
"Beib?" panggil Kay. Alya menoleh.
"Aku gak mau pulang, Ngil!"
Kay menggenggam lembut tangan Alya dan menciumnya dengan penuh perasaan.
"Kamu harus pulang, Ngil. Kasihan ibu nanti cemas mikirin kamu."
"Aku gak mau!"
"Beib..."
"Kalo kamu terus memaksaku, Ngil, lebih baik aku pergi saja." Alya berniat meninggalkan Kay, namun dengan cepat Kay menarik tangannya.
"Jangan seperti anak kecil, beib! Bersikaplah dewasa!" bentak Kay, membuat Alya terdiam.
"Sekarang katakan padaku, apa petunjuk dari istikharah-mu?" Kay kembali bersikap lembut.
Alya masih tertunduk diam.
"Beib!"
"Minggu depan aku akan dipertemukan dengan orang yang akan dijodohkan denganku."
Kay terpaku.
"Kami akan langsung ditunangkan, dan..."
"Dan?"
"Dan... segera menikah!"
"Secepat itu, beib? Dan kamu menerimanya?"
Alya mengangguk lesu. Ia pun mulai terisak. Mengingat pernikahan yang sebentar lagi akan dijalaninya dengan seseorang yang belum dikenalnya, membuat batin Alya sakit.
"Aku rasanya pengen mati, Ngil..."
"Hush! Istighfar, beib!"
__ADS_1
"Aku harus gimana, Ngil? Aku benar-benar gak kuat, rasanya pengen angkat tangan aja..."
"Di sana tuh...kameranya, beib!" Kay mencoba bergurau, mencairkan keadaan.
Alya menghela napas berat.
"Haishh! Pengen jedotin jidat ke mobil yang lewat deh nih!" ancam Alya kesal dengan Kay yang ngelantur.
Cowok tampan itu terkekeh mendengarnya. Disaat kalut seperti ini bisa-bisanya mereka ngelantur gak jelas gini.
"Kita cuma bisa berdo'a, beib. Semoga kamu gak berjodoh dengan cowok yang dijodohin sama kamu."
"He-eh! Mudah-mudahan aja yang dijodohin sama gue nanti ganteng kayak Suho. Aamiin!"
"Hah!!!" Kay menepuk jidatnya, lemas.
"Beib!" panggil Kay sebal. Matanya memutar malas, menatap Alya.
"Astaghfirullah! Gue halu!" Alya menjerit tertahan. Wajah sumringahnya, burem seketika.
"Ngil! Gue pengen bunuh diri aja!" teriak Alya, kesal.
"Ngil?!"
"Pasrah ajalah, beib! Serahin semuanya sama Allah."
"Kamu tega sama aku, Ngil." Alya menatap Kay tak percaya.
Kay mengernyit heran.
"Aku tega apa sama kamu, beib?" tanyanya, bingung.
"Tenyata cintamu sama aku cuma seujung kuku, Ngil. Kamu sama sekali gak mau memperjuangkan aku."
Kay mengacak rambutnya, kalut. Dia tak tau apa yang harus ia lakukan.
"Inilah alasannya gue gak mau punya pacar bocah, gak berani ambil resiko. Ngenesnya nasib gue!" Alya tertunduk lemah.
Hancur sudah harapannya. Kay benar-benar tak bisa ia andalkan. Sepertinya Alya memang harus pasrah menerima perjodohannya kali ini.
__ADS_1
"Maaf..."
"Ya sudahlah! Memang nasib gue kali harus nikah sama orang yang gak gue kenal. Mudah-mudahan aja cowok itu nanti beneran ganteng, seganteng Suho gue." Alya masih saja berpikir lebay.
Kay menatap Alya, sendu.
"Maaf, beib! Mungkin saat ini aku belum berani melawan kemauan ayahmu. Tapi aku pasti akan membawamu kembali padaku."
"Sebaiknya kita putusnya sekarang aja, Ngil. Gak mungkin kan kalo kita gak putus? Ntar gue di sangka selingkuh lagi sama lo."
Perkataan Alya sukses membuat Kay terperangah, tak percaya.
"Kamu...bercanda kan, beib?"
Alya menarik napas berat. "Aku harus kuat!"
"Denger ya bongil my honey, bunny, sweety, kitty! Lo gak siap kan disebut pebinor?!"
"Hah???" dengan tampang bloon Kay melongo, bego.
"Dasar bocah! " Alya menggumam kesal.
"Udahlah Ngil, capek gue ngomong ama lo. Percuma! Lo juga gak bakalan ngerti, otak lo belom nyampe situ. Masih bocah sih!"
"Alya!!!" bentak Kay, keras.
Membuat gadis yang duduk disebelahnya itu sampai terlonjak saking kagetnya.
"Paan sih, Ngil? Budek nih kuping gue!" sergah Alya bete. Tangannya mengorek-korek kupingnya yang nyaris pekak.
"Baiklah! Kita putus! Puas!!!"
Kay menghempaskan napas kesal. Dia benci Alya masih menganggapnya seperti anak kecil.
"Shiva aja yang jelas masih bocah gak mau dipanggil anak kecil, apalagi gue. Dasar Tante jelek!"
author note :
"Lah...itu sih 'Shiva' film anak-anak, Ladu Singh?! Hadeeehh!!? Dasar pasangan somplak! 🤦♀*
__ADS_1