
Tak terasa dua bulan sudah Kay berada ditempat tugasnya. Dan selama itu pula disela-sela kesibukannya menjalani tugas dia selalu menghubungi ibu mertuanya untuk mengetahui keadaan istrinya yang masih belum sadar akan kehadirannya.
Ryan melihat Kay menghela napas berat setelah menutup telponnya.
"Ada kabar apa dari mertua lo, Bro?" tanya Ryan saat melihat raut kesal di wajah Kay.
"Alya lagi keluar sama om Sandy."
Ryan membuang pandangannya ke arah lain sambil mengulum senyum.
flashback on
Kay merasakan jemari yang ada digenggamannya bergerak, menunjukkan reaksinya.
"Beib! Kamu udah bangun, sayang?" Kay mengusap lembut kepala Alya.
Bola mata Alya mengerjap-kerjap perlahan seraya mengernyitkan keningnya seakan silau dengan cahaya lampu yang ada diruangan.
"Kamu siapa?"
"Hah?" Kay melongo.
"Apa-apaan ini?"
Cepat-cepat Kay memencet tombol untuk memanggil dokter.
Tak Lama dokter pun datang dan langsung memeriksa Alya.
"Alya sudah sadar, Kay?" ibu dan ayah datang yang baru datang bertanya pada Kay yang masih melongo, bingung.
"Bu, Yah, aku kenapa bisa di sini?" tanya Alya menatap kedua orangtuanya bingung.
"Kamu kemarin kecelakaan, nak. Sudah hampir sebulan kamu tidak sadarkan diri."
Alya masih kelihatan bingung.
Sedangkan Kay jangan ditanya lagi, suasana hatinya seakan jatuh terhempas dari tempat yang tinggi setelah tadi Alya tidak mengenalnya.
"Bapak, anak bapak sudah sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hasil ct scannya pun bagus."
"Tapi dia tidak mengenal saya, dok." ujar Kay lirih. Akhirnya Kay bersuara setelah diam beberapa saat.
Semua yang ada diruangan itu menoleh ke arah Kay, termasuk Alya.
"Kamu benar tidak mengenal Kay, Alya?" tanya Ramdani.
__ADS_1
Alya menggeleng.
"Enggak. Memang dia siapa?"
Kay menunduk sedih.
"Dia itu Kay, Alya. Masak kamu lupa? Dia teman Egi. Kamu ingat Egi kan?" Alma membelai lembut rambut putri kesayangannya.
"Taulah, Bu. Egi anaknya om Elmo kan?" jawab Alya.
"Tapi, aku emang gak kenal dia." Alya menunjuk pada Kay yang terus menunduk lesu.
Alma dan Ramdani saling pandang. Lalu menoleh Kay, prihatin.
"Anak saya kenapa, dok? Kenapa dia bisa mengenal kami tapi tidak bisa mengenal suaminya..."
"Apa, Yah? Dia suamiku? Aku kan tunangannya bang Sandy?" Alya terlihat kaget dan seolah tidak terima ketika Ramdani menyebut Kay sebagai suaminya.
Kay tersentak. Hatinya hancur mendengar Alya tidak mengenalnya tapi mengingat om Sandy sebagai tunangannya.
Kay pun pergi meninggalkan ruangan Alya dengan perasaan hancur.
"Kok ada ya yang kayak gitu?"
flashback off
"Tapi sampai kapan, bro. Sudah dua minggu, berarti dua kali gue pulang. Tapi Alya masih belum juga ingat sama gue." keluh Kay, sedih.
"Sialnya lagi, om Sandy kayaknya menikmati banget kebersamaannya bareng Alya. Sial! Sial! Sial!"
Kay meremas rambutnya kasar, meluapkan kekesalannya.
"Yang gue gak habis pikir kok bisa Alya ingat dengan semuanya, kecuali gue. Salah gue dimana, bro? Apa karna gue penyebab kecelakaan kami?"
Kay benar-benar terpuruk.
"Lo tau siapa penyebab kecelakaan kalian, bro. Dan dia sudah menerima hukuman dari kesalahannya itu." ujar Ryan lirih.
Sesal dihatinya karena sempat menyukai dan pernah berhasrat ingin dekat dengan Wulan, gadis yang telah mencelakai Kay dan Alya.
"Masih banyak gadis baik di dunia ini, bro." Kay menepuk pelan bahu Ryan.
"Bu guru Aisyah boleh juga, bro. Masak lo gak naksir?" goda Kay membuat Ryan nyengir malu.
"Naksir sih, bro. Ada niat juga pengen jadikan dia istri. Tapi... kayaknya dia naksir lo, deh."
__ADS_1
"???" Kay mengernyit, tak mengerti.
Ryan tertawa geli.
"Gini nih kalo udah jadi bucin tingkat dewa, diotaknya cuma ada nama Alya aja." Ryan menoel pelan kepala Kay.
flashback on
Ryan menatap lekat gadis cantik yang mengenakan seragam PNS, yang sedang senyum-senyum sendiri, seolah mengagumi sesuatu.
Ryan mengikuti pandangan gadis itu. Dan bisa ditebak, wajah tampan Kay yang terlihat dingin dan kaku yang telah menarik hati guru cantik itu dengan tidak bosan-bosan memandangnya.
Ryan menyikut pelan pinggang Kay yang spontan menggeliat geli.
"Apaan sih?!" Kay ngedumel, pelan. Matanya melotot kesal ke arah Ryan.
"Lo tetep fokus ke depan aja." bisik Ryan.
Kay mengernyitkan dahinya.
"Di depan ada ibu guru cantik sedang mengagumi lo." bisik Ryan lagi.
Kay masih mengernyitkan dahinya, bikin Ryan kezel plus mangkel.
"Dasar gak peka!" Ryan menjitak kepala Kay penuh emosi.
flashback off
"Dua bulan sudah kita di sini, bro. Lo masih juga gak peka kalo tuh bu guru naksir berat ama lo." Ryan garuk-garuk kepala, sebal dengan ekspresi datar Kay.
"Gue bukannya gak peka, bro. Gue cuma gak mau mikirin hal yang gak penting. Buat gue gak ada yang penting kecuali Alya. Serah deh kalo lo bilang gue bucin, yang jelas di hati gue cuma ada nama Alya." ucap Kay, serius.
Ryan terperangah takjub.
"Gue gak nyangka cinta lo buat Alya dalem banget, bro. Salut gue buat lo." Ryan mengacungkan jempolnya.
"Alya yang pertama dan terakhir buat gue, bro. Dia hidup dan mati gue."
"Meskipun Alya bakal jadi tante lo?" Ryan sengaja menggoda Kay sambil mengedipkan matanya, genit.
"Gue ajak om Sandy berantem kalo sampe dia berani mengambil Alya dari gue." tantang Kay, penuh emosi.
Ryan tertawa ngakak.
"Beruntungnya Alya di cintai seorang pria yang sangat mencintainya."
__ADS_1