
Kay mengecup lembut kening istri barunya. Malam ini dia akan kembali ke kompi karena besok harus berangkat ketempatnya bertugas.
"Cepat bangun ya, beib. Jangan nakal kalo udah bangun nanti. Tunggu aku kembali." Kay mencium tangan Alya yang masih nyaman dengan tidur lelapnya.
"Besok berangkat pagi ya, Kay?" tanya Alma pada menantu barunya. Baru tadi pagi resmi menjadi menantu.
"Iya, bu. Aku titip Alya ya? Kabari aku secepatnya kalo ada apa-apa sama Alya."
"Pasti ibu kabari, Kay. Kamu baik-baik di sana. Jangan lupa solat, jangan banyak pikiran. Percayakan Alya sama ayah dan ibu."
"Terimakasih, bu."
Alma menepuk-nepuk pelan bahu Kay.
"Ibu sendirian jaga Alya?" tanya Kay saat tidak melihat sosok ayah mertuanya.
"Gak. Sebentar lagi ayah datang. Tadi ayah pulang mengambil baju ganti ibu dan Alya."
Kay melirik jam tangannya.
"Bu, aku harus kembali ke kompi. Sebentar lagi jam malam, jadi aku harus kembali sebelum pukul sembilan."
"Pulanglah. Ingat pesan ibu, ya?"
Kay mengangguk dan tersenyum.
"Aku pamit, bu." Kay mencium punggung tangan Alma. Lalu kembali ke mencium tangan istrinya dan mengecup lembut kening Alya.
"Aku pulang ya, beib. Tunggu aku kembali ya?"
Berat langkah Kay meninggalkan Alya yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya.
Dan besok, sampai beberapa bulan ke depan Kay pun harus rela berpisah dengan Alya demi tugas yang diembannya.
__ADS_1
"Sudah mau pulang?"
Kay yang berjalan lesu meninggalkan kamar rawat Alya, menoleh ke asal suara.
"Selamat malam, Yah." Kay mencium punggung tangan Ramdani, sang ayah mertua.
"Sebentar lagi jam malam dan aku harus kembali ke kompi. Besok pagi aku sudah berangkat. Aku titip Alya ya, Yah."
"Alya aman di sini, nak. Semangat. Jalankan tugasmu dengan baik. Dan, ingat dengan janjimu!"
"Inshaallah!"
Kay salim lagi dengan ayah mertuanya sebelum pamit pulang ke kompi.
****
"Sudah pamitan sama istri lo, bro?" Ryan sengaja menggoda Kay yang baru pulang.
"Hm."
"Hm."
"Sama suster jaga?"
Mata Kay melotot tajam karena jengkel.
Ryan nyengir.
"Peace, bro. Yang semangat dong. Mentang- mentang jadi pengantin baru belum sempet malam pertama udah harus pisah, lo udah lemas duluan. Tunjukkin dong bahwa kita sebagai tentara harus kuat puasa."
"Puasa apa dulu nih?"
"Puasa bobo ama bini." ujar Ryan seraya nyengir tanpa dosa.
__ADS_1
"Sok sok'an lo bilang bobo ama bini...emang lo udah punya bini? Pacar juga gak punya lo." Kay melemparkan kaos yang tadi dipakainya tepat mengenai wajah Ryan.
"Cih, kecut amat bau lo, bro. Jangan-jangan... lo kerjain juga si Alya diem-diem ya? Habis olahraga lo tadi saat mertua lo lagi gak ada?" Ryan melempar balik baju Kay ke empunya sambil menggodanya.
"Gila aja, lo. Mana gue tega lakuin itu sama istri tercinta gue. Dia harus sehat dulu, baru enak gue ngerjainnya." celoteh Kay sekenanya.
Ryan terkekeh.
"Bener juga tuh. Pinter lo, Bro." Ryan mengangguk-angguk setuju.
"Ya, iyalah. Gue gitu loh." Kay menepuk dadanya, sombong.
"Udah. Tidur. Besok kita harus bangun pagi."
"Siap. Tapi lo jangan mimpi malam pertama ya, gue takut ntar lo ngigau terus lo meluk gue lagi."
"Dih, ge-er. Gue masih doyan kacang-kacangan ya bukan batangan." celutuk Kay, asal.
"Kali aja, Bro. Kan lo lagi ngigau."
"Kagak bakalan. Alarm di badan gue pasti bunyi kalo gue megang orang selain Alya gue." sahut Kay, lagi-lagi dengan nada sombong. Sengaja ia menggoda Ryan yang mencibir, iri.
"Sok lo. Padahal belum nyoba'in malam pertama juga lo sama Alya." cibir Ryan, keki.
"Eh, jangan salah lo. Lo gak tau aja gimana gue pacaran sama Alya?"
"Emang kalian pernah lakuin itu?" tanya Ryan tertarik mendengar ucapan Kay.
"Belum."
"Dasar lo. Buaya berwujud cicak." sungut Ryan kesal. Kay tertawa geli.
"Makasih." kata Kay puas.
__ADS_1
Ryan pun manyun.
"Seneng gue lihat lo ceria, bro. Gue gak nyangka cewek yang jadi inceran gue itu biang kerok penderitaan lo."