajah cowok itu dari basahnya air hujan. Sedangkan Abby dan Egi hanya diam memperhatikan mereka.
"Gak usah. Gue pulang bareng Kay aja." jawab Alya, santai. Tiba-tiba. Alya memegang perutnya sambil menatap Kay sendu.
"Kenapa, beib? Kamu sakit perut ya?" tanya Kay cemas. Tangannya spontan memegang perut Alya.
Alya menggeleng seraya nyengir. " Gue laper, Ngil." ujarnya dengan wajah tanpa dosa. Kay tersenyum, begitu juga yang lain.
"Tadi kan kita baru aja makan, Al. Bener-bener...lo ya?" Egi menunjuk-nunjuk Alya sambil geleng-geleng kepala karena tak habis pikir dengan sepupunya itu.
"Efek ujan, Gi. Kalo ujan gini perut gue emang bawaannya laper terus. Hee..." Alya nyengir lagi. Egi menepuk jidatnya, gemas.
"Nih, beib. Aku udah nyiapin cemilan buat kamu." Kay mengeluarkan kantong yang berisikan roti dan snack juga air mineral dari dalam ranselnya dan memberikannya pada Alya. Gadis itu pun menerimanya dengan senang hati dan tangan yang sangat sangat terbuka. Senyum manis tersungging dibibir mungilnya dan binar senang terpancar dari matanya. (Kok jadi lebay gini ya? Author jadi bingung sendiri.🙄)
"Dasar maruk!" gerutu Egi. Abby dan Arkan tertawa lebar.
"Kamu kok jadi doyan makan Al. Gak takut endut?" Arkan mengacak rambut Alya, gemas.
Kay yang melihat itu kontan melotot, geram. Sedangkan Alya cuek sambil menikmati cemilannya.
__ADS_1
"Suapin dong, beib." pinta Kay. Alya pun menyuapi Kay. Gantian Arkan yang cemberut, kesal karena sadar Kay tengah memanasinya.
"Gue juga mau dong, Al!" Egi akhirnya kepengen juga makan cemilan Alya.
"Nih, Gi. Lo juga Ar, By, nih kalo mau." Alya menyodorkan kantong cemilannya pada teman-temannya.
Mereka pun makan dan bersenda gurau sambil menunggu hujan reda.
"Beib, ntar lo jangan gak bales ya kalo gue chat?" kata Kay saat hujan mulai reda dan mereka sudah melanjutkan lagi perjalanannya.
"Kalo gue gak lagi sibuk ya, Ngil."
"Malem sebelum tidur pasti kamu gak sibuk lagi kan, beib?"
Alya diam.
"Beib?"
Masih diam.
"Beib?"
"Kita mulai pelan-pelan, beib. Aku akan sabar nunggu kamu kok." ucap Kay, bijak. Alya diam.
Kay menepuk pelan tangan Alya yang memeluknya dari belakang, seolah berharap Alya percaya dengan janji yang diucapkannya. Alya pun mempererat pelukannya.
Abby menghentikan motornya didekat Kay yang lebih dulu berhenti. Mereka sudah memasuki kota P, kota paling besar di pulau itu.
"Kenapa berhenti lagi, dek?" tanya Abby.
"Jangan bilang lo lapar lagi, Al?!" Egi menatap tajam sepupunya yang maruk banget.
Alya cuma cengengesan memamerkan deretan giginya yang putih rapi. Pengen rasanya Egi jitak kepala Alya saking gemes dengan tingkah gadis itu.
__ADS_1
"Kalian duluan aja, bang. Gue masih mau nemenin Alya belanja keperluannya."
"Kalo gitu, kita sama-sama aja. Sekalian juga ada yang mau gue beli'in." sahut Abby.
"Lo kalo mau duluan, duluan aja, Ar. Kami mau belanja dulu." Abby memberi tahu Arkan yang ikut berhenti.
"Ya udah. Gue duluan ya?" Arkan pamit sebelum berlalu pulang.
Kay, Alya, Egi dan Abby berjalan mengelilingi mall terbesar yang ada di kota P.
"Masih ada yang mau di beli, beib?" tanya Kay saat melihat isi belanjaan Alya yang hanya berisikan dua pack buku, satu kotak pulpen dan pensil juga sebuah tas.
"Gak."
"Ya udah. Yuk, pulang!" Kay menautkan jarinya ke jari Alya sehingga tangan mereka saling menggenggam.
"Gi, apa Kay dan Alya udah jadian?" tanya Abby pada Egi saat keduanya mengekori Kay dan Alya.
"Gak tau, bang. Yang jelas Kay sekarang jadi bucin banget." jawab Egi. Abby mengangguk, setuju.
"Bener, Gi. Tapi gak pa-pa, asalkan Kay hepi gue ikut seneng." kata Abby. Egi mengangguk, tersenyum.
"Akhirnya, gunung es itu cair juga sama cewek maruk."
Egi geli sendiri bila mengingat Alya yang maruk bisa membuat Kay yang biasanya cool dan cuek jadi bucin berat.
"Kenapa senyam-senyum, Gi? Abis obat ya?" tanya Abby heran melihat Egi terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Gue cuma lagi ngebayangin gimana caranya Alya yang kecil tapi maruk itu bisa cairin hati si gunung es macam Kay." sahut Egi.
Abby ikutan tertawa geli.
Cinta memang aneh. Kay yang dingin dan cuek, yang selalu jadi incaran para cewek cantik nan seksi bisa naksir berat sama cewek tengil nan maruk kayak Alya, yang jauh dari kesan anggun, apalagi seksi.
__ADS_1
Cinta memang buat Kay buta.😂