I Love You Tante Cantik

I Love You Tante Cantik
Kok curhat juga?


__ADS_3

"Beib, aku mau tanya...boleh?"


"Tanya apa?"


"Mm...ee...kamu udah punya pacar belum, beib?" tanya Kay hati-hati takut Alya marah.


Alya menatap Kay, heran.


"Ngapain lo nanya-nanya? Lo naksir ama gue?" tanya Alya, balik.


"Emang boleh gue naksir lo, beib?" Kay balas menatap Alya dengan wajah sumringah. Alya menjitak kepala Kay, cepat.


"Lo masih kecil, Ngil. Kalo pengen punya pacar cari yang seumuran lo, bukan sama gue." sembur Alya, jutek.


"Kalo cinta kan gak mandang umur, beib?!" sanggah Kay sambil mengusap kepalanya yang benjol akibat terkena jitakan super Alya.


"Gue gak mau pacaran ama bocah, ribet. Lagipula gue baru aja putus dan saat ini belum pengen pacaran." Alya menunduk lesu.


"Kenapa kalian putus?"


"Dia selingkuh dengan sahabat gue."


Kay membelalakkan matanya, tak percaya. "Sahabat lo?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Alya mengangguk pelan. Kay menepuk bahu Alya, pelan.


"Dia bukan sahabat lo, beib. Seorang sahabat tidak mungkin sanggup menyakiti hati sahabatnya. Apalagi sahabat yang baik kayak lo."


"Gue mungkin terlalu naif, Ngil. Terlalu mempercayai mereka dan sering membiarkan mereka berduaan, mungkin itu yang membuat mereka berdua jatuh cinta. Semua ini karena kesalahan gue." Alya nampak makin terpuruk. Airmatanya mengalir deras jatuh dipipinya.


Kay merengkuh Alya, membawa Alya kepelukannya.


"Yang sabar ya, beib. Anggap aja dia bukan jodoh kamu. Pasti kamu akan menemukan seseorang yang lebih baik untuk kamu. Ya?" Kay membelai rambut Alya. Diusapnya perlahan pipi Alya yang basah.


"Ekhemm!" Egi berdehem, sengaja mengusik kebersamaan Kay dan Alya.


"Kenapa Alya nangis, Kay?" tanya Egi yang melihat mata Alya yang sembab. Alya bergegas pergi kekamarnya.


"Mantan siapa?"


"Ya mantan Alya lah, masak mantan tetangga." sahut Kay kesal. Egi terkekeh.


"Lo tadi nembak Alya ya?" tebak Egi. Kay mengernyit, heran.


"Kok lo tau?" tanya Kay balik.


"Ya taulah. Lo kan udah naksir Alya sejak dia datang ke rumah gue." Egi mengerling menggoda Kay.

__ADS_1


Kay melengos, malu-malu kucing.😁


"Eh Kay...sebaiknya kita bantu Alya move on deh. Kasihan dia, sekarang aja udah hampir sebulan gak ke kampus. Bokap ama nyokapnya udah gak tau lagi gimana membujuk Alya biar mau kuliah lagi." kata Egi yang prihatin dengan nasib sepupunya itu.


Kay mengangguk setuju. "Gue siap kalo soal itu, Gi. Gue akan berusaha bikin Alya move on dan ngelupain mantannya." janji Kay, mantap.


Egi mengacungkan jempolnya. "Gue juga bakal dukung lo jadian ama Alya, Kay. Tapi..."


"Tapi apa, Gi?" tanya Kay cepat. Tadi ia baru saja merasa senang karena tau Egi mendukungnya untuk pacaran dengan Alya. Tapi...


"Alya lebih tua dari lo, Kay. Dia seumuran bang Abby." Egi agak ragu, mengingat Kay yang usianya lebih muda dari Alya.


"Cuma beda tiga tahun, Gi. Belum beda tiga puluh tahun." tepis Kay. Kay sama sekali tidak mempermasalahkan umurnya, yang penting dia merasa benar-benar sudah jatuh cinta pada Alya sejak pertama kali bertemu.


"Setau gue...Alya gak suka dideketin brondong, apalagi sampai pacaran. Tipenya paling gak yang seumuran dia." jelas Egi.


"Tapi Alya nyaman-nyaman aja sama gue, Gi." timpal Kay. Egi mengangguk.


"Gue juga heran liat lo kok bisa cepat banget akrab sama Alya, padahal awalnya kan kalian berantem terus." kata Egi bingung sendiri.


"Emang gue jodohnya Alya kali, Gi!" sahut Kay sambil tersenyum penuh arti. Egi memutar bola matanya, malas.


"Suka-suka lo deh, Bejo. Susah ngomong sama bucin mah!" Egi melengos. Kay terkekeh geli.

__ADS_1


"Dasar bucin!"


__ADS_2