
Ramdani masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal. Tas kantor yang dibawanya dilemparkan ke sembarang tempat.
"Bu! Ibu!" teriak Ramdani, keras.
Alma yang sedang menyiram apotek hidup di halaman belakang spontan kaget. Dengan tergopoh-gopoh Alma berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ada apa sih , Yah? Bukannya assalamualaikum malah teriak-teriak, kayak tarzan aja." Alma masuk dan langsung nyerocos lancar.
Akhirnya gue tau guys kenapa Alya suka nyablak, turunan dari maknya tuh.🤭
"Telpon Alya. Suruh dia pulang sekarang." perintah Ramdani.
"Kenapa bukan ayah yang nelpon Alya. Ibu lagi nyiram tanaman."
"Ayah bilang telpon, telpon. Jangan banyak alasan." bentak Ramdani. Wajahnya merah padam menahan marah.
"Haishh!"
Akhirnya Alma pun menelpon Alya.
"Wa'alaikummussalam." Alma menjawab salam.
-_-
"Kamu dimana, nak?" tanya Alma.
-_-
"Suruh dia pulang sekarang!" perintah Ramdani dengan berbisik.
"Ayah menyuruh kamu pulang sekarang, nak."
-_-
"Ibu juga gak tau. Tadi ayah pulang langsung marah-marah. Gak tau kenapa? Padahal ibu gak lagi dapet loh?"
Ramdani menepuk jidatnya mendengar celotehan abstrak dari mulut istrinya.
Alma menoleh ke arah suaminya.
"Alya mau ngomong, Yah."
Ramdani pun langsung meraih ponsel dari tangan istrinya.
"Alya! Pulang sekarang jangan banyak alasan." katanya tegas.
-_-
"Ajak juga pria yang pergi sama kamu tadi."
....
Ramdani langsung memutuskan pembicaraan. Ponsel ia berikan lagi kepada Alma, istrinya.
"Ayah tadi ketemu Alya dimana? Dia pergi sama siapa? Sandy, Egi, Abby...atau Arkan?" tanya ibu, kepo.
"Ayah tadi lihat Alya lagi gandengan sama cowok, Bu. Ayah gak tau siapa pria itu. Yang pasti dia bukan salah satu dari nama yang ibu sebutkan tadi." wajah Ramdani terlihat sangat kesal.
"Waduh! Alamat badai datang melanda nih." gumam Alma.
"Kalau ketahuan Sandy, bagaimana ini, Bu? Ayah gak tau harus ngomong apa sama keluarga Bian." keluh Ramdani, gusar.
"Kita dengar penjelasan Alya dulu, Yah. Jangan langsung ambil kesimpulan yang belum tentu kebenarannya."
"Tapi tadi mereka nampak mesra sekali, Bu. Pake pegangan tangan lagi."
flashback on
Ramdani baru selesai mengajar dan berniat membeli bakso kesukaan istrinya ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya masuk ke dalam warung bakso.
"Alya?"
Dada Ramdani bergemuruh melihat Alya yang tampak gembira dan bermanja pada pria yang menggandengnya.
"Alya sama siapa itu? Selingkuhannyakah?"
Ramdani seperti pernah melihat dan mengenal pria itu.
Akhirnya Ramdani pulang tanpa membeli bakso. Amarahnya sudah menggunung diubun- ubun, tinggal menunggu waktu untuk menumpahkannya.
flashback off
Ramdani berusaha mengingat-ingat wajah pria yang tadi bermesraan dengan putrinya.
"Bu, kayaknya ayah pernah lihat dan mengenal pria bersama Alya tadi. Tapi dimana ya?" Ramdani berusaha mengingat-ingat. Alma ikutan mikir.
__ADS_1
"Jangan-jangan..."
eng ing eng
Terdengar suara motor masuk ke halaman rumah.
"Assalamualaikum! Bu, Alya pulang!" teriak Alya.
"Wa'alaikummussalam."
Alma bergegas menemui Alya di teras.
"Alya, ayah tadi lihat kamu..." Alma terdiam saat melihat pria yang datang bersama Alya.
"Assalamualaikum, Makcik!" Kay salim tangan Alma.
"Wa'alaikummussalam. Kay?" Alma terperangah, kaget melihat Kay yang ia kenal adalah teman Egi keponakannya.
Kay tersenyum dan mengangguk penuh hormat.
"Suruh cepat masuk, Bu! Ayah pengen ngomong." terdengar suara Ramdani dari dalam rumah.
"Ayah kenapa, Bu?" tanya Alya setengah berbisik.
"Tadi ayah lihat kamu jalan sama cowok. Apa cowok itu Kay?" tanya Alma.
Alya dan Kay saling pandang.
"Sebaiknya kita masuk sekarang." ajak Kay yang langsung paham situasi yang terjadi.
"Assalamualaikum, Pakcik!"
"Wa'alaikummussalam!" jawab Ramdani dengan tatapan tajam menatap Kay, lekat.
Tangan Kay yang hendak menyalaminya sama sekali tak digubrisnya. Kay pun akhirnya mengurungkan niatnya.
Alya dan Alma saling berpandangan.
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Ramdani tanpa basa-basi.
"Sejak saya masih SMK kelas XI, Pakcik."
"Hah?!" Ramdani terperanjat kaget. "Memangnya sekarang kamu sudah lulus..."
"Saya lulusan Akmil, Pakcik. Sekarang tugas di Yonif*** dekat kampus Alya."
"Berarti selama ini Alya sudah bohong pada kami?"
Ramdani menatap Alya penuh amarah.
"Kami putus setelah Alya memutuskan untuk menerima perjodohan yang kakek buat." masih dengan sikap tenang Kay menjawab setiap pertanyaan Ramdani.
"Sejak kapan kalian balikan lagi?" tanya Ramdani lagi.
"Sejak kami sadar bahwa kami sama-sama masih saling mencintai."
"Kapan itu?"
"Waktu kami bertemu di Bogor."
Alma menoleh ke arah Alya yang dari tadi diam menunduk.
"Apa kamu tau Alya sudah punya tunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah?"
"Iya."
"Dan kamu dengan kurang ajarnya mengambil Alya dari calon suaminya?" mata Ramdani memerah menatap Kay tajam.
"Saya sudah meminta Alya pada tunangan Alya."
"Hah!!!" bak mendengar petir disiang bolong Ramdani terkejut sampai mengelus dada.
"Benar-benar kurang ajar anak ini. Dia berani meminta Alya pada calon suaminya tapi tidak meminta izin dariku? Dia anggap apa aku ini?"
Ramdani mendengus kesal.
"Apa kamu sudah bertemu calon suami Alya?"
"Sudah, Pakcik. Bahkan saya juga sudah minta izin papa saya untuk bertemu pakcik. Maaf kalo kita akhirnya bertemu dalam situasi seperti ini." Kay tetap bersikap tenang, meskipun jantungnya sudah koprol jungkir balik sejak datang dan masuk ke dalam rumah Alya.
"Besar juga nyali anak muda ini. Apa karna dia seorang tentara sehingga berani melakukan ini?"
Ramdani memperhatikan Kay dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
"Saya ingin tau bagaimana tanggapan Sandy saat kamu menemuinya meminta dia melepaskan Alya." Ramdani jadi penasaran sendiri. Kepo juga si ayah.😋
__ADS_1
"Om Sandy tau tentang kami."
"Apa?! Om?!"
Ramdani menoleh ke arah Alma, tapi sang istri malah buang muka.
Kasian ayah! 🤭
"Kamu kenal dengan Sandy?" tanya Ramdani makin penasaran dengan pacar gelap anak gadisnya.
"Kulitnya emang agak gelap pak, tapi gantengnya bikin terang seluruh dunia. Cie...cieee...melek deh tuh mata."🤣
(Gak nyambung, Bambang.🤦♀)
"Om Sandy adiknya papa saya, Pakcik."
"Kamu...anaknya Bian?"
Kay mengangguk. Ramdani menepuk jidatnya, lemas. Perlahan Ramdani menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan.
"Tapi...bagaimana pun juga kamu tetap salah, nak...Siapa tadi namamu?"
"Nama saya Kay, Pakcik."
"Ah, iya. Nak Kay, coba katakan apa alasan kamu melakukan semua ini. Apa kamu tau, saya pasti tidak berani mengangkat wajah saya dihadapan papa kamu, terlebih lagi pada Sandy. Saya malu. Tindakan nekad kalian telah mempermalukan saya dan menjatuhkan harga diri saya. Saya benar- benar tidak bisa menerima ini." Ramdani tempak gusar. Raut wajahnya pun nampak tegang.
"Maafkan saya kalau sudah mengecewakan Pakcik dan keluarga. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin bahagia bersama Alya, seumur hidup."
"Apa kamu yakin bisa membahagiakan Alya?" tanya Ramdani, sangsi.
Kay mengangguk mantap.
"Saya akan membahagiakan Alya semampu saya, dan saya berjanji tidak akan pernah mengecewakan Alya, Pakcik." jawab Kay, optimis.
Ramdani menghela napas berat. Dia melihat Alya yang menatap Kay dengan wajah merona bahagia. Ungkapan hati Kay membuat Alya tersentuh.
"Saya harap Pakcik mau menerima saya sebagai calon suami Alya." pinta Kay, langsung tanpa kompromi dulu dengan Alya, membuat gadis itu tersentak kaget.
"Buseeet nih anak. Punya nyawa sembilan kali dia ya?" Alya geleng-geleng kepalanya. La...kayak kucing dong si Kay, Al.😺
Ramdani melotot mendengar permintaan Kay.
"Anak muda ini sama sekali gak ada takut- takutnya. Benar-benar turunan Bian ini." batin Ramdani.
"Saya belum bisa memutuskan mau menerima kamu apa tidak. Saya tidak main-main tentang jodoh Alya. Saya ingin yang terbaik buat anak saya. Dan untuk sementara saya minta kamu tidak menemui Alya dulu." Ramdani pun beralasan.
Kay mengangguk mengerti. "Saya akan menunggu restu Pakcik."
"Tunjukkan kalau kamu serius dengan perkataanmu, karena laki-laki itu dilihat dari sikap dan tanggung jawabnya bukan dari janji manisnya."
"Insahaalah, Pakcik. Saya akan bertanggung jawab penuh atas perkataan yang saya ucapkan tadi." janji Kay.
"Baiklah! Sekarang kamu pulang." Ramdani mengibaskan tangannya, mengusir Kay.
"Astaghfirullah! Setelah nyerocos sampe bibir gue jontor gini, gue tetep diusir juga. Segitu beratnya pengorbanan aku buat dapetin kamu, beib."
Kay melangkah gontai mendekati Ramdani.
"Saya pamit pulang, Pakcik." Kay mencium punggung tangan Ramdani.
"Hem!"
"Kay pulang dulu, Makcik." Kay mencium punggung tangan Alma.
"Hati-hati ya, Kay." kata Alma.
Lalu Kay beralih ke Alya yang menatapnya sendu.
"Aku pulang, beib." Kay mengusap pipi Alya yang tanpa Alya sadari airmatanya sudah mengalir dipipinya.
"Jangan menangis, beib. Tunggu aku ya?!" bisik Kay. Alya mengangguk dan tersenyum getir.
author : kayaknya ujian Kay belum berakhir nih.
alya : *j*angan gitu dong, thor. Kasian habib gue.
author : astaghfirullah, Alya! Kaget gue! (author kaget tiba-tiba alya nongol tanpa diundang.)
alya : please ya, thor. Jangan kasih ujian berat buat Kay. Gue gak tega lihat Kay menderita.
author : gak kok. aku bakal kasih Kay ujian yang mudah.
alya tersenyum sumringah : terima kasih thor.
author : kay gue suruh wall climbing di tugu monas. Gak berat kan? Tentara gitu loh.
__ADS_1
alya memutar bola matanya, jengah : tidur! tidur! tidur!!! 😴😴😴