
"Aku kangen kamu, beib! Aku kangen banget sama kamu!"
"Lepasin gue, Ngil. Gue gak mau jadi trending topik hari ini." Alya mendorong pelan dada Kay.
Kay pun segera melepaskan pelukannya. Lalu, "Ikut aku, beib!"
Kay bergegas keluar dari mall sambil menarik tangan Alya.
"Mau kemana, Ngil?" tanya Alya ketika Kay memakaikannya helm. Alya lalu duduk diboncengan Kay.
"Kencan!" Kay menarik tangan Alya agar memeluknya erat.
Sepanjang perjalanan, Alya menikmati keindahan kota Bogor. Alya memperhatikan punggung Kay, menatap sendu sosok yang sangat dirindukannya itu.
"Kamu makin ganteng, Ngil. Wajar kalo banyak wanita yang mengagumimu. Aku jadi makin merasa gak pantes didekatmu."
Kay menarik tangan Alya agar memeluknya lebih erat.
Alya menghela napas berat. Kehadiran Kay membuat hatinya kacau balau.
Kay ternyata mengajak Alya ke kebun raya Bogor. Setelah memarkirkan motornya Kay menggenggam tangan Alya, mengajaknya masuk ke dalam kebun raya yang sangat terkenal itu.
"Wow! Benar-benar indah tempat ini, Ngil. Luas banget ya?"
Alya memandang takjub pemandangan indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kay tersenyum sambil menatap Alya.
"Masih indah kamu, beib!" gumam Kay.
"Aduh!" Kay meringis ketika Alya mencubit perutnya.
__ADS_1
"Jangan gombalin tantemu, Ngil. Ntar kualat." celutuk Alya.
Kay manyun.
"Kamu bukan tanteku. Aku gak mau kamu jadi tanteku." sungut Kay, kesal.
"Haish! Masih kolokan juga ternyata." Alya menepuk jidatnya, gemas.
"Sebaiknya ceritakan kenapa kamu bisa sampai nyasar di tempat ini, Ngil. Kamu bikin cemas semua orang, tau gak?" Alya mencoba mengalihkan pembicaraan. Mereka duduk disebuah bangku.
"Apa kamu juga cemas mikirin aku, beib?" tanya Kay balik.
Tangannya memeluk pinggang Alya dan kepalanya bersandar manja di bahu gadis itu.
"Menurut lo?"
Kay tersenyum kecut.
"Maaf kalo aku udah bikin kalian cemas." ungkapnya penuh sesal.
Kay mengangguk.
"Aku lakukan ini agar kita semua bahagia, beib."
"Aku tau." kata Alya cepat. Ditatapnya tajam manik mata milik Kay.
"Apa sekarang kamu bahagia, Ngil?" tanyanya lirih.
Kay menunduk, lalu menggeleng pelan.
"Aku gak bisa lupain kamu, beib." ucapnya jujur.
__ADS_1
"Aku juga, Ngil."
Kay mendongak, menatap Alya lekat.
"Biar aku saja yang berkorban, Ngil. Kamu harus bisa lupain aku. Cari seseorang yang baik untuk jadi pendamping hidup kamu."
"Jangan suruh aku lupain kamu, beib. Aku gak bisa. Sampai mati aku akan terus mencintai kamu." Kay menggenggam tangan Alya, menatapnya sendu, penuh pengharapan.
"Ngil, aku...akh!" Alya tak kuasa balas menatap Kay yang tatapan mata itu seolah menusuk tajam lubuk hatinya.
"Tatap aku, beib. Bilang kalo kamu juga masih mencintaiku."
Kay mengangkat dagu Alya, memaksa gadis itu untuk melihat kesungguhan hatinya.
"Aku...aku...mmfh!"
Mata Alya membulat. Kay ******* bibirnya tanpa permisi.
Semakin lama semakin dalam. Ciuman memaksa Kay perlahan melembut.
Argh! Mmfh! Alya tak kuasa menolak pesona Kay, karena Alya memang sangat merindukan bocah tengilnya itu. Alya mengalungkan tangannya di leher Kay, seakan memberi jalan bagi cowok tampan itu untuk lebih memperdalam ciumannya. Suasana sepi membuat Kay makin leluasa bermain dengan ciumannya.
"Aku tau kamu masih mencintaiku, beib. Aku tau itu."
Kay menghujami seluruh wajah Alya dengan ciumannya. Lalu kening mereka saling menyentuh. Kay melihat wajah Alya memerah, dan ia pun tersenyum. Dipeluknya erat tubuh mungil Alya dan membelai lembut rambut gadis itu.
"Aku akan memperjuangkan kamu, beib. Meskipun harus bersaing dengan tunanganmu yang sempurna itu, aku gak akan lepasin kamu lagi." janji Kay, tulus.
Alya tersenyum manis. Dengan manja ia bersandar di dada bidang milik Kay, meresapi kebersamaan mereka yang sudah lama mereka impikan.
"Kamu benar, Ngil. Aku gak bisa lupain kamu, dan aku juga masih sangat mencintaimu."
__ADS_1
"Mari kita sama-sama berjuang, Ngil." ujar Alya, mantap.
Kay mengecup lembut kepala Alya. Dan sore itu, Kay dan Alya menghabiskan hari mereka dengan penuh rasa bahagia.